Forensik Kripto Semakin Cerdas, tapi Penipu AI Sudah Lebih Dulu

  • Alat forensik blockchain telah berhasil memulihkan sekitar US$34 miliar dan digunakan oleh lebih dari 45 regulator karena deteksinya memang telah meningkat secara signifikan.
  • Namun, kerugian dari scam aset kripto pada 2025 tetap mencapai sekitar US$17 miliar, dengan scam berbasis AI 4,5 kali lebih menguntungkan dan penipuan impersonasi naik 1.400%.
  • Penipuan yang paling merugikan tidak pernah menyentuh chain dan itulah celah yang tidak dapat ditutup oleh alat forensik mana pun.

Menjadi seorang entrepreneur dan investor berarti saya sering berada di sisi yang menerima banyak proposal. Banyak deck presentasi yang masuk ke meja saya bertema roadmap dan tim yang bersumpah traction mereka nyata.

Tugas saya yaitu mencari tahu bagian mana dari proposal tersebut yang benar-benar bisa berjalan saat dihadapkan dengan blockchain. Jadi, saat saya bilang deteksi di industri ini memang sudah maju, saya tidak sedang mengulang presentasi dari vendor.

Platform forensik blockchain seperti Chainalysis, TRM Labs, dan Elliptic telah membekukan atau berhasil menemukan kembali dana ilegal sekitar US$34 miliar. Lebih dari 45 regulator di seluruh dunia sekarang menggunakan alat-alat ini sebagai praktik standar. Platform ini membantu menemukan dana hasil kejahatan dengan mengklaster wallet dan memberikan atribusi entitas yang cukup kuat hingga diakui di pengadilan.

Forensik Blockchain
Forensik Blockchain | Sumber: Coinlaw

Berkat AI, alat generasi terbaru ini sekarang tidak cuma melacak uang setelah dana berpindah. Sekarang, sudah ada platform prediktif yang mengklaim bisa menandai wallet sebelum wallet itu melakukan aksi apapun.

Platform tersebut menilai perilaku berdasarkan lebih dari 50 fitur dan melakukan pelatihan ulang setiap hari. Salah satu vendor mengklaim akurasi 98% pada 14 juta wallet. Kini, terdapat scanner rug pull langsung di agen trading AI, yang dapat memeriksa kunci likuiditas, otoritas pembekuan, serta riwayat deployer, hanya dalam waktu sekitar lima detik.

Salah satu layanan melaporkan telah memindai lebih dari 881.000 alamat token dan menandai 271.000 alamat sebagai berisiko tinggi. Bahkan, ada alat clustering wallet yang bisa mendeteksi alamat “sleeper” yang mengendap bertahun-tahun dan tiba-tiba aktif beberapa saat sebelum terjadi likuidasi — mirip seperti melihat seseorang yang dengan sengaja mengawasi lingkungan sekitar rumah Anda.

Jika Anda hanya membaca halaman vendor, Anda pasti akan mengira penipuan crypto sudah bisa diatasi, sebab kini sudah ada “pasukan” model machine learning yang memantau setiap chain, setiap wallet, dan tiap transaksi 24 jam sehari tanpa henti.

Tapi coba cek juga, dampak era machine learning ini terhadap sisi lain dari ekosistem kripto.

Angka di Balik Penipuan Kripto Berbasis AI

Berdasarkan data Chainalysis, total kerugian akibat scam dan penipuan aset kripto pada 2025 mencapai sekitar US$17 miliar, naik dari US$9,9 miliar di tahun sebelumnya. Data FBI untuk periode yang sama mencatat penipuan crypto di AS saja mencapai US$11,36 miliar, melompat 22% dibanding tahun sebelumnya.

Itulah angka-angka yang biasa tampil di presentasi panel diskusi. Tapi data yang benar-benar mengubah cara saya melakukan due diligence adalah ini: Chainalysis menemukan scam berbasis AI terbukti 4,5 kali lebih menghasilkan keuntungan dibandingkan metode penipuan tradisional.

Modus penipuan tetap sama, target juga masih itu-itu saja, namun dengan AI, scammer bisa menciptakan sosok agen support palsu, investor palsu, hingga insider tepercaya dalam skala besar.

76% Penipuan AI Bernilai Besar dan Volume Tinggi
76% Penipuan Berbasis AI Bernilai Besar dan Volume Tinggi | Sumber:  Chainalysis

Lior Aizik, co-founder dan Chief Operating Officer di exchange kripto XBO, telah secara terbuka memperingatkan bahwa penipuan impersonasi makin meningkat dan menjadi semakin canggih di seluruh industri. Aturan simpel darinya: jangan pernah mentransfer aset kripto kepada orang yang tidak bisa Anda verifikasi, apalagi kalau permintaannya bernada mendesak dan penuh kerahasiaan.

Penipuan impersonasi — di mana pelaku kejahatan menyamar sebagai bank, investor, atau influencer kripto — mengalami kenaikan hingga 1.400% dibanding tahun sebelumnya. Sekarang, pelaku menggunakan AI untuk menargetkan korban melalui skema mahal dan personal, setelah sebelumnya memprofil calon korbannya terlebih dahulu, bukan sekadar cara massal dan acak seperti dulu.

Hal ini membuat rata-rata nominal pembayaran melonjak drastis, dari US$782 di tahun 2024 menjadi US$2.764 pada 2025, naik sebesar 253%. Saya sendiri merasa terpapar, karena investor dan pengelola yang punya profil publik cenderung lebih rentan untuk dipalsukan identitasnya.

Bagian yang tidak menyenangkan adalah: walaupun alat pertahanan makin canggih, hasil serangan juga semakin hebat.

Hal ini mirip seperti jaringan adversarial generatif, di mana pembuat dan penilai sama-sama bersaing sehingga modelnya terus berkembang bersama.

Alat-alat serangan maupun pertahanan sama-sama menggunakan AI untuk memaksimalkan kemampuannya. Saat ini, pihak yang bergerak lebih dulu lah yang diuntungkan, bukan semata siapa yang punya model AI terbaik secara teknis.

Mengapa Deteksi Lebih Baik Masih Sering Kalah dalam Persaingan

Jawaban jujurnya adalah, alat forensik memang dirancang untuk penyelidikan, bukan untuk prediksi. Sebuah investigasi baru bisa berjalan jika memang sudah terjadi kejahatan.

Perlu ada korban yang sudah kehilangan uang sebelum Anda bisa melacak pola yang cukup jelas untuk diperingatkan. Bahkan model prediktif yang mengaku bisa mendeteksi rug pull sebelum terjadi pun, sebenarnya dilatih menggunakan data penipuan tempo lalu — sedangkan scam berikutnya sedang dirancang oleh seseorang yang juga membaca data pelatihan yang sama.

Hal ini makin jelas bagi saya saat FBI menjalankan operasi NexFundAI: token honeypot palsu yang diciptakan agen federal untuk menjebak pelaku wash trader.

Sehari setelah DOJ mengumumkan penangkapan terkait operasi tersebut, seseorang menyalin persis smart contract yang sama dan meluncurkan token tiruan, menghasilkan US$127.000 hanya dalam sehari dengan menggunakan taktik yang sama seperti yang baru saja diungkap FBI dalam dokumen pengadilan.

Siapa pun LP yang bertanya kepada saya apakah “perilaku terburuk di pasar ini akhirnya mulai dibereskan” pasti sudah mendapatkan jawabannya dalam waktu dua puluh empat jam.

Operasi dari FBI justru menjadi panduan bagi penyerang. Setiap informasi yang membantu pihak bertahan juga secara otomatis memberikan penyerang sebuah template siap pakai — dan penyerang selalu lebih cepat membaca daripada regulator menambal celah.

Sisi Serangan Kini Menjadi Lebih Murah dan Lebih Cepat

Kita bisa melihat ketimpangan yang sama dari betapa sedikitnya usaha yang kini diperlukan untuk melakukan serangan. Seorang pengembang perangkat lunak, Peter Steinberger, membuat proyek open-source populer yang memungkinkan Anda menjalankan asisten AI di komputer dengan akses penuh ke sistem melalui aplikasi seperti Telegram, WhatsApp, dan Discord.

Produk tersebut terpaksa harus diubah namanya setelah terjadi sengketa merek dagang.

Hanya beberapa menit setelah pengumuman pergantian nama, seseorang membajak akun GitHub dan X miliknya yang lama lalu menggunakannya untuk meluncurkan sekaligus mem-pump sebuah token yang sempat mencapai kapitalisasi pasar US$16 juta sebelum akhirnya anjlok lebih dari 90%.

Tidak ada malware, tidak ada kunci yang dicuri. Hanya seseorang yang cukup cepat memanfaatkan celah perhatian yang tidak terpantau oleh alat forensik mana pun. Alat-alat itu tidak mendeteksi, karena memang belum ada tindakan ilegal yang terjadi saat itu.

Ketika Agen AI Menjadi Korban Rugpull

Bukan hanya manusia yang tertipu oleh kejadian ini yang membuat saya khawatir, karena begitu banyak penawaran yang saya terima berbunyi “biarkan agen AI kami melakukan trading untuk Anda.” Agen-agen itu juga bisa saja kehilangan uang Anda.

Seorang pengembang pernah menjelaskan bagaimana agen AI di Solana membeli sebuah token yang mengalami rugpull dan anjlok 94% setelah dua puluh menit, sehingga wallet agen tersebut kehilangan US$12.000.

Setelah ditelusuri, token itu ternyata mengaktifkan fitur freeze authority, 10 holder teratas menguasai 91% dari total pasokan. Si pembuat token bahkan sudah tiga kali meluncurkan token scam sebelumnya.

Semua tanda bahaya itu seharusnya bisa dideteksi dalam hitungan detik memakai alat analisis yang saya ceritakan di sini. Tapi agen itu tidak memeriksa. Ia hanya melihat sebuah token dan harganya, lalu langsung membeli — sebab tidak ada yang menghubungkan lapisan keamanan ke lapisan pengambilan keputusan.

Itulah kegagalan yang kini selalu saya uji pada setiap proposal dana berbasis agen yang melewati meja saya.

Bagian yang Tidak Bisa Diperbaiki oleh Alat Apa Pun

Hal yang paling membuat saya waswas adalah jumlah kerugian yang sama sekali tidak bersentuhan dengan smart contract. Saya punya profil publik dan banyak pengikut, sehingga saya jadi target empuk untuk digandakan identitasnya.

Pada bulan Mei, diberitakan bahwa seorang wanita di Guelph, Ontario, kehilangan US$14.000 gara-gara ditipu setelah ia mengira sedang berbicara dengan YouTuber Mr Beast soal investasi kripto. Ternyata bukan. Mr Beast sendiri sudah bertahun-tahun berperang melawan video AI yang memakai wajahnya untuk menipu dengan giveaway palsu.

Alat forensik tidak akan pernah bisa mendeteksi interaksi semacam ini, karena semuanya masih di luar ranah chain sampai uang sudah mulai bergerak. Penipuan terjadi dalam panggilan video, dalam sekejap kepercayaan. Begitu transaksi tercatat di platform analitik untuk dianalisis, keputusan fatal yang merugikan korban sudah terlanjur terjadi.

AI kini jauh lebih andal menciptakan kepercayaan palsu, jauh lebih cepat, daripada mendeteksi dan menandai penipuan tersebut. Dan di situlah sebagian besar dari US$17 miliar itu sebenarnya menguap.

Penipuan Kripto AI: Lalu, Siapa yang Sebenarnya Menang?

Tidak ada yang benar-benar menang.

Itulah jawaban paling jujur yang bisa saya berikan. Kedua jenis alat, forensik dan prediktif, memang benar-benar ada. Upaya pemulihan juga ada. Meremehkannya hanya karena penipuan juga semakin meningkat adalah bentuk ketidakjujuran lain.

Tapi “nyata dan semakin membaik” tidak sama artinya dengan “lebih unggul.” Data 2025 sangat jelas: secara nominal, serangan berkembang lebih cepat daripada pertahanan.

Jika harus memilih satu alasan, inilah penyebab utamanya. Alat deteksi biasanya hanya menjawab pertanyaan “apakah wallet ini mencurigakan?” — dan pertanyaan itu baru diajukan setelah seseorang berniat memeriksa.

Selain itu, ada kasus seperti di Guelph, di mana bahkan tidak ada wallet yang bisa diperiksa sejak awal. AI membuat kasus seperti itu jadi lebih sering, itulah sebabnya saya berhenti menganggap AI sebagai nilai lebih dalam setiap proposal dan mulai menjadikannya sebagai hal pertama yang saya stres-uji.

Blockchain memang bisa mengonfirmasi riwayat wallet. Namun, blockchain tidak bisa mengonfirmasi isi sebuah panggilan telepon,


Untuk membaca analisis pasar kripto terbaru dari BeInCrypto, klik di sini.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori