Lihat lebih banyak

Makin Prospektif, Pengajuan Paten untuk Metaverse Tumbuh Lebih dari 2 Kali Lipat

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Data USPTO menyebutkan bahwa sampai dengan Agustus tahun ini, pengajuan paten untuk metaverse sudah mencapai 4.150 aplikasi.
  • Pengajuan paten metaverse terbanyak di tahun ini terjadi saat bulan Maret lalu.
  • Hal tersebut membuktikan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap dunia metaverse, termasuk Web3, masih sangat tinggi.
  • promo

Industri metaverse sepertinya nampak lebih prospektif daripada sektor kripto lainnya. Di tengah melemahnya harga kripto di pasaran, pengajuan paten bagi mereka yang ingin menapaki bisnis di metaverse dan Web3 justru tumbuh berlipat ganda.

Data dari United States Patent and Trademark Office (USPTO) menyebutkan, sampai dengan Agustus tahun ini pengajuan paten untuk metaverse mencapai 4.150 aplikasi. Padahal, sepanjang tahun lalu jumlah total pengajuan yang tercatat hanya mencapai 1.866 aplikasi.

Hal tersebut membuktikan bahwa minat dan kepercayaan investor terhadap dunia metaverse, termasuk Web3 masih sangat tinggi. Apalagi, banyak perusahaan jumbo yang juga ikut melakukan pendaftaran. Kondisi seperti demikian berarti mereka berkeyakinan bahwa dunia metaverse akan menjadi ladang baru untuk bisa mendulang keuntungan.

Melalui Twitter, Mike Kondoudis, seorang pengacara berlisensi USPTO, membagikan grafik data pengajuan aplikasi paten untuk di metaverse selama tahun 2022. Dari grafik itu, terlihat bahwa pengajuan aplikasi tertinggi berada di bulan Maret, yakni sebanyak 759 aplikasi. Sementara itu, saat Agustus kemarin, terdapat 418 pengajuan paten untuk metaverse.

Perusahaan multnasional yang baru saja mengajukan paten mereknya untuk memasuki metaverse adalah Ford. Menurut Mike Kondoudis, Ford membuat langkah besar dengan memasuki metaverse. Salah satu raksasa otomotif itu telah mengajukan 19 merek dagang untuk semua merek utama. Rencananya, merek tersebut akan Ford gunakan untuk pengembangan mobil virtual, truk, van, dan pakaian di metaverse.

“Selain itu, pengajuan juga dilakukan untuk pengembangan toko online termasuk di dalamnya non-fungible token (NFT) dan koleksi digital lain,” jelasnya.

Selain itu, Jockey International, perusahaan yang berfokus pada fesyen, juga tidak mau kalah. Perseroan baru mengajukan paten untuk merek Jockey di USPTO untuk pakaian virtual, barang virtual yang didukung oleh NFT, dan toko virtual.

Pengajuan Paten untuk NFT Juga Melonjak

Metaverse sendiri merupakan merupakan bentuk pengejawantahan dari dunia sebenarnya. Dalam ruang ini, kehidupan yang ada di dunia nyata dapat tersaji secara virtual. Berbagai interaksi sosial maupun bisnis diprediksi bakal terjalin secara maya lewat teknologi metaverse. Itulah mengapa terdapat banyak industri dan juga pesohor yang mulai menapaki dunia baru tersebut.

Menurut laporan Be[In]Crypto, pengajuan paten untuk metaverse juga dilakukan oleh salah satu penyanyi kenamaan, yakni Miley Cyrus. Sosok yang populer sebagai pemain utama dalam film “Hannah Montana” itu mendaftarkan merek Miley dan Miley Cyrus di USPTO. Adapun pengajuan paten yang Miley lakukan meliputi kebutuhan pakaian dan merek minuman, jasa hiburan, manajemen mata uang virtual, serta pakaian virtual.

Selain itu, lonjakan pengajuan paten rupanya tak hanya terjadi dalam sektor metaverse saja. Pengajuan paten di sektor NFT juga mengalami hal yang sama. Sampai dengan Agustus kemarin, terdapat 5.800 aplikasi yang sudah tercatat. Jumlah tersebut sudah mencapai lebih dari 2 kali lipat total pengajuan paten di 2021, yang hanya mencapai 2.087.

Serupa dengan pengajuan paten metaverse, pengajuan paten NFT paling banyak terjadi ketika bulan Maret, yaitu berjumlah 1.078 pengajuan. Kemudian, di bulan Agustus lalu tercatat terdapat 502 pengajuan paten untuk NFT.

Pemahaman tentang Metaverse Masih Rendah

Para pelaku usaha yang bergerak dalam pengembangan metaverse sepenuhnya memahami bahwa pemahaman masyarakat tentang metaverse sendiri masih rendah. Tidak mengherankan jika fakta tersebut pun membuat Meta terus berupaya untuk meningkatkan literasi terkait ruang virtual.

Perusahaan induk dari jejaring sosial Facebook ini memang diketahui sedang getol dalam menggenjot lini bisnis metaverse-nya. Kabar terbaru mengungkapkan bahwa Meta baru-baru ini melakukan inisiatif untuk menginvestasikan US$150 juta demi membawa masuk 10 universitas ke metaverse. Meta tidak sendiri menggarap inisiatif ini. Mereka menggandeng sebuah perusahaan rintisan yang berfokus pada virtual reality di sektor pendidikan bernama Victoryxr. Dalam kerja sama tersebut, Meta menyumbangkan Headset VR Quest 2 ke perguruan tinggi yang berpatisipasi, agar bisa merasakan pengalaman immersive berselancar di dunia metaverse.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram Be[In]Crypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori