Anthropic dikabarkan berencana memberikan saham supervoting kepada CEO Dario Amodei dan para co-founder-nya. Hak suara ekstra ini akan melindungi tim kepemimpinan dari tekanan pasar publik setelah IPO Anthropic resmi dilakukan.
Menurut laporan dari The Information yang mengutip dua orang yang mengetahui rencana ini, ini akan menjadi pertama kalinya para pemimpin Anthropic memegang saham dengan hak suara tambahan.
Saham Supervoting Hadir Sebelum IPO Anthropic
Anthropic telah mengajukan dokumen S-1 secara rahasia ke Securities and Exchange Commission (SEC) pada bulan Juni. S-1 merupakan dokumen administrasi awal untuk proses listing di bursa saham AS.
Perusahaan ini memang layak mengajukan proses tersebut. Putaran pendanaan terakhir menilai perusahaan ini di angka US$965 miliar. Sementara itu, revenue run rate mereka mencapai US$65 miliar pada akhir Juli, sekitar US$25 miliar lebih banyak daripada OpenAI.
Laporan dari The Information menyebut kemungkinan IPO digelar pada bulan September, meski Anthropic belum mengonfirmasi tanggalnya.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan berita terbaru secara langsung
Mengapa perlu hak suara ekstra? Para founder yang membawa perusahaan mereka ke publik seringkali khawatir tentang satu hal. Pemegang saham luar bisa saja memaksakan laba jangka pendek daripada rencana jangka panjang.
Pada tahun 2004, Google membuat langkah defensif modern. Para founder Google memegang saham dengan 10 hak suara agar mereka bisa mengabaikan gejolak laporan keuangan kuartalan. Meta pun meniru model ini, dan Mark Zuckerberg hingga kini masih mengendalikan perusahaannya dengan cara tersebut.
Template SpaceX dan Satu Perbedaan Utama
Elon Musk menjalankan versi paling berani dari strategi ini. SpaceX listing di Nasdaq pada 12 Juni dengan kode ticker SPCX. Dokumen S-1 mereka menyebutkan bahwa saham publik Kelas A mendapat satu hak suara per saham, sementara saham Kelas B yang dimiliki oleh orang dalam mendapatkan 10 hak suara per saham.
Hasilnya pun sangat jelas. Musk memiliki 48,4% saham tetapi menguasai lebih dari 82% hak suara pemegang saham. Pemegang saham Kelas B juga memiliki hak utama dalam memilih anggota dewan direksi.
Dokumen tersebut juga tidak mencantumkan klausul kadaluarsa. Hak suara tambahan ini tidak pernah hangus. Selain itu, SpaceX dianggap sebagai perusahaan yang dikendalikan menurut aturan Nasdaq, sehingga bisa mengabaikan syarat dewan independen.
Singkatnya, Musk hampir tidak memiliki atasan. Inilah strategi yang ingin dipakai Anthropic. Tapi ada satu perbedaannya.
Anthropic akan membagi hak suara ekstra ini ke beberapa co-founder, bukan hanya satu orang saja. Selain itu, mereka juga punya lembaga pengawas yang tidak dimiliki SpaceX.
Perusahaan ini menjalankan bisnisnya sebagai Public Benefit Corporation, suatu bentuk hukum yang mengikat perusahaan pada misi publik sekaligus mencari keuntungan. Sistem tata kelola mereka mencakup Long-Term Benefit Trust (LTBT), sebuah badan independen.
LTBT ini diisi oleh para trustee, termasuk mantan Ketua The Fed Ben Bernanke. Trust tersebut berperan dalam memilih anggota dewan untuk menjaga misi keselamatan AI milik Anthropic, siapapun yang memegang suara terbanyak nantinya.
Dokumen S-1 publik nantinya akan memuat rincian, seperti rasio hak suara hingga apakah ada masa kadaluarsa. Sampai saat itu tiba, keputusan untuk investor masa depan sederhana saja. Mereka bakal mendapat potensi profit, sementara para founder tetap mengendalikan kemudi.









