Lihat lebih banyak

Korea Selatan Berniat Buat Identitas Digital yang Diamankan dengan Blockchain

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Korea Selatan berencana menawarkan ID digital yang diamankan dengan blockchain kepada masyarakat yang memiliki smartphone.
  • ID digital disebut menyederhanakan verifikasi di web, menghilangkan kebutuhan untuk memotret sertifikat, atau masuk melalui kode otentikasi yang dikirim melalui layanan perpesanan.
  • Langkah ini dilakukan di tengah Negeri K-Pop yang memasuki populasi paling paham teknologi di dunia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
  • promo

Korea Selatan berencana menawarkan identitas (ID) digital yang diamankan dengan blockchain kepada masyarakat yang memiliki smartphone. Langkah ini dilakukan di tengah Negeri K-Pop yang memasuki populasi paling paham teknologi di dunia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

ID yang ditanamkan pada smartphone adalah salah satu teknologi terbaru yang dapat menopang ekonomi digital yang telah berkembangan seiring semakin banyak orang yang bekerja dari rumah, melakukan pembayaran tanpa uang tunai, dan menjelajahi metaverse.

Bloomberg pada hari Senin (17/10) melaporkan bahwa ID digital disebut menyederhanakan verifikasi di web, menghilangkan kebutuhan untuk memotret sertifikat, atau masuk melalui kode otentikasi yang dikirim melalui layanan perpesanan.

Sebaliknya, kegiatan seperti mengajukan tunjangan negara, mentransfer uang, atau bahkan memberikan suara dapat dilakukan hanya dengan pin atau sidik jari.

Orang Korea Selatan saat ini mengandalkan kartu registrasi penduduk untuk mengidentifikasi diri mereka. Di bawah proposal ini, sebuah aplikasi akan menyematkan ID tersebut ke perangkat seluler. Korea Selatan disebut akan meluncurkan ID digital pada tahun 2024 dan mengupayakan adopsi ke 45 juta warga dalam waktu 2 tahun.

ID Digital Bisa Buat Korea Selatan Raup US$42 Miliar

Bank Dunia menyebut ID digital sebagai sebuah game changer. Selain itu, MCKinsey melihat potensinya untuk meningkatkan output domestik bruto suatu negara hingga 13% dan memangkas biaya bisnis hingga triliunan dolar Amerika Serikat (USD).

Perkiraan McKinsey didasarkan pada penggunaan ID digital yang luas, menghemat waktu dalam pekerjaan administratif, mengurangi penipuan penggajian, memperluas kredit konsumen, memfasilitasi perdagangan, dan menelurkan market baru.

Suh Bo Ram, selaku direktur jenderal biro pemerintah digital Korea Selatan, merupakan pihak yang mempelopori rencana ini. Ia mengatakan, “Setiap layanan yang belum dapat sepenuhnya beralih secara online sekarang dapat melakukannya.”

Dia mengatakan bahwa Korea Selatan bisa meraup setidaknya US$42 miliar, atau 3% dari produk domestik bruto (PDB) negara itu, pada nilai ekonomi dalam satu dekade.

Menurut Portulans Institute yang merupakan lembaga think tank berbasis di Washington, AS, semangat orang Korea Selatan untuk adopsi dini juga dapat membantu. Masyarakat di negara ini menempati peringkat pertama di dunia dalam hal antusiasme dan kemampuan untuk menerapkan teknologi dalam kehidupan sehari-hari, bisnis, dan pemerintahan.

Pemerintah lain telah mengakui manfaat ID digital. Di Estonia, sebagian besar 1,3 juta warganya yang memenuhi syarat memiliki ID digital dapat menggunakannya untuk memberikan hak suara, membayar tagihan, hingga menandatangani dokumen. Pemerintah negara ini mengizinkan telpon digunakan untuk verifikasi jika kartu SIM khusus terpasang. Jerman memiliki program berbasis chip serupa.

Risikonya Jangan Sampai Melebihi Manfaatnya

Hwang Seogwon, ekonom di Institut Kebijakan Sains & Teknologi Korea Selatan, mengatakan bahwa KTP digital dapat menghasilkan manfaat ekonomi yang besar di bidang keuangan, kesehatan, pajak, transportasi, dan bidang lainnya dan dapat menyebar dengan cepat di antara penduduk Korea Selatan.

“Namun, harus ada penilaian risiko yang lebih secara teknologi untuk memastikan bahayanya tidak melebihi manfaatnya,” jelas Hwang Seogwon.

Pemerintah Korea Selatan juga menyadari potensi munculnya kekhawatiran bahwa proyek ini akan menguatkan cengkraman pemerintah kepada masyarakat, yang diibaratkan seperti dalam novel berjudul 1984 karangan George Orwell.

Terkait hal ini, pemerintah Korea Selatan mengaku tidak akan memiliki akses ke informasi yang disimpan di telpon individu, termasuk rincian ID digital siapa yang digunakan, dan bagaimana mereka digunakan dan di mana, karena sistem akan bergantung sepenuhnya pada identitas terdesentralisasi, hingga untaian canggih teknologi blockchain.

Peretas disebut harus membobol setiap perangkat individu untuk memanipulasi data, sementara kemungkinan pencurian berkurang karena tidak ada server terpusat yang menyimpan informasi.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori