Bitcoin btc
$ usd

Kasus Hukum Ripple vs SEC Sudah Mendekati Putusan Akhir, Siapa yang Bakal Menang?

3 mins
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Baru-baru ini, SEC dan Ripple mengajukan mosi untuk menolak permintaan putusan tanpa sidang satu sama lain.
  • Ripple merayakan keberhasilannya karena dokumen yang sudah berulang kali pihaknya tagih akhirnya berhasil terungkap pekan lalu.
  • Di sisi lain, lead engineer di balik XRP Ledger mengatakan bahwa ia akan mengundurkan diri dari jabatannya.

Dalam perkembangan terbaru terkait gugatan yang sedang berlangsung, Ripple dan SEC saling menolak mosi satu sama lain untuk mengajukan putusan tanpa sidang. 

Sebelumnya, Ripple dan Komisi Sekuritas dan Bursa (SEC) masing-masing sudah mengajukan mosi untuk melakukan penghakiman ringkasan atau putusan tanpa sidang. Jika permintaan tersebut terkabul, maka nantinya seorang hakim akan langsung memutuskan hasil dari kasus tersebut. Dengan begitu, kedua belah pihak tidak perlu membawa kasus tersebut ke pengadilan.

Namun, Jumat lalu (21/10), kedua belah pihak mengajukan dua mosi terpisah untuk menolak pengajuan penghakiman ringkasan satu sama lain. Dalam hal ini, pihak SEC mengatakan bahwa mosi dari Ripple harus ditolak karena adanya “bukti tidak terbantahkan” bahwa perusahaan itu menjual sekuritas yang tidak teregistrasi secara ilegal. Alasan itu juga yang membuat regulator federal tersebut pertama kali mengajukan gugatan terhadap Ripple pada Desember 2020 lalu. Sedangkan, Ripple sendiri mengklaim bahwa SEC tidak mempunyai dasar hukum apa pun untuk memaksa Ripple meregistrasikan XRP sebagai sekuritas.

Dokumen Penting SEC Berhasil Terungkap Minggu Lalu

Ripple Labs XRP VS SEC

Sebelum ini, Ripple sempat mengatakan dalam proses pengungkapan beberapa dokumen eksklusif bahwa mereka sebelumnya sudah sampai enam kali mengajukan permintaan. Dokumen yang dimaksudkan adalah catatan SEC terkait apa yang disebut sebagai dokumen Hinman. Kabarnya, dokumen tersebut menguak komentar SEC atas pidato mantan Direktur Divisi Keuangan Perusahaan, yaitu William Hinman.

Dalam pidatonya kala itu, Hinman memaparkan bahwa meskipun dia sebelumnya menganggap Ethereum sebagai sekuritas, pandangan terbarunya mengenai transaksi berbasis blockchain membuatnya yakin bahwa “penawaran dan penjualan Ether saat ini bukanlah transaksi sekuritas.”

Ripple kemudian memutuskan untuk meminta pengungkapan catatan ini karena mereka percaya bahwa catatan tersebut dapat menunjukkan bahwa SEC sadar akan klaim Hinman yang mengatakan bahwa Ethereum bukanlah sekuritas. Lalu, dengan menerapkan prinsip yang serupa, Ripple yakin bahwa hal ini akan memperkuat argumen mereka bahwa XRP memang sudah seharusnya bukan tergolong sekuritas.

Dokumen Saja Mungkin Belum Cukup

Meski sebergengsi apa pun perusahan Ripple saat ini, seorang pakar hukum berpendapat bahwa pandangan mantan pejabat SEC tersebut kemungkinan tidak akan begitu berpengaruh. Menurutnya, keputusan akhir tetap berada di tangan Mahkamah Agung, yang secara konsisten menjunjung tinggi standar Uji Howey.

Menurut standar ini, sekuritas pada dasarnya didefinisikan sebagai “investasi uang dalam sebuah perusahaan bersama dengan ekspektasi realistis atas profit yang diperoleh dari usaha pihak ketiga”. Sehingga dengan bertumpu pada definisi ini, Ketua SEC, Gary Gensler, pun meyakini bahwa sebagian besar aset kripto tergolong sebagai sekuritas. Meskipun begitu, ada satu pengecualian penting, yaitu Bitcoin, yang menurutnya tergolong sebagai sebagai komoditas.

Namun, menurut analisis lain, banyak holder XRP yang telah mengajukan pernyataan tertulis. Dalam pernyataan tersebut, mereka mengklarifikasi bahwa mereka melakukan pembelian XRP bukan dengan niatan tersebut. Berdasarkan Exhibit 167 dari mosi Ripple untuk menolak pernyataan SEC, pihak yang membeli XRP, “untuk tujuan investasi, tidak mengharapkan profit [yang] berasal dari Ripple, tetapi dari pergerakan pasar atau sumber lainnya.”

Staf Lama Ripple Hengkang dari Perusahaan

Walaupun tidak ada korelasi sama sekali dengan kasus Ripple vs SEC, perlu kita perhatikan juga bahwa lead engineer yang bertugas di balik XRP Ledger, yaitu Nik Bougalis, telah mengumumkan pengunduran dirinya. Meskipun tidak menjelaskan apa yang akan ia lakukan selanjutnya, dia menyampaikan bahwa ia tidak lagi melanjutkan sepak terjangnya di industri blockchain dan kripto. Hengkangnya Bougalis dari Ripple ini merupakan langkah pengunduran diri terbaru di antara sejumlah tokoh kripto terkemuka lainnya yang juga sebelumnya juga telah memutuskan hengkang dari perusahaan mereka.

Kabar dari Nik Bougalis ini menambah panjang daftar petinggi perusahaan kripto yang mengundurkan diri dari jabatannya. Pekan lalu, co-founder Ethereum dan Polkadot, Gavin Wood, mengatakan dia akan turun dari jabatannya sebagai CEO Parity Technologies. Sementara itu, satu minggu sebelumnya lagi, sebuah dokumen mengungkapkan bahwa co-founder Gemini Cameron dan Tyler Winklevoss juga tak lagi bergabung dalam dewan direksi Gemini Europe. Lalu, ketua eksekutif bursa kripto Kraken dan Celsius Network juga sama-sama mengundurkan diri pada akhir September kemarin.

Bagaimana pendapat Anda tentang putusan akhir konflik SEC vs Ripple ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun InstagramBeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Zummia.jpg
Zummia Fakhriani
Zummia adalah seorang penulis, penerjemah, dan jurnalis dengan spesialisasi pada topik blockchain dan kripto. Ia mengawali sepak terjang di industri kripto sebagai trader kasual...
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori