Coinbase Jual ‘Data Geo-Tracking’ Pengguna ke Lembaga Imigrasi AS

Diperbarui oleh Lynn Wang
Ringkasan
  • Menurut sebuah laporan baru-baru ini, Coinbase telah menjual layanan pelacakan kripto ke pemerintah AS.
  • Perangkat lunak ini bahkan memungkinkan data pelacakan geografis historis, meskipun kemampuannya secara spesifik belum jelas.
  • Coinbase tertarik pada aspek kepatuhan dan regulasi, tetapi kasus ini akhirnya telah menuai kritik dari publik.

Coinbase telah menjual perangkat lunak ke Immigration and Customs Enforcement (ICE) Amerika Serikat yang memungkinkan mereka untuk melacak riwayat transaksi kripto.

Perangkat lunak ini berfungsi untuk melacak transaksi yang dilakukan melalui beberapa aset kripto, termasuk Bitcoin, Ether, dan Tether.

The Intercept melaporkan bahwa bursa tersebut telah menjual data pelacakan geografis dan informasi lainnya ke ICE, yang notabene adalah sebuah lembaga kejahatan lintas batas negara dan imigrasi ilegal setempat. Publikasi tersebut mengutip dokumen kontrak yang telah dibagikan dengannya.

Coinbase Juga Menandatangani Kesepakatan yang Lebih Kecil dengan Lembaga Lain

Kontrak tersebut ditandatangani pada bulan September 2021 dengan nilai maksimum US$1,3 juta. Faktanya, ini bukanlah kesepakatan pertama yang perusahaan buat dengan pemerintah AS. Ada beberapa kesepakatan berskala kecil lain yang telah mereka tandatangani dengan lembaga lainnya.

Coinbase Tracer adalah rangkaian perangkat lunak yang memungkinkan klien sektor pemerintah dan swasta untuk melacak transisi blockchain. Tujuannya adalah untuk memungkinkan pihak berwenang dan entitas yang tertarik untuk “menyelidiki kegiatan terlarang termasuk pencucian uang dan pendanaan teroris”, serta “menghubungkan alamat [cryptocurrency] ke entitas dunia nyata.”

Namun, kontrak tersebut juga memungkinkan penyediaan riwayat data pelacakan geografis yang sebelumnya terjadi. Hal tersebut mungkin memiliki efek paling signifikan.

Bursa Mengklaim Data Berasal dari Sumber Publik

Seorang juru bicara Coinbase, Natasha LaBranche, mengatakan bahwa data tersebut mengambil informasi dari sumber publik dan “tidak menggunakan data pengguna Coinbase.” Akan tetapi, dia tidak mengungkapkan tentang bagaimana cara ICE menggunakan Coinbase Tracer.

Coinbase juga telah menjual layanan serupa ke Drug Enforcement Administration, Internal Revenue Service, dan Secret Service. Terlebih lagi, para eksekutif sudah mengungkapkan bahwa mereka bermaksud untuk mematuhi persyaratan pemerintah dan mereka akan melacak penjahat dunia maya yang menggunakan kripto. Selain itu, Coinbase juga telah meluncurkan sebuah layanan intelijen untuk kepentingan kepatuhan kripto.

Bursa ini telah melakukan upaya untuk mematuhi peraturan know your customer (KYC) dan anti pencucian uang (AML), sebagaimana yang beberapa bursa lain lakukan.

Belakangan ini, Coinbase juga tengah menjadi berita utama akibat keputusannya untuk mematuhi regulasi khusus pengguna berkebangsaan Belanda. Hal itu mengakibatkan diberlakukannya persyaratan pengumpulan informasi pribadi, seperti alamat.

Para pengguna Belanda sekarang harus menyerahkan data seperti nama dan alamat lengkap saat melakukan transaksi di luar bursa. Sebenarnya, ada sejarah panjang terkait kontroversi seputar Coinbase. Meskipun demikian, bursa ini masih terus menjadi salah satu bursa terpopuler hingga hari ini.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.