Lihat lebih banyak

Mastercard Lihat Ada Tantangan dalam Adopsi CBDC

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Ashok Venkateswaran, Lead Blockchain dan Aset Digital Mastercard di Asia Pasifik, mengatakan bahwa bagian yang sulit dari CBDC adalah adopsi.
  • Menurut Ashok Venkateswaran, membangun infrastruktur untuk memfasilitasi CBDC membutuhkan banyak waktu dan upaya dari pihak negara untuk melakukan hal tersebut.
  • Singkatnya, ia menilai kesuksesan CBDC sangat tergantung pada kebutuhan sebuah negara atau masalah apa yang ingin diselesaikan.
  • promo

Perwakilan raksasa jasa keuangan Mastercard menyebut bahwa adopsi mata uang digital bank sentral (CBDC) menjadi sulit karena saat ini tidak ada cukup pembenaran untuk meluaskan penggunaan CBDC.

Ashok Venkateswaran, Lead Blockchain dan Aset Digital Mastercard di Asia Pasifik, mengatakan bahwa bagian yang sulit dari CBDC adalah adopsi.

“Jadi, jika Anda memiliki CBDC di wallet Anda, Anda harus bisa membelanjakannya di mana pun Anda mau, mirip dengan uang tunai saat ini,” katanya di sela-sela acara Singapore FinTech Festival pada hari Rabu (15/11) kemarin.

CBDC ritel melayani individu dan bisnis yang memfasilitasi transaksi sehari-hari. Hal ini berbeda dengan CBDC grosir yang digunakan secara eksklusif oleh bank sentral, bank komersial, dan lembaga keuangan lainnya untuk menyelesaikan transaksi antar bank bernilai besar.

Butuh Banyak Waktu untuk Bangun Infrastruktur

Sebagai informasi, Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan bahwa CBDC adalah alternatif yang aman dan berbiaya rendah dibandingkan uang tunai, dengan sekitar 60% negara di dunia menjajaki CBDC. Namun, hanya 11 negara yang telah mengadopsinya. Sementara itu, ada 53 negara yang masih dalam tahap perencanaan lanjutan dan 46 negara sedang meneliti topik tersebut.

Menurut Ashok Venkateswaran, membangun infrastruktur untuk memfasilitasi CBDC membutuhkan banyak waktu dan upaya dari pihak negara untuk melakukan hal tersebut.

“Banyak bank sentral saat ini yang menjadi sangat inovatif karena mereka bekerja sama dengan perusahaan swasta seperti kami [Mastercard], untuk menciptakan ekosistem tersebut.”

Meski begitu, Ashok Venkateswaran menerangkan bahwa konsumen sangat nyaman menggunakan jenis uang saat ini, sehingga tidak ada cukup pembenaran untuk memiliki CBDC.

Kesuksesan CBDC Terkait Masalah Apa yang Ingin Diatasi

Sebagai informasi, Mastercard pada 7 November lalu mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyelesaikan pengujian program percontohan CBDC ritel dolar Hong Kong digital (e-HKD). Uji coba itu memfasilitasi pencetakan, pendistribusian, dan pembelanjaan e-HKD.

Menariknya, Ashok Venkateswaran mengatakan Singapura sebagai contoh bahwa kasus CBDC ritel tidak cukup menarik karena telah memiliki sistem pembayaran yang sangat efisien.

“Tidak ada alasan untuk CBDC ritel [di Singapura], tetapi ada alasan bagi CBDC grosir untuk penyelesaian antar bank,” jelas perwakilan Mastercard itu.

Pada hari Kamis (16/11), bank sentral Singapura mengumumkan akan melakukan uji coba penerbitan langsung dan penggunaan CBDC grosir mulai tahun 2024.

Singkatnya, Ashok Venkateswaran menilai kesuksesan CBDC sangat tergantung pada kebutuhan sebuah negara atau masalah apa yang ingin diselesaikan.

“Ini tidak akan berhasil jika Anda hanya mencoba mengganti jaringan pembayaran domestik yang ada. Namun, jika negara tersebut memiliki jaringan pembayaran domestik yang tidak begitu kuat, mungkin masuk akan untuk memiliki CBDC,” terang Ashok Venkateswaran.

Muncul RUU Anti CBDC di AS

Di sisi lain, Rancangan Undang-Undang (RUU) Anti Pengawasan CBDC kini akan dibahas ke seluruh anggota DPR Amerika Serikat (AS). Meski begitu, masa depan RUU ini masih belum jelas, karena kemungkinan mendapat penolakan dari Senat AS yang dikuasai Partai Demokrat.

RUU yang diajukan oleh Tom Emmer, anggota DPR AS dari Partai Republik itu, diperkenalkan kembali pada minggu lalu pada 12 September lalu.

RUU ini dinilai penting untuk melindungi hak warga Amerika atas privasi finansial. Hal itu akan memblokir bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), untuk menerbitkan mata uang digital bank sentral secara langsung kepada masyarakat AS dan menerbitkannya secara tidak langsung melalui perantara.

Maxine Waters, tokoh penting di DPR AS dari Partai Demokrat, sempat ingin mengganti nama RUU tersebut menjadi RUU Anti-Inovasi CBDC. Dia mengatakan hal itu akan mengancam status dolar AS (USD) sebagai mata uang cadangan global utama.

“Saat ini, kami belum mengetahui bagaimana penerapan CBDC dapat membentuk lanskap keuangan Global. Partai Republik melakukan serangan tidak berdasar terhadap CBDC yang bahkan tidak ada,” terangnya.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Desember 2023

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori