Jaring pengaman harga minyak mulai menghilang. Harga Brent menembus di atas US$85 per barel pada hari Rabu, dan West Texas Intermediate (WTI) melewati US$80.
Kedua patokan harga tersebut sudah naik selama tiga hari berturut-turut karena militer AS dan Iran saling melakukan serangan di dekat Selat Hormuz. Para trader mengatakan risiko terbesar bukanlah pergerakan harga harian, melainkan seberapa besar kapasitas cadangan yang tersisa untuk menahan guncangan berikutnya.
Cadangan Penyangga Hampir Habis
June Goh, analis senior pasar minyak di Sparta Commodities, memantau cadangan penyangga ini dengan cermat. Ia menuturkan kepada Al Jazeera bahwa cadangan penyangga yang selama berbulan-bulan menahan guncangan suplai kini hampir habis.
Pemerintah AS terus menguras Strategic Petroleum Reserve (SPR) selama konflik ini berlangsung. Washington mengambil cadangan tersebut setiap kali perang memanas agar dampaknya tidak terlalu parah. Goh memperingatkan lonjakan harga yang tajam bisa terjadi jika Washington dan Teheran terus meningkatkan eskalasi dan tidak meredakan ketegangan.
Peringatan itu muncul setelah pembahasan G7 sebelumnya, di mana para pemerintah mempertimbangkan untuk melepas hingga 400 juta barel saat terjadi lonjakan harga sebelumnya. Hal ini juga sejalan dengan peringatan dari seorang eksekutif ExxonMobil yang beberapa minggu lalu menyampaikan bahwa cadangan minyak global semakin menipis dengan cepat.
Trump Kaitkan Serangan Dengan Pembalikan Blokade
Presiden Donald Trump semakin meningkatkan tensi. Ia mengungkapkan kepada Fox News bahwa serangan akan semakin intensif minggu depan. Menurutnya, target utama adalah pembangkit listrik dan jembatan Iran, kecuali Teheran kembali ke meja perundingan.
Iran belum mengesampingkan kemungkinan akan mengenakan biaya sendiri untuk kapal yang melintasi Hormuz sebagai respons. Sementara itu, Trump justru membatalkan rencana lain. Ia membatalkan biaya 20% untuk kargo yang melewati selat tersebut. Sebagai gantinya, negara-negara Teluk akan menawarkan kerja sama dagang dan investasi, ujarnya.
Pada hari yang sama, AS kembali memberlakukan blokade laut di pelabuhan Iran. Langkah ini melanjutkan upaya Trump sebelumnya untuk mengendalikan jalur air tersebut.
Volume lalu lintas pelayaran sudah mengalami perubahan. MarineTraffic mencatat hanya 57 kapal yang melintas di Hormuz dari Jumat sampai Minggu, turun lebih dari 50% dibandingkan minggu sebelumnya. Sebelum perang pecah pada Februari, selat ini biasa dilintasi sekitar 130 kapal per hari.
Wall Street Prediksi Harga Minyak US$100
Bart Melek, kepala global strategi komoditas di TD Securities, menilai reli harga masih bisa berlanjut.
“Saya menduga bahwa kenaikan ke US$100 sangat mungkin terjadi jika risiko kekurangan fisik terlihat nyata dan semakin besar.”
Departemen Energi AS membantah narasi tentang kekurangan pasokan. Pada hari Senin, mereka mengatakan 8,5 juta barel melintasi selat tersebut sehari sebelumnya dengan pengawalan militer. Menurut mereka, jumlah ini masih sama seperti volume biasanya.
Kenaikan harga minyak mentah ini juga bisa memperumit prospek inflasi. Para analis sebelumnya memprediksi laporan CPI bulan Juni akan menunjukkan harga mulai turun seiring biaya bahan bakar yang menurun. Kini, apakah tren itu bertahan akan ditentukan oleh langkah Trump berikutnya dan apakah Teheran memutuskan kembali berunding atau tidak.









