Exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di AS berhasil menarik US$75,7 juta pekan lalu, mencatat kemenangan kedua secara berturut-turut. Bitcoin juga kembali menembus angka US$65.000 pada hari Senin seiring meningkatnya harapan bahwa pembicaraan antara AS dan Iran mungkin akan dimulai lagi.
Pemulihan ini terdengar besar, tapi sebenarnya tidak. Dana yang pulih sebesar US$273,1 juta sejauh ini hanya sekitar 3,3% dari total US$8,2 miliar yang keluar dari fund tersebut dalam delapan minggu sebelumnya.
Rebound Tipis setelah Outflow Rekor ETF Bitcoin
Data SoSoValue menunjukkan inflow terbaru menyusul pencatatan US$197,4 juta di pekan sebelumnya. Jika uang yang masuk lebih banyak daripada yang keluar, berarti para investor menjadi pembeli bersih dari fund tersebut.
Pemulihan mulai terlihat pada awal Juli, ketika fund ini mengakhiri 10 hari berturut-turut penarikan dana harian.
Meski begitu, lubangnya masih dalam. Bulan Juni menjadi bulan terburuk dalam sejarah dengan keluarnya dana sebesar US$4,5 miliar. Jumlah itu melampaui rekor bulan Februari 2025 yang mencapai US$3,56 miliar. Hampir 79% dari outflow bulan Juni berasal dari BlackRock’s iShares Bitcoin Trust (IBIT).
Total aset juga bercerita sama. Kini fund tersebut memegang sekitar US$77 miliar, padahal di pertengahan Mei sempat mencapai lebih dari US$104 miliar.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan update berita terbaru secara langsung
Bahkan di minggu positif ini pergerakannya tetap naik turun. Pada hari Senin saja, terjadi outflow US$424,7 juta—terbesar dalam satu hari sejak 26 Juni—karena ketegangan militer antara AS dan Iran kembali memanas. Namun, pembeli mulai kembali dalam empat sesi berikutnya.
Data Pasar BeInCrypto menunjukkan BTC bergerak di sekitar US$65.261. Harga naik 1,4% dalam sehari dan naik 5,2% selama sepekan, seiring adanya sinyal dari Washington dan Teheran bahwa negosiasi bisa kembali berjalan.
Jalan Panjang Emas atau Prospek Nol dari Citi?
Analis ETF senior Bloomberg Intelligence, Eric Balchunas, menilai ETF emas bisa menjadi peta terbaik untuk melihat masa depan. Baik Bitcoin maupun emas tidak memberikan bunga atau dividen, sehingga hanya sentimen yang mendorong harganya.
Balchunas menjadikan GLD, ETF emas pertama yang listing di AS, sebagai acuan. ETF ini sempat menjadi ETF terbesar di dunia pada 2011. Namun asetnya sempat jatuh dari sekitar US$76 miliar menjadi US$22 miliar. Kini, GLD kembali memegang hampir US$190 miliar. Setiap siklus membawanya ke level tertinggi baru.
IBIT juga mirip. Fund ini melewati US$100 miliar pada Oktober tahun lalu. Akan tetapi, sejak itu harga Bitcoin turun sekitar 48% dari puncak US$126.080.
“ETF Bitcoin mungkin mengikuti pola yang sama: kenaikan spektakuler, penurunan tajam, lalu pemulihan yang menguji kesabaran investor,” tulis Balchunas, seraya menyiratkan bahwa pola ini seperti dua langkah maju lalu satu langkah mundur.
Citigroup punya pandangan berbeda. Pada 1 Juli, bank ini memangkas target harga Bitcoin 12 bulannya dari US$112.000 menjadi US$82.000. Ini adalah pemangkasan kedua dalam setahun, padahal awal tahun, targetnya di US$143.000. Citi juga memperkirakan tak ada inflow ETF selama setahun ke depan karena hambatan aturan kripto di AS dan lemahnya permintaan institusional.
Tapi, CEO BlackRock Larry Fink tidak setuju. Ia kini menyatakan masa ‘washout’ telah lewat seiring arus dana yang kembali positif.
Lantas, siapa yang tepat? Pergerakan dana mingguan ini pasti akan terus menjadi perhatian. Namun, sejarah pergerakan emas menunjukkan bahwa siklus beberapa tahun—bukan hanya data tujuh hari—yang bisa menentukan arah besar berikutnya untuk Bitcoin, apalagi jika pasar obligasi memperhitungkan risiko kenaikan suku bunga The Fed yang berulang.









