Vitalik Buterin Sebut 2 Syarat yang Harus Dimiliki oleh Proyek Algorithmic Stablecoin

Bagikan Artikel
Ringkasan
  • Vitalik Buterin membagikan pendapatnya mengenai kegagalan TerraUSD (UST) sebagai algorithmic stablecoin.

  • Dalam sebuah kiriman blog, Buterin mengutip stablecoin RAI sebagai contoh stablecoin terotomatisasi yang ideal.

  • Buterin juga menambahkan bahwa suatu algorithmic stablecoin harus mampu menerapkan tingkat bunga negatif, jika diperlukan.

Trust Project adalah konsorsium organisasi berita internasional berdasarkan standar transparansi.

Vitalik Buterin, co-founder Ethereum, membagikan pendapatnya tentang bagaimana menentukan apakah suatu algorithmic stablecoin berkelanjutan atau tidak. Buterin memberikan 2 syarat yang ia anggap harus dijumpai.

Pernyataan tersebut timbul sebagai reaksi atas kehancuran TerraUSD (UST) dan seluruh ekosistem jaringan Terra baru-baru ini, yang jumlah kerugiannya ditaksir sekitar US$40 miliar.

Melalui sebuah kiriman blog, Buterin menuliskan bahwa algorithmic stablecoin masih memiliki potensi, meskipun banyak dari antaranya masih “cacat dari segi fundamental dan akhirnya akan runtuh.”

“Apa yang kita butuhkan bukanlah promosi stablecoin atau doomerism stablecoin, melainkan kembali ke pemikiran berdasarkan prinsip,” ujarnya.

Kiriman tersebut mengutip stablecoin RAI sebagai contoh automated stablecoin yang ideal. Nilai RAI tidak dipatok ke mata uang fiat. Mereka menggunakan algoritma untuk mengatur nilai bunga secara otomatis, melawan pergerakan harga ketika diperlukan, dan memberikan insentif kepada pengguna agar tetap menjaga RAI berada dalam rentang harganya.

Dua Kriteria utama Algorithmic Stablecoin ala Buterin

Dalam pandangan Buterin, ada 2 pemikiran eksperimen untuk menentukan apakah stablecoin benar-benar stabil. Pertama, apakah pengguna akan masih bisa mengekstrak nilai wajar dari aset tersebut apabila aktivitas pasar turun hingga “hampir nol”.

Menurut Buterin, UST tidak memenuhi kriteria ini. Strukturnya mengharuskan koin volume (volcoin) LUNA untuk mempertahankan harga dan permintaan. Tanpa kedua hal itu, baik stablecoin ataupun volcoin akan runtuh.

“Pertama, harga volcoin jatuh. Kemudian stablecoin mulai terguncang. Sistem berusaha untuk menopang permintaan stablecoin dengan menerbitkan lebih banyak volcoin. Dengan kepercayaan pada sistem yang rendah, [hanya] ada segelintir pembeli, sehingga harga volcoin jatuh secara cepat. Akhirnya, setelah harga volcoin nyaris nol, stablecoin ikut runtuh,” tulis Buterin.

Di samping itu, Buterin juga meyakini bahwa algorithmic stablecoin harus mampu mengimplementasikan tingkat bunga negatif, jika diperlukan.

Merujuk pada annual percentage yield (APY) di Anchor, ia mengatakan, “Jelas tidak ada investasi murni yang bisa mencapai keuntungan nyaris 20% per tahun, dan tentu saja tidak ada investasi murni yang bisa terus meningkatkan tingkat keuntungannya sebanyak 4% per tahun selamanya. Namun, apa yang terjadi bila Anda mencobanya?”

Buterin menjawab sendiri pertanyaan itu, dengan mengatakan bahwa proyek tersebut harus mengenakan “sejenis tingkat bunga negatif kepada para holder yang menyeimbangkan demi membatalkan tingkat pertumbuhan ke dalam mata uang USD yang dibangun ke dalam indeks. Jika tidak, maka proyek itu akan menjadi skema Ponzi.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.
Share Article

Oluwapelumi percaya Bitcoin dan teknologi blockchain memiliki potensi untuk mengubah dunia menjadi lebih baik. Dia gemar sekali membaca dan mulai menulis tentang kripto di tahun 2020.

Ikuti Penulis