Apa yang Dimaksud dengan “Fork” dalam Kripto?

Bagikan Artikel

Di dunia kripto, fork” pada dasarnya adalah perubahan dalam suatu protokol blockchain. Karena aset kripto berjalan di jaringan yang terdesentralisasi, maka semua pihak perlu menggunakan aturan yang sama dan bekerja sama secara solid demi melestarikan sejarah blockchain.

Jika tidak, maka konsekuensinya adalah dua blockchain yang berjalan pada saat yang sama di bagian jaringan yang berbeda dari suatu jaringan. Istilah dari kondisi tersebut juga dikenal sebagai chainsplit.

Beragam Cara agar Blockchain yang Ada bisa Mengalami “Fork“:

  • Accidental forks terjadi ketika penambang yang berbeda menemukan block pada waktu yang hampir bersamaan, sehingga akan menciptakan dua blockchain. Jenis fork ini cenderung dapat diselesaikan dengan relatif cepat karena lebih banyak block yang ditambahkan, sehingga satu chain menjadi lebih panjang dan block lainnya dibuang.
  • Intentional forks terjadi saat ada ketidaksepakatan di antara pengembang tentang bagaimana perangkat lunak harus dijalankan. Aturan protokol diubah dan koin baru pun dibuat. Pada titik ini, jika tidak ada minat yang cukup, nilai token akan turun menjadi nol dan berhenti ditambang. Namun, pemisahan chain yang disengaja dapat berhasil jika ada cukup banyak komunitas yang mendukung koin baru. Kemudian, kedua aset tersebut dapat terus berkembang.
fork bitcoin ABC dan Bitcoin SV

Kita dapat mengklasifikasikan accidental forks menjadi soft fork dan hard fork:

Soft Fork

Soft fork biasanya adalah perbaikan kecil yang opsional dan kompatibel. Misalnya, aturan lamanya tidaklah kedaluwarsa dan tidak mengharuskan semua orang untuk memperbarui karena block sebelumnya masih dapat dibaca. Hanya satu blockchain yang tetap valid saat orang meningkatkannya dari versi lama.

Hard Fork

Hard fork terjadi ketika perubahan yang dibuat tidak kompatibel dengan versi sebelumnya. Mereka permanen dan mengharuskan semua pengguna untuk merubahnya ke aturan terbaru. Jika pihak-pihak tertentu gagal untuk melakukan upgrade, maka akan ada chainsplit yang menciptakan dua blockchain berbeda yang beroperasi setelah fork. Pada titik ini, keduanya akan beroperasi berdampingan dan sekaligus secara independen. Pada suatu kondisi, satu dari blockchain tersebut bisa saja akan menjadi lebih dominan dari yang lain.

Bitcoin SV Hard Fork

Beberapa hard fork tidaklah kontroversial, yang artinya, semua pihak akan langsung setuju untuk menerima seperangkat aturan baru.

Hard Fork yang Terkenal

  • Kasus 1: Bitcoin Cash (BCH) dibuat pada tahun 2017 dan saat ini merupakan sebuah hard fork Bitcoin (BTC) yang sukses. Bitcoin dan Bitcoin Cash berbagi sejarah yang sama hingga block ke-478.558. Motivasi di balik Bitcoin Cash adalah serangkaian ketidaksepakatan dalam komunitas yang disertai dengan perdebatan tentang visi Satoshi yang sebenarnya untuk Bitcoin. Terutama ukuran block dan penerapan ‘Segregated Witness‘ (tindakan memisahkan tanda tangan transaksi).
bitcoin cash
  • Kasus 2: Ethereum Classic (ETC) adalah fork dari Ethereum (ETH) yang sukses dan dibuat setelah decentralized autonomous organization (DAO) diretas dengan kerugian lebih dari US$50 juta dalam bentuk ETH. Komunitas Ethereum mempertimbangkan apa yang harus dilakukan dan sebagian besar memutuskan untuk melakukan hard fork di block 1.920.000.

Forking Tidak Sama dengan Cloning

Tidak sedikit orang yang menyalahartikan cloning sebagai sinonim dari forking. Namun, faktanya, cloning adalah suatu kondisi ketika kamu menyalin basis kode dari satu mata uang dan membuat perubahan kecil pada ledger yang benar-benar baru.

github

Cloning didukung dalam platform tempat berbagi kode seperti Github. Kamu dapat dengan mudah menyalin perangkat lunak node yang ada dan menambahkannya atau mengadaptasinya. Kemudian, kamu dapat menjalankan kode baru dan membuat blockchain yang sepenuhnya baru pada ledger yang kosong. Hal ini sering mengarah pada perkembangan yang inovatif. Misalnya, jika kamu mengambil Bitcoin Core, lalu mengubah beberapa parameter dan menjalankan kode untuk membuat koin baru, kamu dapat mengatakan bahwa kamu telah melakukan forking kode Bitcoin. Begitulah cara koin alternatif (altcoin) dibuat.

Misalnya saja, pada tahun 2011, Litecoin dibuat oleh mantan insinyur Google, yaitu Charlie Lee. Ia menggunakan salinan asli kode Bitcoin dan mengubah beberapa parameter seperti tantangan proof-of-work dan kecepatan pembuatan block. Hal ini memungkinkannya untuk meningkatkan kecepatan transaksi dan skalabilitas Bitcoin, menciptakan koin yang dapat kamu gunakan untuk sehari-hari, atau dalam artian transaksi yang lebih kecil.

Masa Depan Forking

Fork memiliki dampak yang cukup besar, baik positif maupun negatif, pada ekosistem kripto. Tidak hanya bisa mendukung bagaimana aset kripto dapat dibuat dan ditingkatkan, fork juga menciptakan “drama”, meningkatkan risiko, serta memicu ketidakpastian dalam suatu komunitas terkait. Hal itu karena semakin banyak orang dengan tujuan berbeda masuk ke industri kripto, maka konsep fork akan terus memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan perkembangan keseluruhan industri aset kripto di dunia.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Prioritas kami adalah menyediakan informasi berkualitas tinggi. Kami meluangkan waktu untuk mengidentifikasi, meriset, dan membuat konten edukasi yang sekiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menerima komisi dari para mitra kami untuk penempatan produk atau jasa mereka dalam artikel kami, supaya kami bisa tetap menjaga standar mutu dan terus memproduksi konten yang luar biasa. Meski demikian, pemberian komisi ini tidak akan memengaruhi proses kami dalam membuat konten yang tidak bias, jujur, dan bermanfaat.
Share Article

Topik Terkait

Jess graduated in the United Kingdom with a Biology degree and then spent several years managing communications for companies in the United Arab Emirates, Africa and South East Asia. She believes that bridging the education gap is a vital step in mainstream understanding of what emerging technologies can offer societies worldwide.

Ikuti Penulis