Steve Eisman telah melepas saham Google yang sudah lama ia pegang demi mengurangi eksposur ke artificial intelligence (AI). Investor yang dulu melakukan short pasar perumahan 2008 ini sekarang memegang uang tunai, serta memberi peringatan bahwa seluruh pasar kini sudah seperti satu taruhan AI saja.
Ia belum membeli pengganti. Eisman menuturkan saham-saham defensif tidak akan berhasil, karena investor hanya menginginkan AI atau tidak ingin apapun.
Eisman Jual Google Dekat Rekor Tertinggi
Berbicara di Squawk Box CNBC, mantan manajer portofolio Neuberger Berman itu menyebut keputusan keluar ini dilakukan dengan sengaja. Ia membangun reputasi dengan melakukan short di subprime mortgage saat di FrontPoint Partners.
“Saya menjual Google saya beberapa bulan lalu. Saya sudah punya Google sejak lama. Saya bahkan tidak ingat sudah berapa lama saya punya Google, tapi saya merasa ingin memangkas eksposur saya terhadap AI,” ujar Eisman.
Sejauh ini, waktunya terbilang bagus. Alphabet mencapai puncak di US$408,61 pada 18 Mei, rekor tertingginya. Saham tersebut ditutup di US$319,74 pada 24 Juli. Artinya sudah turun sekitar 20% dalam dua bulan.
Satu sesi membawa dampak kerugian paling besar. Alphabet turun 7,1% pada 23 Juli, sehari setelah laporan pendapatan Q2. Perusahaan baru saja meningkatkan panduan belanja modal 2026 ke kisaran US$195 miliar sampai US$205 miliar.
Eisman tidak memilih rotasi ke instrumen yang lebih aman. Ia pun menjelaskan alasannya dengan singkat.
“Orang hanya mau beli AI atau tidak mau sama sekali. Namun mereka juga tidak mau pindah ke saham-saham seperti Clorox,” tutur dia.
Uang tunainya pun masih menganggur. “Saya hanya duduk diam… Saya pegang uang tunai,” katanya. Ia tidak memperkirakan perdebatan AI ini segera selesai “dalam dua minggu ke depan.”
Mengapa Eisman Menyebut Pasar Hanya ‘Satu Taruhan’
Kekhawatirannya lebih soal konsentrasi, bukan valuasi.
“Semuanya satu taruhan saja. Benar-benar satu,” terang Eisman.
Ia lalu menguraikan hitungan atas portofolio standar.
“Bahkan orang yang merasa sudah terdiversifikasi karena punya 60% saham dan 40% obligasi, nyatanya mereka tidak benar-benar terdiversifikasi… lebih dari 50%… berkaitan dengan teknologi dan AI. Dan dari 40% obligasi, sebagian besar penerbitan obligasi baru juga terkait AI,” papar dia.
Apakah Angka Eisman Sesuai Fakta?
Bagian untuk saham bisa dibilang benar. Information Technology menyumbang 37,19% dari S&P 500 pada 24 Juli, dan Communication Services menambah 9,34%. Total menjadi 46,5%.
Tambahkan Amazon dan Tesla yang terdapat di Consumer Discretionary, maka angkanya mencapai 51,5%. Jadi, klaim “lebih dari 50%” milik Eisman memang bisa benar — meskipun hanya jika definisinya agak longgar.
Konsentrasinya memang nyata. Sepuluh konstituen terbesar mencakup 36,85% dari indeks tersebut.
Bagian obligasi kurang meyakinkan. High Technology hanya mengisi 14,2% penerbitan obligasi korporasi AS kuartal dua menurut SIFMA. Sektor Finansial memimpin dengan 46,4%. Jadi AI belum jadi “mayoritas” untuk penerbitan baru obligasi tersebut.
Namun inti argumen Eisman tetap berlaku, dan data resmi memperkuatnya. Bank of England melaporkan bulan ini lima perusahaan AI hyperscaler hanya memegang 3% dari total outstanding obligasi investasi AS per akhir 2025, tapi sudah mewakili lebih dari 15% penerbitan tahun ini hingga awal Mei.
Perubahan di high-yield bahkan lebih tajam. Para penerbit itu mengambil 41% penerbitan high-yield non-refinancing AS tahun ini, meski bobot indeksnya cuma 1%.
Ukuran dari setiap deal menjelaskan laju penerbitan yang cepat. Amazon menerbitkan surat utang sebesar US$37 miliar pada 10 Maret, menjadi penerbitan terbesar menurut dokumen SEC. Meta berhasil mengumpulkan US$30 miliar pada Oktober lalu dan US$25 miliar lagi pada April.
Tapi ada satu catatan di dokumen resminya. Hasil penjualan disebutkan digunakan untuk tujuan umum perusahaan, jadi utang ini tidak secara khusus ditandai sebagai pembiayaan AI.
Akankah Koreksi Terjadi Jika AI Gagal?
Saat ditanya apa yang terjadi jika AI gagal secara komersial, Eisman menjawab lugas. “Saya pikir kita bakal mengalami koreksi besar,” ucap dia. Ia memilih tidak memperkirakan besarnya.
“Yang… menakutkan bagi saya adalah semuanya satu taruhan saja. Jadi AI harus benar-benar sukses,” tambahnya.
Bank sentral sudah mengingatkan hal yang sama. Bank for International Settlements memperingatkan pada bulan Juni bahwa pasar pendapatan tetap adalah “salah satu kerentanan yang jelas” jika hyperscaler mengurangi belanja modal.
Apa Artinya untuk Aset Kripto
Aset kripto masuk dalam kelompok risiko yang sama. Bitcoin (BTC) diperdagangkan di kisaran US$64.980 dan turun sekitar 45% dalam satu tahun terakhir.
Keterkaitannya terlihat pada bulan Juni, ketika sebuah penjualan besar-besaran saham Big Tech ikut menyeret Bitcoin turun. Aliran dana ritel lebih banyak masuk ke ETF semikonduktor daripada fund kripto tahun ini.
Pihak lain juga melihat keterkaitan serupa. Hedge fund asal Cina mulai melepas saham pemenang AI dalam rotasi yang terlihat jelas, dan seorang peramal bubble tahun 2008 memperingatkan soal potensi penurunan hingga 70%.
Di Mana Teori Ini Mulai Goyah
Eisman tidak memprediksi akan terjadi crash. Ia menyatakan dirinya tidak akan melakukan short pada pasar ini, dan ia yakin teknologinya memang akan berjalan.
“Ini akan jadi… sesuatu yang benar-benar bagus. Tapi itu bukan berarti semua pihak akan berhasil,” ujar dia.
Celah inilah yang menjadi risiko. AI bisa saja sukses sebagai teknologi, sementara perdagangan yang terbentuk di sekitarnya tetap saja lepas kendali.
Beberapa waktu ke depan akan jadi ujian kilat baginya. Microsoft dan Meta akan melaporkan pendapatan pada 29 Juli, dan Amazon menyusul pada 30 Juli. Tiga kabar terbaru soal belanja modal akan hadir dalam 72 jam.









