Lihat lebih banyak

Intelijen Korea Selatan Tuduh Peretas Korea Utara Gasak Lebih dari Rp9 Triliun di DeFi

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Pihak intelijen Korea Selatan menuduh peretas asal Korea Utara bertanggung jawab atas tindak pencurian senilai 800 miliar won (sekitar Rp9,4 triliun) di sektor DeFi.
  • Jumlah peretasan yang diklaim terjadi di luar Korea Selatan itu merupakan akumulasi dari seluruh kegiatan kriminal yang dilancarkan selama tahun ini.
  • Para peretas dituduh melakukan serangan dengan cara pemerasan lewat penyebaran ransomware untuk meminta sejumlah uang secara paksa pada korban.
  • promo

Hubungan Korea Selatan dan Korea Utara kembali memanas. Pihak intelijen Korea Selatan menuduh peretas asal Korea Utara yang bertanggung jawab atas tindak pencurian di sektor decentralized finance (DeFi) senilai 800 miliar won atau lebih dari Rp9,74 triliun. Jumlah peretasan yang diklaim terjadi di luar Korea Selatan itu merupakan akumulasi dari seluruh kegiatan kriminal yang dilancarkan selama tahun ini.

Para peretas dituduh melakukan serangan dengan cara pemerasan lewat penyebaran program jahat (ransomware) untuk meminta sejumlah uang secara paksa pada korban dan juga peretasan yang terjadi di berbagai belahan dunia.

Tuduhan yang dilayangkan oleh Korea Selatan diduga bakal berpotensi menambah panas hubungan kedua belah pihak. Pasalnya belum lama ini Korea Utara baru saja menembakkan dua rudal balistik ke lepas pantai timur Semenanjung Korea dan pihak Korea Selatan mengaku mengutur keras tindakan tersebut.

Ditambah Ini bukanlah kali pertama Korea Utara dituduh atas sejumlah tindakan kejahatan finansial. Sebelumnya, pemerintah Jepang juga menuduh grup kriminal asal Korea Utara, yakni Lazarus Group, atas sejumlah tindakan peretasan yang terjadi di wilayahnya. Lazarus Group disebut sebagai aktor utama dalam terjadinya phishing dan cara ilegal lain untuk mendapatkan aset kripto secara paksa.

National Inteligence Service (NIS) Korea Selatan mengatakan sektor teknologi informasi di wilayahnya juga ikut terdampak. Ada banyak serangan yang dilangsungkan begitu era Web 3.0 dibuka. NIS bahkan mencatat, rata-rata serangan yang berhasil mereka blokir pada November tahun ini mencapai 1,18 juta serangan per hari.

Era Zero Trust

NIS menyebut saat ini adalah era “Zero Trust” alias era ketika tidak ada yang bisa dipercaya. Saat seperti sekarang ini, banyak ancaman yang datang secara beruntun dan perlu analisa sedekat mungkin untuk bisa menyesuaikannya dengan pertahanan yang ada.

“Satu organisasi peretas memiliki semua informasi serangan dan akan terus dgunakan untuk bahan serangan berikutnya. Oleh karena itu, penting untuk mengumpulan informasi terkait kode berbahaya apa saja yang disebarkan oleh penyerang,” jelas NIS.

Selanjutnya, NIS menambahkan bahwa kerja sama dengan pihak swasta perlu dilakukan agar bisa menangkal serangan di dunia maya dengan lebih baik. Selain itu, Wakil Direktur NIS, Baek Jong-wook, mengungkapkan perlunya mendirikan pusat keamanan yang berisi kumpulan profesional dari pihak pemerintah dan swasta yang selama ini memiliki kemampuan mumpuni.

“Serangan dunia maya menjadi semakin cerdas, jadi perlu adanya sinergitas untuk menangkalnya, bahkan sinergi antar negara,” ucap Jong-wook.

Kemampuan Peretas Korea Utara Tidak Bisa Dipandang Sebelah Mata

Agen mata-mata Korea Selatan mengungkapkan Korea Utara telah beralih ke peretasan kripto dan aktivitas ilegal di dunia maya lainnya demi mendapatkan sumber dana guna mendorong ekonominya yang rapuh.

Selain itu, proyek nuklir yang sampai saat ini masih berjalan juga dituduh menjadi salah satu bermuaranya aliran dana ilegal dari berbagai pihak. Dalam 5 tahun terakhir, NIS menyebutkan peretasan asal Korea Utara telah merampok sebanyak 1,5 triliun won atau sekitar US$1,2 miliar.

“Kemampuan Korea Utara untuk mencuri aset digital adalah yang terbaik di dunia, karena negara tersebut fokus pada kejahatan dunia maya sejak sanksi ekonomi PBB diperketat di 2017 silam,” ungkap pihak NIS.

Khusus untuk peretasan yang terjadi di wilayahnya, NIS mengatakan bahwa lebih dari 100 miliar won (sekitar US$78 juta) dana asal Korea Selatan dicuri lewat peretasan yang ditunggangi oleh Korea Utara.

Bagaimana pendapat Anda tentang tuduhan dari pihak intelijen Korea Selatan terhadap tindakan peretas asal Korea Utara ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori