Rilis Sistem Klasifikasi untuk Analisa Kripto, Goldman Sachs Gandeng MSCI dan Coin Metrics

4 November 2022, 18:59 WIB
Diperbarui oleh Lynn Wang
4 November 2022, 23:22 WIB
Ringkasan
  • Goldman Sachs pada hari Kamis (3/11) umumkan peluncuran sistem klasifikasi untuk analisa kripto yang dinamakan Datonomy.
  • Dalam hal ini, raksasa keuangan Wall Street itu menjalin kolaborasi dengan MSCI dan Coin Metrics.
  • Datanomy diharapkan bisa bermanfaat bagi para klien institusional karena membawa transparansi ke pasar kripto.

Goldman Sachs, raksasa keuangan Wall Street, masuk lebih dalam ke dunia kripto. Mereka pada hari Kamis (3/11) mengumumkan peluncuran sistem klasifikasi untuk analisa kripto yang dinamakan Datonomy.

Layanan itu akan mengklasifikasikan koin dan token kripto berdasarkan cara penggunaannya. Hal ini digadang-gadang akan sangat bermanfaat bagi para klien institusional karena dapat membawa transparansi ke pasar mata uang digital. Untuk memuluskan aksinya, Goldman Sachs menggandeng MSCI dan Coin Metrics.

Menyambut hal ini, Head of Marquee Client Strategy dan Distribution Goldman Sachs, Anne Marie Darling, mengatakan bahwa kerja sama yang terjalin menyediakan standar bagi para klien untuk bisa melakukan analisa aset kripto secara lebih luas, termasuk di antaranya platform decentralized finance (DeFi) dan smart contract.

“Kolaborasi ini menyatukan keahlian MSCI yang selama ini fokus pada layanan pendukung untuk pembuat keputusan penting, kecerdasan dari perusahaan intelijen kripto Coin Metrics, serta platform inovatif Goldman Sachs, untuk membantu memecahkan masalah bagi para klien,” jelas Anne Marie Darling.

Dengan adanya kerangka kerja yang konsisten, hal itu akan mendorong kemampuan para investor untuk mengevalusi pasar. Sehingga, investor pada akhirnya akan lebih mudah membaca bagaimana pasar kripto bergerak serta bagaimana kinerja dan portofolio dari masing-masing koin dan token kripto itu.

Managing Director Global Head of Derivatives Licensing dan Thematic Indexes MSCI, Stephane Mattatia, menambahkan bahwa mereka memanfaatkan pengalaman dalam sistem klasifikasi ekuitas untuk menawarkan alat investasi yang efisien guna membantu klien memahami tren aset digital.

“Identifikasi peluang investasi serta mengukur eksposur portofolio pengguna untuk mengungkap faktor pendorong dan risiko kripto bisa dilakukan lewat Datonomy,” ungkap Stephane Mattatia.

Goldman Sachs Menjadi Bank yang Ramah Kripto

Sejak Maret lalu, Goldman Sachs sudah mentasbihkan diri sebagai bank ramah kripto. Hal itu dikarenakan mereka menjadi raksasa perbankan asal Amerika Serikat (AS) pertama yang memfasilitasi transaksi kripto dengan mekanisme over-the-counter (OTC) dalam bentuk opsi non-deliverable (NDO).

Kala itu, mereka menggandeng perusahaan kripto sekala jumbo yaitu Galaxy Digital. Co-Presiden dan Head of Global Markets Galaxy Digital, Damien Vanderwilt, mengatakan bahwa perdagangan ini merupakan langkah awal yang dilakukan bank untuk menawarkan eksposur langsung ke pasar kripto atas nama klien mereka.

“Skema opsi dalam perdagangan jauh lebih masuk akal secara sistematis dengan pasar dibandingkan dengan skema kontrak berjangka,” jelas Damien Vanderwilt.

Langkah besar yang dilakukan oleh Goldman Sachs menunjukkan bahwa industri kripto semakin matang dan adopsi aset digital bisa terus berjalan di ranah lembaga perbankan maupu perusahaan keuangan tradisional (TradFi) lainnya. Sehingga dengan adanya hal tersebut, diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pihak lain untuk ikut mengembangkan OTC sebagai saluran perdagangan aset digital.

Kepercayaan Goldman Sachs terhadap industri kripto juga semakin jelas lantaran Kepala Aset Digital Asia Pasifik Goldman Sachs, Max Minton, mengungkapkan bahwa kerja sama ini merupakan perkembangan penting dalam kemampuan bisnis aset digital mereka untuk evolusi kelas aset yang lebih luas.

Adopsi Institusional Makin ‘Kencang’

Selain Goldman Sachs, Bank of New York Mellon (BNY Mellon) juga sudah masuk ke industri aset digital dengan menjadi bank kustodian bagi pelanggan yang memiliki Bitcoin (BTC) dan Ether (ETH).

Melihat tingginya minta bank masuk ke industri kripto, lembaga pemeringkat Fitch Rating mengungkapkan kurangnya kerangka peraturan akan membatasi partisipasi lembaga perbankan maupun pihak TradFi lainnya dalam waktu dekat.

Lembaga perbankan kemungkinan akan melangkah dengan hati-hati sampai ada kerangka peraturan yang komprehensif dan terkoordinasi secara global. Pasalnya, terdapat beberapa hal yang harus dihadapi. Mulai dari risiko penipuan yang tinggi, masalah keamanan siber, dan risiko operasional yang terlihat pada kegagalan Celsius, Voyager, dan bahkan algorithmic stablecoin TerraUSD (UST).

“Meskipun lembaga federal belum mengkoordinasikan dan menetapkan kerangka kerja yang kuat untuk lembaga yang beroperasi di ekosistem aset digital, risiko pasar yang harus ditangani mencakup risiko korelasi dan efektivitas lindung nilai, serta risiko dari transaksi berlebihan yang dapat memperbesar kerugian di seluruh ekosistem,” pungkas Fitch Rating.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.