Bitcoin btc
$ usd
Laporan Berita

Perbankan Jepang Uji Coba Stablecoin untuk Pengiriman Uang Elektronik

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang

Ringkasan

  • Sektor perbankan Jepang dilaporkan akan mulai melakukan uji coba penggunaan stablecoin untuk transaksi pengiriman uang elektronik.
  • Proses tersebut akan dilakukan lewat platform blockchain yang dikembangkan oleh GU Technologies, yaitu Japan Open Chain.
  • Nantinya, setiap lembaga perbankan yang berpartisipasi akan meluncurkan aset kripto yang didukung oleh mata uang fiat secara mandiri untuk menggunakan Japan Open Chain.

Secara perlahan, Jepang terus memperlihatkan sikap positif terhadap aset kripto. Dalam rencana aksi terbarunya, sektor perbankan Jepang akan mulai melakukan uji coba penggunaan stablecoin untuk transaksi pengiriman uang elektronik. Proses tersebut akan dilakukan lewat platform blockchain yang dikembangkan oleh GU Technologies, yaitu Japan Open Chain.

Nantinya, setiap lembaga perbankan yang berpartisipasi akan meluncurkan aset kripto yang didukung oleh mata uang fiat secara mandiri untuk menggunakan Japan Open Chain.

Dalam tahap awal, sudah ada 3 lembaga perbankan yang akan berpartisipasi. Mereka adalah Tokyo Kiraboshi Financial Group, Minna no Bank, dan Shikoku Bank. Ketiganya akan merilis dan meluncurkan dan menggunakan stablecoin mereka sendiri untuk mengirim uang elektronik.

Hal itu dilakukan sebagai salah satu langkah untuk uji coba Proof of Concept (PoC) dari stablecoin yang sesuai dengan aturan pemerintah Jepang.

“Uji coba ini bekerja sama dengan pihak swasta dan juga pemerintah daerah. Rencananya pengiriman stablecoin akan dilakukan antar perusahaan untuk kemudian digunakan oleh masyarakat umum,” jelas GU Technologies.

Proyek ini dimulai karena dari adanya permasalahan pada algorithmic stablecoin yang memiliki risiko volatilitas harga yang lebih tinggi dan pseudo-stablecoin yang tidak memiliki aset dasar.

Konsep stablecoin yang diusung oleh GU Technologies adalah stablecoin yang didukung oleh aset dan bisa diterbitkan oleh masing-masing lemnaga keuangan. Hal itu dimungkinkan karena Japan Open Chain kompatibel dengan Ethereum dan merupakan sistem baru di Jepang.

“Eksperimen ini untuk mengonfirmasi bahwa setiap bank bisa memiliki stablecoin sendiri dan dapat digunakan di crypto wallet seperti MetaMask yang sesuai dengan aturan pembayaran,” tambah GU Technologies.

Stablecoin sebagai Alat Pembayaran di Dunia Web3

Terra USD dan BUSD sebagai contoh token yang merupakan stablecoin

GU Technologies berharap pengembangan salah satu jenis mata uang kripto ini juga bisa digunakan untuk alternatif pembayaran online apa pun, di samping kartu kredit. Selain itu, aset ini juga dipercaya bisa menjadi alat pembayaran di dunia Web3, seperti non-fungible-token (NFT).

“Uji coba juga akan dilakukan untuk melihat fungsi stablecoin dalam melakukan pembelian dan penjualan sekuritas,” tambahnya.

Langkah ini sesuai dengan kebijakan Jepang terkait stablecoin yang rencananya bakal dieksekusi di Juni tahun ini. Dalam aturan terbarunya, Financial Service Agency (FSA) Jepang akan menghapus pembatasan terhadap distribusi domestik stablecoin yang dibuat di luar wilayah Jepang. Hal tersebut menjadikan pihak yang bertanggung jawab terhadap stablecoin adalah distributor.

Menurut pandangan GU Technologies, bank yang menerbitkan stablecoin berpotensi meningkatkan pendapatan investasinya lantaran adanya peningkatan rekening bank dan saldo deposito. Selain itu, stablecoin juga bisa mendorong efisiensi dalam biaya pengembangan dan sistem pengiriman bank.

“Data pembayaran baru juga berpeluang untuk digunakan sebagai data manajemen kredit,” tutur GU.

Regulator Global Tengah Kebut Regulasi Stablecoin

Kuat dugaan bahwa langkah yang dilakukan oleh pihak Jepang sejalan dengan ambisi dari regulator global.

Sebelumnya, BeInCrypto melaporkan Dewan Stabilitas Keuangan (FSB) tengah mengebut panduan terkait kripto, khususnya stablecoin. FSB menyebutkan bahwa stablecoin yang saat ini beredar tidak sesuai dengan aturan tingkat tinggi yang bakal diterapkan.

Meski begitu, FSB menganggap stablecoin memiliki potensi untuk meningkatkan efisiensi dalam sistem pembayaran. Selain itu, lewat stablecoin juga inklusi keuangan global bisa lebih ditingkatkan. Namun, untuk global stablecoin (GSC), FBS beranggapan kehadirannya berpotensi menantang efektivitas dan kelengkapan peraturan yang ada. Hal itu dikarenakan sifatnya yang diadopsi secara luas di berbagai yurisdiksi dan bersifat sistemik.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.