Pengendalian diri dalam ruang kripto merupakan kunci utama untuk bisa menavigasi lanskap aset digital yang dinamis. Gagal dalam melakukannya, kerap kali menimbulkan kerugian yang tidak sedikit dalam waktu singkat. Seperti yang terungkap dalam laporan Lookonchain. Salah seorang trader terjebak dalam fear of missing out (FOMO) yang pada akhirnya membuatnya kehilangan dana hampir Rp1 miliar hanya dalam waktu 2 jam.
Trader tersebut membeli token Miniperplx AI (MPLX) selama 2 kali saat harganya melonjak. Namun 2 jam berikutnya ketika token ambruk, trader itu melakukan panic selling yang menyapu portofolio investasinya sebanyak US$59 ribu atau sekitar Rp942 juta.
“Jangan membuat kesalahan perdagangan yang sama dua kali,” tulis Lookonchain.
Kasus tersebut memantik respons yang beragam dari komunitas maya. Salah satu akun di X mengatakan bahwa kasus klasik FOMO yang mengarah pada perdagangan emosional merupakan awal mula terjadinya bencana.
Karena, alih-alih bereaksi terhadap sensasi jangka pendek. Setiap trader harus fokus pada strategi saat akan masuk. Selain itu, manajemen risiko dan keyakinan dalam perdagangan juga harus menjadi modal.
“Jika Anda tidak memiliki rencana sebelum masuk, pasar akan membuat rencana untuk Anda -dan itu tidak akan menguntungkan,” tulisnya.
MPLX Merupakan Token Kripto Baru
MPLX sendiri merupakan token baru yang memulai debutnya di decentralized exchange (DEX). Tidak banyak informasi yang tersaji terkait token tersebut. Namun berdasarkan data DEXScreener, token MPLX saat ini sudah memiliki kapitalisasi pasar sebesar US$1,7 juta.
Saat penulisan, harganya dalam 6 jam terakhir sudah terkerek 1.181%. Sebagai catatan, kondisi yang dialami oleh trader tersebut sejatinya bukanlah hal baru. Karena berdasarkan hasil survei yang digelar Kraken, 80% holder kripto membuat keputusan investasi berdasarkan fear, uncertainty, doubt (FUD) dan juga FOMO.
Laporan tersebut mengatakan bahwa mayoritas pemegang kripto khawatir kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari aset yang sudah dimiliki, ketimbang kehilangan peluang baru.
Selain itu, investor pria sepertinya lebih rentan terhadap FOMO ketimbang investor wanita dan mereka yang berusia muda berpikir bahwa mereka telah melewatkan keuntungan besar jika tidak mengikuti pasar. Sedangkan kelompok usia di atas 60 tahun, percaya diri bahwa keuntungan yang lain masih akan datang, yang menunjukkan optimisme terhadap pasar.
Bagaimana pendapat Anda tentang perdagangan salah seorang trader yang kehilangan hampir Rp1 miliar akibat FOMO ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!
Penyangkalan
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.