Blockstream Dapat Modal Rp1,8 Triliun untuk Perluas Fasilitas Bitcoin Mining

25 Januari 2023, 13:29 WIB
Diperbarui oleh Lynn Wang
25 Januari 2023, 14:26 WIB
Ringkasan
  • Blockstream mengumumkan bahwa mereka mengantongi modal baru senilai US$125 juta (Rp1,8 triliun) dari convertible note.
  • Selain itu, Blockstream juga berhasil mengamankan pembiayaan pinjaman untuk memperluas layanan kolokasi Bitcoin mining institusional mereka.
  • Dana yang diterima Blockstream merupakan perkembangan setelah mereka mengantongi pendanaan Seri B senilai US$210 juta pada Agustus 2021.

Blockstream, perusahaan infrastruktur Bitcoin, pada hari Selasa (24/1) mengumumkan bahwa mereka mengantongi modal baru senilai US$125 juta (Rp1,8 triliun) dari convertible note (surat utang yang dapat dikonversi menjadi saham). Selain itu, Blockstream juga berhasil mengamankan pembiayaan pinjaman untuk memperluas layanan kolokasi Bitcoin mining institusional mereka.

Kingsway Capital memimpin convertible note itu dengan dukungan investor lain, termasuk Fulgur Ventures. Sementara itu, Cohen & Company Capital Markets, yang merupakan sebuah divisi dari JVB Financial Group, bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif untuk Blockstream.

Dana yang diterima Blockstream merupakan perkembangan setelah mereka mengantongi pendanaan Seri B senilai US$210 juta pada Agustus 2021.

Kala itu, pendanaan digunakan untuk membangun beberapa fasilitas mining dengan kapasitas untuk pelanggan hosting institusional, serta untuk memperkuat integrasi vertikal blockstream dengan mengakuisisi Spondoolies dalam rangka merancang dan memproduksi mesin ASIC mereka sendiri dan enterprise miner.

Pada Desember 2022, Bloomberg melaporkan Blockstream sedang mencari dana segar dengan penilaian valuasi perusahaan yang lebih rendah dari sebelumnya.

Ingin Perluas Fasilitas Mining

Dalam perkembangannya saat ini, Blockstream, yang didirikan pada tahun 2014, mengaku membangun pertumbuhan pendapatan year-on-year (YoY) yang kuat untuk tahun 2022.

Blockstream mengaku akan menggunakan modal baru yang terkumpul untuk memperluas fasilitas mining mereka guna memenuhi permintaan yang kuat untuk layanan hosting institusional mereka.

Permintaan layanan hosting Blockstream diklaim tetap tinggi karena rekam jejak mereka yang kuat dan skala yang besar, ditambah dengan kekurangan kapasitas daya yang tersedia di seluruh industri terkait.

Hosting disebut tetap menjadi segmen market yang tangguh dibandingkan dengan miner ‘penopang’ (dan pemberi pinjaman mereka) yang secara langsung terpapar pada volatilitas harga Bitcoin dan margin yang terkompresi.

Dengan lebih dari 500 megawatt dalam jalur pengembangannya, Blockstream mengaku sebagai salah satu operator Bitcoin mining terbesar di dunia.

Dengan dana baru, mereka akan memperluas produk Bitcoin mining dengan energi terbarukan, dan terus mengembangkan Bitcoin miner sendiri yang disebut merupakan tingkat institusional pertama.

Selain itu, Blockstream juga mengaku menjadi pemimpin market dalam teknologi layer-2 (L2) Bitcoin yang berkembang pesat, seperti Core Lightning (CLN) dan Liquid Network.

Core Lightning adalah implementasi Lightning modular ringan yang berfokus pada pembayaran mikro Bitcoin. Sementara itu, Liquid Network adalah jaringan L2 Bitcoin yang berfokus pada non-custodial trading, smart contract yang aman, serta penerbitan sekuritas digital, stablecoin dan produk keuangan lainnya.

Blockstream Terus Percaya dengan Kemampuan Bitcoin

Terkait suntikan modal segar ini, Presiden dan Chief Finance Officer (CFO) Blockstream, Erik Svenson, mengatakan bahwa penggalangan dana baru memungkinkan mereka untuk mempercepat pertumbuhan pendapatan YoY dan terus membangun infrastruktur ekonomi Bitcoin di masa depan.

“Kami tetap fokus pada pengurangan risiko untuk Bitcoin mining institusional dan memungkinkan enterprise user membangun kasus penggunaan bernilai tinggi pada Bitcoin yang merupakan blockchain paling aman, kuat, dan dapat diskalakan di dunia,” jelas Erik Svenson.

Pihak Blockstream menyoroti bahwa peristiwa krisis baru-baru ini di industri kripto yang lebih luas menggarisbawahi nilai dan pentingnya pekerjaan yang dilakukan oleh Blockstream dalam pengembangan blockchain dan Bitcoin mining.

Sementara itu, CEO Blockstream, Adam Back, yang juga merupakan sosok Bitcoin Maximalist, mengatakan dengan kehancuran sejumlah entitas kripto terpusat pada 2022, pihaknya percaya ini adalah pengalaman belajar bagi market, bahwa nilai fundamental dari blockchain adalah dengan mengurangi kebutuhan untuk mempercayai pihak ketiga.

“Fokus ulang yang dihasilkan pada keamanan dan desentralisasi menghadirkan peluang bagi pelaku market untuk beralih ke arsitektur non-custodial berbasis Bitcoin,” terang Adam Back.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.