Lihat lebih banyak

Mengenal Blockchain Bridge dan Apa Manfaatnya

7 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Web3 telah berkembang menjadi ekosistem yang terdiri dari blockchain Layer 1 dan Layer 2 untuk memberikan solusi pembesaran skala. Masing-masing memiliki desain dengan kemampuan dan pertukaran unik. Dengan pertumbuhan jumlah protokol blockchain, permintaan untuk memindahkan aset antarjaringan pun makin besar. Untuk memenuhi permintaan ini, kita membutuhkan blockchain bridge.

Kemunculan berbagai cryptocurrency dan perkembangan jaringan blockchain dengan kemampuan pemrograman, seperti Ethereum, membentuk ekosistem yang sangat baru. Namun, kebanyakan jaringan blockchain hadir dalam bentuk komunitas terisolasi, dengan masing-masing ekonominya sendiri. Makanya, blockchain bridge menjadi satu kebutuhan yang tak terhindarkan dalam ekosistem terdesentralisasi.

Hal ini merupakan perkembangan pesat pada teknologi blockchain, sejak pertama kali muncul dalam white paper Bitcoin pada 2008. Rantai blok ini menjanjikan manfaat dari desentralisasi dan kebebasan kendali bagi siapapun. Namun, pembatasan interaksi antara jaringan blockchain berbeda menciptakan batas bagi desentralisasi, prinsip utama dari teknologi blockchain.

Maka dari itu, blockchain bridge adalah solusi ideal untuk interoperabilitas antara berbagai jaringan blockchain berbeda. Ini membuka jangkauan aplikasi berbasis satu jaringan blockchain agar bisa berguna bagi yang lainnya. Evolusi dari teknologi rantai blok telah mendorong permintaan bagi proyek-proyek jembatan blockchain untuk mendorong interoperabilitas di antara jaringan berbeda.

Berikut ulasan mengenai blockchain bridge, manfaatnya, risiko serta contoh-contoh dari proyek populer.

Apa Itu Blockchain Bridge?

Blockchain bridge adalah jembatan untuk menghubungkan dua ekosistem blockchain. Layaknya jembatan di dunia fisik yang menghubungkan dua lokasi, blockchain bridge memfasilitasi komunikasi antarjaringan dengan transfer informasi dan aset.

Contoh mudahnya sebagai berikut ini. Kamu berasal dari Amerika Serikat dan berencana pergi ke Eropa. Kamu memiliki mata uang USD tetapi butuh EUR untuk belanja. Makanya, kamu butuh menukarkan USD ke EUR di pertukaran mata uang dengan sedikit biaya.

Bagaimana jika kamu butuh pertukaran untuk menggunakan blockchain berbeda? Misalnya, kamu ingin menukarkan ETH dari Ethereum Mainnet ke ETH di Arbitrum. Seperti halnya pertukaran mata uang untuk EUR, kamu butuh mekanisme untuk memindahkan ETH dari Ehtereum ke Arbitrum. Blockchain bridge dapat memungkinkan transaksi seperti ini terjadi. Dalam hal ini, Arbitrum memiliki sebuah native bridge yang dapat mentransfer ETH dari Mainnet ke Arbitrum.

Cara Kerja

Blockchain bridge bisa melakukan berbagai hal yang bermanfaat seperti menukarkan kontrak pintar dan mengirimkan data. Namun, kegunaan paling utama adalah untuk transfer token dan koin kripto.

Contohnya, Bitcoin dan Ethereum adalah dua jaringan cryptocurrency terbesar yang memiliki aturan serta protokol berbeda. Melalui blockchain bridge, penggunan Bitcoin bisa melakukan transfer koin mereka ke Ethereum. Selanjutnya, mereka bisa melakukan transaksi di Ethereum, seperti membeli token atau membayar dengan biaya rendah di jaringan ini.

Ketika kamu memiliki Bitcoin dan ingin mentransfer sebagian ke Ethereum, blockchain bridge akan memegang koin kamu dan membuat koin setara di ETH untuk kamu gunakan. Sebenarnya, tidak ada cryptocurrency yang berpindah dalam hal ini. Alih-alih, jumlah BTC yang ingin kamu transfer terkunci dalam sebuah smart contract ketika kamu mendapatkan akses pada sejumlah ETH yang setara. Ketika kamu ingin kembali ke Bitcoin, ETH yang ada atau tersisa akan terbakar, dan sejumlah BTC yang setara masuk kembali dalam dompet kamu.

Kalau kamu ingin melakukan proses ini secara rutin, kamu harus menukarkan Bitcoin ke ETH di sebuah platform trading crypto. Kemudian, kamu harus menariknya ke sebuah wallet, dan melakukan deposit lain di platform exchange berbeda. Ketika sudah berada di platform berbeda ini, kamu sudah membuang-buang biaya yang mungkin lebih besar daripada hasil trading crypto kamu. Nah, dalam hal inilah blockchain bridge menjadi solusi.

Manfaat

Semua blockchain memiliki keterbatasan. Ethereum perlu melakukan perbesaran skala dan melayani permintaan, sehingga membutuhkan roll up. Di sisi lain, Layer 1 seperti Solana dan Avanche memiliki desain berbada untuk memungkinkan throughput yang tinggi tetapi mengorbankan desentralisasi.

Akan tetapi, semua blockchain berkembang dalam lingkungan terisolasi dan memiliki aturan serta mekanisme konsensus berbeda. Artinya, mereka tidak bisa berkomunikasi pada dasarnya, dan token-token tidak bisa berpindah antar blockchain.

Blockchain bridge dapat menjadi solusi untuk hal ini. Sistem yang berbeda dengan protokol berbeda tetapi masih dapat bertransaksi cepat dan seamless. Sebab, ada aspek interoperabilitas yang hadir di sini. Blockchain bridge hadir untuk menjadi penghubung antar jaringan, memungkinkan transfer informasi dan token di antara mereka.

Jembatan ini memungkinkan:

  • transfer aset dan informasi antar jaringan blockchain.
  • DApps dapat mengakses kekuatan dari berbagai blockchain, sehingga meningkatkan kemampuan mereka (sebab protokol kini memiliki ruang lebih untuk inovasi).
  • pengguna dapat mengakses platform baru dan meraih manfaat dari rantai berbeda.
  • developer dari ekosistem blockchain berbeda dapat berkolaborasi dan membangun platform baru bagi pengguna.

Keuntungan dan Penggunaan

Berikut sejumlah skenario untuk menggunakan jembatan blockchain.

Biaya transaksi rendah

Misalkan kamu memiliki ETH di Ethereum mainnet, tetapi ingin biaya transaksi lebih murah untuk menjelajahi decentralized applications (DApps) berbeda. Dengan menggunakan jembatan untuk ETH dari Mainnet ke sebuah roll up di Layer 2 Ethereum, kamu bisa menikmati biaya transaksi lebih rendah.

DApps di blockchain berbeda

Seandainya, kamu biasa menggunakan Aave di Ethereum Mainnet untuk meminjamkan USDT, tetapi suku bunga pinjaman USDT menggunakan Aave di Polygon lebih tinggi. Jembatan bisa mengatasi hal ini.

Menjelajahi ekosistem blockchain

Kalau kamu punya ETH dari Ethereum Mainnet dan kamu ingin menjelajah sebuah alt L1 untuk mencoba DApps native baru. Kamu bisa menggunakan blockchain bridge untuk mentransfer ETH dari Mainnet ke alt L1.

Memiliki aset kripto native

Misalkan kamu ingin punya cryptocurrency native Bitcoin (BTC), tetapi kamu hanya punya dana di Ethereum Mainnet. Untuk mengakses BTC di Ethereum, kamu bisa membeli Wrapped Bitcoin (WBTC). Namun, WBTC adalah token ERC-20 native di jaringan Ethereum. Artinya, ini adalah versi Ethereum dari Bitcoin, dan bukan aset asli di blockchain Bitcoin.

Untuk memiliki BTC native, kamu harus menjembatani aset kripto kamu dari Ethereum ke Bitcoin menggunakan blockchain bridge. Ini akan membawa WBTC kamu dan mengkonversinya menjadi BTC native. Alternatifnya, kamu mungkin punya BTC dan mau menggunakannya di protokol DeFi Ethereum. Hal ini membutuhkan jembatan dengan arah sebaliknya, dari BTC ke WBTC sehingga bisa menjadi sebuah aset kripto di Ethereum.

Risiko

Blockchain bridge yang ada saat ini masih dalam tahap pengembangan. Makanya, bentuk desain jembatan yang optimal mungkin belum hadir. Menggunakan blockchain bridge yang ada bisa mendatangkan risiko-risiko berikut.

  • Risiko smart contract. Ini adalah risiko bug dalam kode yang dapat menyebabkan dana pengguna hilang
  • Risiko teknologi. Kemungkinan software gagal, kode dengan bug, human error, spam dan serangan jahat bisa mengganggu operasi pengguna.

Di samping itu, jembatan yang sudah terpercaya memiliki asumsi kepercayaan lebih. Namun, ada risiko tambahan seperti:

  • Risiko sensor. Secara teori, operator jembatan bisa menghentikan pengguna saat mentransfer aset mereka menggunakan blockchain bridge
  • Risiko kustodial. Operator jembatan bahkan bisa melakukan kolusi untuk mencuri dana pengguna

Jadi, dana pengguna kripto menghadapi risiko jika:

  • ada bug di smart contract
  • pengguna melakukan kesalahan
  • terjadi peretasan dalam blockchain
  • operator jembatan memiliki maksud jahat dalam trusted bridge
  • jembatan terkena peretasan

Satu contoh peretasan terjadi pada Wormhole bridge milik Solana. Pada kasus itu, 120 ribu wETH setara US$325 juta dicuri selama peretasan. Sejumlah peretasan besar di blockchain terjadi dalam jembatan.

Jenis-jenis Blockchain Bridge

Seperti halnya jaringan blockchain yang memiliki parameter berbeda, jembatan juga punya karakter masing-masing. Satu blockchain bridge tidak bisa mendukung dan bekerja di setiap jaringan atau aset yang ada dalam industri decentralized applications. Sebagai tambahan, terdapat daftar blockchain bridge yang fokus untuk melayani kebutuhan pengguna unit. berikut sejumlah variasi blockchain bridge yang dapat berguna untuk memindahkan aset dan informasi antar jaringan.

Trusted Bridge

Jenis pertama adalah trusted blockchain bridge. Ini pada dasarnya adalah sebuah protokol yang diatur dalam sebuah pendekatan tersentralisasi oleh operator atau entitas. Trusted blockchain bridge mendapatkan namanya karena pengguna harus mempercayai reputasi atau identitas dari jembatan terpusat ini. Sebab, mereka harus menaruh dana mereka di dalamnya.

Trustless

Jenis selanjutnya adalah trustless blockchain bridge. Berbeda dengan trusted, trustless menggunakan algoritma dan smart contract dalam sebuah jaringan blockchain. Makanya, trustless blockchain bridge tidak membutuhkan perantara terpusat atau kustodian.

Pengguna tidak perlu mempercayakan otoritas terpusat untuk tanggung jawab dari aset mereka. Selain itu, trustless bridge menawarkan transparansi komplit dengan memanfaatkan matematika, ilmu komputer dan kriptografi untuk keamanan transaksi. Terpenting, pengguna memiliki kendali penuh atas aset mereka di setiap waktu.

Unidirectional

Tipe unidirectional bridge menunjukkan arah transaksinya, yaitu hanya satu arah. Sesuai dengan namanya, unidirectional hanya bisa memastikan transfer aset dari satu jaringan ke jaringan lain, yang tidak bisa kembali. Ini hanya cocok untuk transfer satu arah.

Bidirectional

Berkebalikan dengan unidirectional, jenis bidirectional bridge memungkinkan transfer aset kripto dua arah antar jaringan. Makanya, jenis ini memberikan alternatif yang bagus ketimbang menggunakan dua unidirectional bridge.

Contoh Populer

Berikut sejumlah contoh populer dari blockchain bridge yang bisa berguna untuk melakukan transfer aset kripto antar jaringan.

Binance Bridge

Blockchain bridge dari Binance ini melayani jembatan dua arah antara Ethereum dan jaringan utama Binance. Ini juga menggunakan fitur spesifik dari BNB Smart Chain yang kompatibel dengan Ethereum untuk membungkus aset token. makanya, jembatan ini bisa membantu mentransfer aset dari Ethereum ke Binance. Aset kripto yang ditransfer akan dibungkus dalam standar BEP-20 token.

Avalance Bridge

Nama yang populer selanjutnya adalah Avalanche Bridge. Ini sebuah jembatan bidirectional untuk mentransfer aset antara Ethereum dan Avalanche. Kemudian, Avalanche Bridge mendukung fungsi ERC-721 dan ERC-20, sehingga bisa berguna untuk transfer NFT dan cryptocurrency. Bahkan, dalam update terbarunya, jembatan ini bisa mendukung transfer aset antara Bitcoin dan Avalance.

AnySwap

Platform ini cukup populer karena memiliki fitur selain mentransfer aset kripto. Setelah terhubung ke wallet, pengguna dapat melihat seluruh saldo di berbagai jenis koin. Selain itu, pengguna dapat dengan bebas mentransfer saldo dari satu tempat ke tempat lain. Namun, ada blockchain tertentu yang hanya dapat menjadi tujuan transaksi tertentu saja.

Kesimpulan

Berdasarkan cara kerja, kegunaan dan manfaatnya, blockchain bridge memiliki potensi untuk berkembang di masa depan. Komunitas blockchain dapat menggunakan bridges ini dan memanfaatkan interoperabilitas, skalabilistas, bersamaan dengan desentralisasi.

Blockchain bridge penting untuk membantu pengguna menjelajahi ekosistem blockchain berbeda dengan transfer aset antar platform dan DApps. Seiring dengan popularitas aplikasi blockchain seperti DeFi, NFT dan DAO yang berkembang, jembatan blockchain ini bisa menawarkan pengalaman yang seamless. Namun, dengan adanya risiko yang muncul dalam transaksi cross-chain, pengguna harus tahu kekurangan dari jembatan ini dan menerapkan kehati-hatian.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apa itu blockchain bridge?

Apa beda trust-based dan trustless bridge?

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Prioritas kami adalah menyediakan informasi berkualitas tinggi. Kami meluangkan waktu untuk mengidentifikasi, meriset, dan membuat konten edukasi yang sekiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menerima komisi dari para mitra kami untuk penempatan produk atau jasa mereka dalam artikel kami, supaya kami bisa tetap menjaga standar mutu dan terus memproduksi konten yang luar biasa. Meski demikian, pemberian komisi ini tidak akan memengaruhi proses kami dalam membuat konten yang tidak bias, jujur, dan bermanfaat.

foto-profil-hanum.png
Hanum Dewi
Hanum Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik. Melengkapi kemampuan menulisnya, dia juga selalu mengikuti tren dan perkembangan terbaru di industri cryptocurrency, DeFi, dan web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori