Pada bulan Juli, Komisi Sekuritas dan Bursa Brasil (CVM) membentuk Kelompok Kerja Tokenisasi yang khusus untuk mempelajari pendaftaran, kustodian, perdagangan, dan penyelesaian sekuritas menggunakan distributed ledger technology.
Kelompok ini juga mendapatkan tugas untuk mengusulkan rezim regulasi eksperimental bagi tokenisasi sekuritas, sehingga menempatkan tokenisasi secara langsung dalam agenda regulator untuk modernisasi pasar modal Brasil.
Sementara itu, platform tokenisasi asal Brasil Liqi Digital Assets dan XDC Network memperpanjang kemitraan mereka selama dua tahun lagi dan menaikkan target total penerbitan dari US$500 juta menjadi US$2 miliar hingga tahun 2028.
Perjanjian baru ini mencakup US$500 juta yang merupakan target awal dan menurut kedua perusahaan sudah tercapai, bersama dengan tambahan penerbitan US$1,5 miliar yang masih direncanakan.
Liqi Capai Target Awal US$500 Juta Lebih Cepat Sembilan Bulan
Ekspansi ini terjadi karena penerbitan di bawah perjanjian pertama mereka berlangsung lebih cepat dari perkiraan.
Liqi dan XDC pertama kali menandatangani kemitraan pada April 2025, dengan target hingga US$500 juta untuk real-world assets dalam waktu 24 bulan. Menurut keterangan dari perusahaan, target itu tercapai hanya dalam waktu sekitar 15 bulan, sembilan bulan lebih cepat dari yang direncanakan.
Hal ini membuat Liqi menjadi penerbit aset bertingkat hasil (yield-bearing assets) terbesar di XDC, menurut keterangan perusahaan. Mereka menyebut sekitar US$835 juta sudah ditokenisasi dalam 386 seri dan 60 pool aset, didukung oleh 378 smart contract yang sudah diterapkan di XDC mainnet.
Daniel Coquieri, CEO dan co-founder Liqi Digital Assets, mengutarakan bahwa target awal itu ditetapkan saat permintaan institusi masih sulit diukur.
“Kami menandatangani perjanjian pertama dengan target yang terlihat agresif: setengah miliar dolar dalam dua tahun. Kami berhasil mencapainya dalam lima belas bulan, karena pasar kredit terstruktur di Brasil memang sudah ada – yang belum ada hanya infrastrukturnya. Kami melipatgandakan komitmen karena permintaan juga naik tiga kali lipat. Apa yang sedang kami bangun bukanlah pilot blockchain: ini adalah jalur yang membuat bank dan originator teregulasi menyalurkan kredit, dengan agunan yang bisa diaudit dan penyelesaian secara on-chain.”
Berdasarkan perjanjian yang diperbarui, XDC tetap menjadi blockchain eksklusif Liqi untuk penerbitan RWA. Kedua perusahaan ini ingin memperluas ke bentuk kredit terstruktur lainnya, trade finance, dan tagihan piutang dari originator yang lebih besar.
Kredit Tokenisasi Menjadi Bagian yang Terus Berkembang di Pasar RWA
Fokus pada kredit menjadi kunci karena pasar RWA saat ini berkembang melampaui produk Treasury AS yang ditokenisasi, yang sebelumnya menjadi pendorong utama pertumbuhan institusi di sektor ini.
Saat ini, RWA.xyz melacak sekitar US$7,82 miliar kredit tokenisasi terdistribusi dan US$37,73 miliar aset kredit lain yang terwakili dalam lebih dari 2.500 aset. Kategori ini mencakup kredit korporasi, kredit terstruktur, specialty finance, dan berbagai bentuk utang non-pemerintah lainnya.
Aktivitas Liqi berada dalam bagian pasar ini. Berdasarkan keterangan perusahaan, aset yang sudah diterbitkan di XDC mencakup tagihan piutang, pinjaman dengan potongan gaji, obligasi (debenture), kredit korporasi, dan sertifikat tagihan piutang asal Brasil. Penerbitan ini melibatkan institusi seperti Itaú BBA, Banco BV, Banco ABC Brasil, dan Creditas.
Diego Consimo, Head of LATAM di XDC Network, menuturkan:
“Semua ini adalah operasi kredit terstruktur yang berasal dari pasar keuangan teregulasi, yang kini menggunakan blockchain sebagai bagian efektif dari infrastukturnya.”
Bagi XDC, mendapatkan tambahan penerbitan juga memperkuat eksposur mereka ke sektor RWA di tengah persaingan antar blockchain untuk aset tokenisasi yang kian sengit.
Saat ini, Ethereum memimpin nilai RWA terdistribusi dengan sekitar US$17,6 miliar, diikuti oleh BNB Chain, Solana, dan Stellar menurut RWA.xyz.
Brasil Membawa Tokenisasi ke Dalam Pasar Modal
Regulator di Brasil juga semakin memfokuskan perhatian pada bagaimana aset tokenisasi seharusnya beroperasi dalam sistem keuangan yang sudah ada.
Kelompok kerja baru dari CVM ini melibatkan perwakilan dari 14 divisi regulator dan telah memulai diskusi dengan organisasi seperti ANBIMA, ABCripto, ABToken, serta berbagai pelaku pasar modal. Mandatnya mencakup pengkajian kustodian, pendaftaran, perdagangan, dan penyelesaian menggunakan sistem DLT.
Bank Sentral Brasil secara terpisah juga menjajaki keuangan tokenisasi melalui Drex, lingkungan berbasis DLT yang dirancang untuk perantara keuangan teregulasi dan layanan keuangan yang dapat diprogram.
Jadi, penerbitan komersial dan perkembangan regulasi mulai bersatu. Instrumen kredit sudah bisa dibuat dan diselesaikan lewat sistem blockchain, sedangkan regulator sedang mencari cara agar sistem tersebut bisa berinteraksi dengan aturan pasar efek yang sudah mapan.
Perjanjian Liqi-XDC memberi gambaran tentang volume yang bisa terjadi jika adopsi institusi terus berlanjut. Tapi, komitmen US$2 miliar ini masih menjadi target ke depan dan belum seluruhnya terwujud, sebab masih ada US$1,5 miliar lagi yang dijadwalkan akan dimasukkan ke on-chain dalam dua tahun mendatang.
Bagi pasar tokenisasi di Brasil, apabila target itu tercapai, maka hal tersebut akan membuktikan bahwa kredit tokenisasi dapat berkembang dari penerapan dalam skala terbatas menjadi penerbitan berulang yang melibatkan bank teregulasi, originator, dan instrumen keuangan yang sudah mapan.









