Forking Jadi Solusi Do Kwon untuk Hidupkan Kembali Ekosistem Terra

Bagikan Artikel
Ringkasan
  • Do Kwon, CEO Terraform Labs sekaligus founder proyek Terra, mengusulkan forking jaringan Terra menjadi rantai baru.

  • Menurut usulannya, kedua rantai tersebut akan berjalan berdampingan usai terjadinya proses fork.

  • Meski Kwon menilai usulannya ini adalah ide cemerlang, tetapi Changpeng Zhao menganggap bahwa bahwa forking tidak lebih baik dibandingkan dengan melakukan buyback dan burning.

Trust Project adalah konsorsium organisasi berita internasional berdasarkan standar transparansi.

Do Kwon kini akhirnya memecah kesunyian dengan menulis “Terra lebih dari UST”, setelah sebelumnya akun Twitter pribadinya senyap sejak 14 Mei. Sang founder & CEO Terraform Labs (TFL), entitas di balik blockchain Terra, pada 17 Mei 2022 secara resmi mengusulkan forking jaringan Terra menjadi rantai baru.

Pria Korea Selatan itu mengedarkan proposal baru dalam sebuah kiriman di forum diskusi Terra setelah kehancuran native token Terra (LUNA) dan stablecoin TerraUSD (UST). Proposal itu akan membuat 1 miliar token untuk didistribusikan di antara para pemangku kepentingan untuk memberi insentif kepada mereka agar tetap tinggal dan membangun kembali di ekosistem Terra.

“Kegagalan pasak UST [terhadap dolar Amerika Serikat (AS)] adalah momen peretasan DAO Terra. Ini kesempatan untuk bangkit kembali dari abu,” ungkap Do Kwon dalam kiriman tersebut.

“Rantai Terra seperti yang ada saat ini harus bercabang [forked] menjadi rantai baru tanpa stablecoin algoritmik yang disebut ’Terra’ (token Luna – $LUNA), dan rantai lama disebut ‘Terra Classic’ (token Luna Classic – $LUNC). Kedua rantai ini akan hidup berdampingan,” kata Do Kwon di Twitter.

Solusi Terbaik Hidupkan Kembali Ekosistem Terra


Rencana distribusi token LUNA dari rantai baru Terra

Do Kwon menilai hal ini merupakan solusi terbaik dan menciptakan jalur yang paling layak untuk menghidupkan kembali ekosistem Terra. Fork sepenuhnya akan menghentikan stablecoin UST yang sempat dibangga-banggakan oleh Do Kwon dan sebagai gantinya akan fokus pada pembangunan aplikasi decentralized finance (DeFi) di Terra.

$LUNA baru akan dikirimkan ke $LUNC stakers, holders, para pemegang UST tersisa, dan para app developer esensial. Crypto wallet TFL diklaim akan dihapus dari airdrop ini, sehingga menjadikan Terra sebagai rantai yang sepenuhnya dimiliki oleh komunitas.

Ide ini dilandasi dengan sejumlah klaim bahwa komunitas LUNAtic tidak tertandingi dalam semangatnya. Kemudian kumpulan para bakat developer di Terra lebih luas dan lebih dalam daripada kebanyakan ekosistem. Serta, blockchain Terra sangat kuat sebagaimana dibuktikan oleh peristiwa baru-baru ini.

Proposal tersebut akan disiapkan untuk governance vote pada 18 Mei 2022 waktu Asia. Jika proposal itu diloloskan, maka fork akan dikoordinasikan dengan para validator pada 27 Mei mendatang.

Beberapa pihak mengatakan mereka akan mendukung rantai baru Terra, tetapi yang lain berpendapat bahwa rencana tersebut tidak adil. Pasalnya, hal ini dapat sangat menguntungkan investor yang membeli LUNA dalam jumlah besar dengan harga beberapa sen lebih banyak daripada mereka yang membeli token LUNA ketika nilainya masih di atas US$100. 

Demi mengatasi terkait hal ini, Do Kwon mengusulkan untuk menahan dua snapshot. Pertama, sebelum runtuhnya stablecoin UST, dan yang kedua setelah kejadian itu, untuk mengirimkan token baru dalam jumlah yang setara.

CZ Tidak Setuju dengan Ide Forking Terra

Sebelumnya pada 14 Mei, Changpeng ‘CZ’ Zhao, founder & CEO Binance, mengungkapkan bahwa forking tidak menciptakan nilai apa pun pada fork baru, dibandingkan dengan melakukan buyback dan burning.

Usai Do Kwon mengumumkan rencana forking Terra, CZ melempar tweet berisi ‘SMH’ yang merupakan singkatan dari shaking my head, istilah yang digunakan ketika kita merasa kesal atau kecewa, sehingga hanya bisa geleng-geleng kepala.

80.081 BTC Habis untuk Selamatkan TerraUSD (UST)

Pada kesempatan yang berbeda, Luna Foundation Guard (LFG), organisasi nirlaba yang dibentuk untuk mendukung ekosistem blockchain Terra dan stabilitas stablecoin TerraUSD (UST), akhirnya pada Senin (16/5) pukul 16:05 WIB mengungkapkan rincian terbaru tentang cadangan Bitcoin dan kripto lainnya yang mereka kelola.

Betapa mengejutkannya, LFG yang semula memiliki cadangan Bitcoin dan kripto bernilai US$3,18 miliar (Rp46,1 triliun) pada 7 Mei 2022, kini hanya tersisa US$268,37 juta (Rp3,9 triliun). Lebih jelasnya, saat ini hanya tersisa 313 BTC saja atau setara US$9,3 juta (Rp136,5 miliar) dari sebelumnya mencapai 80.394 BTC atau setara US$2,8 miliar (Rp41,8 triliun).

Namun, persoalannya, sejumlah pihak skeptis karena publik tidak memiliki bukti apakah LFG benar-benar telah menggunakan US$3,1 miliar itu untuk mempertahankan pasak UST terhadap dolar AS atau tidak.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Share Article

Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.

Ikuti Penulis