Aave mencatat pertumbuhan wallet harian terbesar dalam hampir lima tahun, dengan 1.806 alamat baru yang dibuat di Ethereum pada 30 Juni, menurut perusahaan analitik on-chain Santiment.
Kenaikan ini sejalan dengan target harga US$3.500 untuk Aave (AAVE) dari Standard Chartered, sebuah bank yang telah beberapa kali memangkas prediksi Bitcoin (BTC) dan Ethereum (ETH) miliknya tahun ini.
Pola Prediksi yang Sudah Terbiasa
Standard Chartered mulai membahas AAVE dengan target yang memperkirakan kenaikan hampir 50 kali lipat pada tahun 2030, berdasarkan prediksi harga Aave US$3.500 yang dikaitkan dengan aset-aset yang sudah ditokenisasi mulai memasuki decentralized finance (DeFi). Bank tersebut juga memberikan prediksi serupa untuk Uniswap (UNI) beberapa minggu sebelumnya, dan prediksi tersebut juga memicu lonjakan aktivitas jaringan Uniswap sebelum akhirnya kembali turun.
Tim riset yang sama menurunkan target Bitcoin untuk tahun 2026 dari US$150.000 menjadi US$100.000 dan juga memangkas target harga Ethereum sebesar 47%, dari US$7.500 menjadi US$4.000, dalam rentang waktu tiga bulan yang sama.
“Kami memperkirakan adanya kenaikan signifikan untuk harga token aset digital hingga akhir tahun, dan menurut kami Aave sudah melampaui insiden bulan April,” ujar Geoff Kendrick, Standard Chartered
Insiden bulan April tersebut adalah kasus exploit KelpDAO, yang menguras sekitar US$292 juta dan menyebabkan dampak exploit KelpDAO yang membuat simpanan Aave hampir turun setengahnya dalam waktu singkat. Setelah itu, Aave kembali menjalankan program buyback AAVE lewat Aavenomics 3.0, dikonfirmasi oleh founder Stani Kulechov, sebagai langkah menambah mekanisme pendapatan langsung ke token dalam pergerakan saat ini.
Apakah wallet baru ini bisa menjadi simpanan dan aktivitas pinjaman, bukan hanya perhatian sesaat, akan menentukan apakah pertumbuhan Aave mampu bertahan lebih lama dibandingkan catatan prediksi milik Standard Chartered sendiri.









