Siklus Hype NFT dan Metaverse Berakhir, Apa yang Bisa Kita Harapkan di Tahun 2023?

31 Oktober 2022, 18:14 WIB
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
31 Oktober 2022, 23:55 WIB
Ringkasan
  • Laporan terbaru dari Activate Technologies mengungkapkan bahwa siklus hype untuk NFT dan metaverse telah usai. Dalam waktu dekat, kedua pasar ini dinilai akan semakin mapan.
  • Seiring berjalannya waktu, NFT menjadi semakin tidak terlihat seperti investasi. Tapi, lebih cenderung seperti sarana untuk membangun komunitas. Sementara itu, metaverse tengah bersiap-siap untuk menjadi investasi perusahaan yang ditargetkan.
  • Di Amerika Serikat, demografi yang lebih muda dan lebih kaya terus mendominasi pasar NFT.

Sebuah laporan terbaru dari Activate Technology mengungkapkan bahwa hype seputar non-fungible token (NFT) dan metaverse telah berlalu. Selain itu, laporan tersebut juga menyebutkan bahwa ke depannya, kedua sektor membutuhkan minat perusahaan yang ditargetkan agar terus bisa bergerak maju.

Di masa depan, akan lahir beragam use case baru untuk NFT yang akhirnya bisa membantu perusahaan-perusahaan dalam membangun loyalitas merek (brand loyalty) mereka. Sementara itu, metaverse sendiri akan membutuhkan pengembangan perusahaan yang berkelanjutan.

Menurut laporan baru dari perusahaan tersebut, NFT telah melewati gelembung puncaknya. Dengan demikian, hype yang menyelimuti sektor ini sekarang sudah berangsur-angsur mereda.

Dengan blockchain dan Web3 yang akan membuat token ini menjadi lebih bermanfaat, NFT akan menjadi produk yang semakin mapan. Berbagai perusahaan juga akan memanfaatkan sektor ini untuk membangun komunitas di lingkungan merek mereka. Selain itu, para pembeli nantinya juga akan mendapatkan benefit dari rasa kepemilikan dari NFT eksklusif yang mereka punya.

Contohnya saja, seperti Starbucks yang saat ini sudah mulai menyediakan pengalaman Starbucks Odyssey. Perusahaan ini memanfaatkan stempel koleksi NFT yang memberi akses bagi para pemiliknya untuk merasakan berbagai pengalaman kopi yang unik.

Ada Pergeseran dalam Pasar NFT

Selain itu, laporan tersebut juga mengungkapkan adanya pergeseran yang terjadi dalam demografi pelaku pasar NFT saat ini. Laporan Activate Technology itu mendefinisikan para pelaku pasar NFT sebagai kalangan yang telah “meneliti, mendiskusikan, menelusuri, menawar, membeli, menampilkan, menjual, atau membuat NFT dalam 12 bulan terakhir.”

Di samping itu, menariknya lagi jumlah pelaku pasar di AS tercatat telah meningkat, dari 12% pada tahun 2021 menjadi 18% pada tahun 2022. Namun, kurang dari sepertiga penduduk AS masih belum mengetahui apa itu NFT. Selanjutnya, terdapat 43% pelaku pasar NFT yang berasal dari rumah tangga kaya dengan pendapatan sebesar US$100 ribu atau lebih.

Metaverse NFTs
Sumber: Activate Technology

Jumlah total penjualan NFT di marketplace primer dan sekunder, tidak termasuk LooksRare, telah berhasil melampaui angka US$23 miliar pada tahun 2022. Menurut informasi, mayoritas pemilik NFT sekarang membelinya untuk sekadar koleksi ataupun dipajang di media sosial. Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi selama siklus NFT sebelumnya, yakni ketika orang-orang membeli dan memperdagangkan NFT sebagai produk investasi yang spekulatif.

Jika kita bandingkan dengan tahun lalu, dengan persentasenya yang mencapai 76%, pada tahun 2022, hanya ada 51% orang dewasa berusia 18 tahun ke atas yang membelinya sebagai investasi. Kemudian, terdapat tambahan 19% pembeli yang menggunakan NFT untuk dipamerkan. Sementara itu, ada lagi tambahan 4% pemilik NFT yang hanya memanfaatkannya sebagai koleksi digital.

Di sisi lain, tercatat ada 12% lebih sedikit pemilik NFT yang membeli NFT lantaran menganggapnya sebagai penemuan yang baru. Sedangkan 2% sisanya, membelinya semata-mata untuk memberi dukungan bagi seniman atau atlet.

Fondasi Metaverse Berhasil Terbentuk

Menurut Activate Technology, bukan hanya bubble NFT yang telah usai, tapi juga siklus hype metaverse. Konsekuensinya, perusahaan kini perlu segera mencari peluang baru di sektor ini, dan menyalurkan sumber daya bisnis mereka untuk area ini. Lebih lanjut, agar perusahaan-perusahaan ini bisa menuai manfaat dari metaverse secara maksimal, mereka perlu berfokus pada interoperabilitas antar dunia virtual.

Faktanya, pembangunan fondasi atau dasar bagi metaverse sendiri telah berlangsung selama lebih dari dua puluh tahun melalui konstruksi dunia virtual yang imersif dalam berbagai game. Pada tahun lalu, sekitar 77% gamer di AS telah berpartisipasi dalam aktivitas non-game dalam konteks game. Sejak saat itu juga, akhirnya para pemain mulai membuat avatar untuk diri mereka sendiri, berkreasi untuk tampilan yang unik, hingga berbelanja barang virtual.

Sementara itu, para gamer di Cina, Jepang, dan juga Korea Selatan secara kolektif telah menghabiskan waktu hingga 30 jam dalam sebulan hanya untuk bermain game seperti Roblox, Minecraft, dan Fortnite yang juga memiliki elemen metaverse tertentu. Elemen-elemen ini mencakup pengalaman imersif, interaksi sosial, realitas campuran, identitas, dan ekonomi in-game.

Hanya saja, realitas virtual (VR) serta augmented reality (AR) ini tidak akan memiliki potensi untuk bisa mencapai adopsi massal, apalagi menjadi masa depan metaverse.

Lalu sebagai penutup, laporan tersebut menyimpulkan bahwa, “Kami berharap bisa melihat investasi yang signifikan dan berkelanjutan dalam inovasinya selama beberapa tahun ke depan.”

Bagaimana pendapat Anda tentang ekspektasi metaverse dan NFT di tahun 2023 nanti? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.