Fidelity Digital Assets mengungkap bahwa AI agent mungkin tidak akan terkonsolidasi di blockchain publik, dan menyebut risiko itu sebagai salah satu potensi risiko terbesar bagi tesis AI di sektor aset kripto.
Peringatan ini muncul beberapa hari setelah Grayscale menyebut 4 jaringan blockchain yang berpotensi mendapatkan manfaat dari adopsi artificial intelligence (AI).
Fidelity Soroti Risiko pada Tesis AI Agent di Kripto
Analis Riset Senior Max Wadington menerbitkan laporan Fidelity pada 19 Agustus. Ia memasukkan skenario ini sebagai salah satu dari enam risiko struktural bagi tesis AI dan aset digital.
Wadington memaparkan bahwa sistem tertutup milik perusahaan teknologi besar dan platform fintech bisa menyerap aktivitas yang sama karena punya keunggulan dari sisi performa, biaya, pengalaman pengguna, serta kejelasan regulasi.
“Walaupun AI mendorong peningkatan signifikan dalam aktivitas ekonomi digital secara keseluruhan, tidak ada jaminan bahwa blockchain publik akan mampu mengambil porsi yang berarti dari aktivitas itu,” ujar dia.
Pernyataan ini muncul setelah komentar dari Head of Research Grayscale, Zach Pandl, yang mengatakan adopsi AI yang semakin luas akan menciptakan permintaan yang bisa diakomodasi dengan baik oleh blockchain publik.
Ia menyebut Ethereum (ETH), Solana (SOL), Worldcoin (WLD), dan Bittensor (TAO) sebagai kandidat kuat untuk tiga area permintaan tersebut. Pandl membagi permintaan tersebut ke dalam kategori agentic finance, pencatatan yang terverifikasi, dan AI terdesentralisasi. Ia berpendapat bahwa sistem tradisional tidak dirancang untuk kebutuhan yang akan dihasilkan oleh AI.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Risiko Lain yang Ditegaskan oleh Fidelity
Risiko kedua berkaitan dengan pembayaran. Laporan tersebut menyoroti bahwa pembayaran dapat menghasilkan volume transaksi yang besar, namun biasanya menghasilkan biaya yang relatif rendah dan harus bersaing dengan institusi keuangan besar serta platform teknologi yang sudah mapan.
Dampaknya, aktivitas pembayaran yang lebih tinggi bisa meningkatkan adopsi dan penggunaan, terutama bagi penerbit stablecoin, meski tidak selalu berbanding lurus dengan akumulasi nilai untuk native token, khususnya pada layer dasar blockchain.
“Penerima manfaat ekonomi utama dari pertumbuhan pembayaran kemungkinan adalah penerbit stablecoin dan penyedia layanan terkait, bukan jaringan blockchain dasarnya,” terang laporan itu.
Risiko lain juga berkaitan dengan tesis yang sama. Wadington mengatakan keluaran software yang lebih banyak tidak berarti otomatis menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar.
Ia pun menjelaskan bahwa diferensiasi teknis dapat melemah seiring AI membuat proses pengembangan menjadi komoditas. Karena itu, likuiditas, distribusi, keamanan, dan kepercayaan menjadi keunggulan utama yang bertahan lama.
Keamanan sendiri justru berubah menjadi faktor pembeda dalam persaingan. AI menurunkan biaya untuk menemukan celah keamanan sekaligus menurunkan biaya penulisan kode.
Komponen kepatuhan melengkapi daftar risiko. Sistem yang menawarkan kerangka kerja identitas dan izin yang lebih jelas dapat lebih cocok untuk adopsi institusional.
Fidelity tidak memprediksi salah satu dari hasil di atas. Perusahaan ini menempatkan semuanya sebagai risiko yang bisa memengaruhi seberapa besar nilai yang diserap oleh chain publik.
Langganan channel YouTube kami untuk menyaksikan pakar dan jurnalis membagikan wawasan mendalam









