Tantangan dan Optimisme Investasi di Tahun 2022

Bagikan Artikel

Menurut Karim Derhalli, Pendiri & CEO Invstr, investasi tidak akan pernah mati, namun hanya akan berubah bentuk.

Pada akhir tahun 2020, saya memaparkan beberapa alasan untuk tetap optimis tentang prospek tahun 2021. Saya membahas tentang revolusi dalam industri informasi, kedokteran, dan energi yang terus memberikan peningkatan dalam kualitas hidup kita. Pasar saham pun berbagi rasa optimisme saya ini dengan perolehan indeks S&P 500 AS yang naik lebih dari 22%.

Investasi: Hambatan

Kita juga telah melihat angin perubahan yang mulai terbentuk. Terjadinya Inflasi dan meningkatnya ketegangan geopolitik pun menjadi pusat perhatian. Dampaknya, inflasi AS menjadi naik dan terus meningkat secara dramatis hingga mencapai titik tertingginya selama tiga puluh tahun. Selain itu, peristiwa perang yang terjadi di Ukraina sudah merenggut banyak sekali nyawa dan berdampak pada terjadinya guncangan di pasar internasional.

Meskipun bidang investasi dianggap sebagai hal sepele jika dihadapkan pada peristiwa perang dan bencana kelaparan, kita harus tetap optimis tentang masa depan kesejahteraan finansial semua orang. Saat ini, semakin banyak individu yang secara konsisten sadar akan kebutuhan untuk berinvestasi dan bertanggung jawab atas masa depan finansial mereka sendiri. Sehingga, mereka mulai memahami bahwa ketika mereka berinvestasi, terlepas dari apa yang terjadi pada pasar dalam jangka pendek, mereka juga dapat berkontribusi menciptakan hasil yang lebih baik untuk diri mereka sendiri dan masyarakat di masa depan. 

Jadi, meskipun prospek pasar terlihat kurang jelas dibandingkan tahun lalu, prospek jangka panjangnya masih tetap cerah. Berikut adalah tiga faktor yang mendorong perubahan ini:

1. Peningkatan Keberlanjutan

Keberlanjutan telah menjadi bagian vital di setiap wacana politik, sosial, dan ekonomi kita saat ini. Di saat keberlanjutan lingkungan telah lama menjadi fokus utama, maka keberlanjutan finansial pun mulai diakui sebagai isu paling krusial. Sejak krisis keuangan yang terjadi pada tahun 2008-2009, hutang global mengalami lonjakan signifikan dari US$170 triliun menjadi US$296 triliun. Hutang itu adalah uang yang kita curi dari anak cucu kita, karena merekalah yang harus mengembalikannya di masa mendatang. Saat ini, semakin banyak orang yang menyadari bahwa jika kita menginginkan masa depan yang berkelanjutan secara finansial, kita harus berhenti meminjam dan membelanjakan uang. Tetapi, memulai untuk menabung dan berinvestasi.

Untungnya, generasi muda telah memahami hal ini secara intuitif. Pasalnya, mereka tumbuh di tengah krisis keuangan. Mereka kini mulai berinvestasi untuk menciptakan masa depan yang lebih baik daripada masa depan yang akan mereka warisi. Selain itu, mereka juga menyadari bahwa berinvestasi adalah hal yang lebih dari sekadar membeli dan menjual saham. Mereka ingin menjadi generasi yang teredukasi dan mudah bersosialisasi, dan ini adalah indikator yang bagus.

2. Berinvestasi adalah Aktivitas Belanja yang Baru

Dalam dua tahun terakhir, kita telah menyaksikan adanya lonjakan popularitas dalam investasi. Hal tersebut diwakili dengan investor Main Street yang menantang Wall Street di saham seperti Tesla, AMC, dan GME. Berdasarkan fenomena itu, ada beberapa karakteristik yang membedakan cara investor muda berinvestasi.

Mereka ingin melakukannya untuk diri sendiri: revolusi informasi telah mengajarkan generasi muda untuk mandiri dalam melakukan segala hal. Tidak berbeda dengan pengelolaan keuangan mereka, yang juga akan berkontribusi pada peningkatan investasi sendiri.

Dalam hal uang dan investasi, mereka secara signifikan cenderung lebih terbuka daripada private. Bahkan, mereka tidak sungkan mendiskusikan keberhasilan dan kegagalan mereka dalam trading. Mereka juga dengan senang hati menerima saran-saran yang konstruktif dan objektif dari rekan-rekan mereka.

Investor muda cenderung lebih tertarik untuk membeli dan kemudian langsung menjual suatu aset daripada membeli dan kemudian harus menahan (hold) aset tersebut. Terutama, jika perdagangannya bebas biaya alias gratis. Oleh sebab itulah, volume transaksi pun meningkat. Diperkirakan bahwa perdagangan ekuitas ritel AS telah meningkat dari yang awalnya 10% menjadi 25% dari total volume perdagangan.

Para investor muda kini semakin ramai berinvestasi di industri kripto yang kini terbukti telah menjadi kelas aset yang cukup mapan.

Mereka sudah mampu memilih platform fintech baru yang bisa menawarkan semua fitur unggulan dibandingkan broker tradisional dan manajer atau pengelola kekayaan.

Selama bertahun-tahun, industri keuangan telah mempersulit orang awam untuk berinvestasi. Untungnya, kini hal itu tidak lagi terjadi. Kemudahan dalam berinvestasi kini telah membuat bidang investasi dapat diakses oleh semua kalangan.

3. Hikmah di Balik Pandemi Covid

Kita semua melewati masa Covid dengan cara yang berbeda. Ada beberapa orang yang lebih menderita dibandingkan yang lain. Di antaranya, ada juga yang jatuh sakit atau kehilangan orang yang dicintai. Perekonomian global juga terpukul keras oleh hantaman Covid. Namun, Covid telah mengajari kita satu pelajaran penting dan itu adalah kebutuhan untuk berinvestasi: sebagai masyarakat dalam sistem medis kita; sebagai bisnis dalam rantai suplai kita; dan sebagai individu dalam kesehatan pribadi kita sendiri. Ini adalah pelajaran yang kemungkinan akan terus melekat pada kita saat kita terus menghadapi pandemi.

Investasi: Kesimpulan

Tahun 2022 merupakan tahun yang sulit bagi pasar keuangan global. Pasalnya, pada tahun ini terjadi kekhawatiran inflasi akibat perang di Ukraina. Selain itu, ketegangan di Timur Tengah dan China juga akan terus menciptakan volatilitas. Akan tetapi, investor dapat menggunakan berbagai platform untuk menavigasi fluktuasi jangka pendek ini sembari mengasah keterampilan berinvestasi dan membangun kekayaan jangka panjang.

Tentang Penulis

Karim Derhalli adalah seorang pendiri dan CEO di Invstr, sebuah aplikasi edukasi dan investasi keuangan yang telah memenangkan penghargaan. Misi Invstr adalah memberdayakan setiap orang agar dapat mengendalikan masa depan keuangan mereka dengan baik. Baru-baru ini, majalah Forbes bahkan menjuluki Invstr sebagai #1 ‘anti-Robinhood’ karena misi tersebut. Pengguna di lebih dari 220 negara telah mengunduh Invstr, dan tercatat ada 1.000.000 kali unduhan.

Punya pertanyaan terkait investasi atau ada hal lain yang ingin kamu ungkapkan? Jangan sungkan untuk mengirimi kami email atau bergabung di saluran diskusi kami di Telegram. Kamu juga bisa temukan kami di Tik TokFacebook, atau Twitter.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Share Article

Topik Terkait