ECB Sebut Kripto Berisiko, namun Adopsi Kripto di Eropa Meningkat

25 Mei 2022, 22:51 WIB
Diperbarui oleh Lynn Wang
26 Mei 2022, 03:20 WIB
Ringkasan
  • Sebanyak 10% rumah tangga di Eropa mungkin memiliki cryptocurrency.
  • Enam persen di antaranya menyimpan aset kripto bernilai lebih dari US$32.000.
  • DeFi dan stablecoin nampaknya menjadi kekhawatiran utama.

European Central Bank (Bank Sentral Eropa [ECB]) merilis sebuah laporan mengenai risiko stabilitas keuangan dari pasar kripto. Laporan tersebut mengungkapkan bahwa 10% dari rumah tangga mungkin memiliki cryptocurrency.

Laporan itu mengonfirmasi pula bahwa mereka telah memerhatikan minat ritel dan institusi yang berkembang, sehingga akhirnya merilis hasil penelitian tersebut.

Sekitar 6% pemilik kripto membenarkan bahwa mereka menyimpan aset digital itu senilai lebih dari US$32.000. Temuan ini senada dengan laporan dari Federal Reserve Bureau baru-baru ini yang menyebutkan semakin tinggi pemasukan rumah tangga, maka semakin mungkin memiliki kripto.

Kendati demikian, rupanya rumah tangga dengan pemasukan lebih rendah lebih mungkin menyimpan kripto daripada rumah tangga berpemasukan menengah.

Para penulis laporan menyatakan bahwa “pertumbuhan yang luar biasa, volatilitas, dan inovasi keuangan” merupakan alasan-alasan yang baik untuk mengawasi risiko pasar kripto dalam hal stabilitas keuangan.

Perubahan Sikap ECB terhadap Risiko Kripto

Di waktu sebelumnya, ECB melihat risiko cryptocurrency pada stabilitas keuangan sebagai sesuatu yang terbatas, tapi pengembangan, seperti decentralized finance (DeFi) telah mengubah pendapat mereka.

ECB menyoroti stablecoin, yang juga mengkhawatirkan bagi banyak pihak, dan insiden ekosistem Terra sebagai contoh risiko. Stablecoin menjadi salah satu kekhawatiran terbesar bagi para regulator dan banyak negara ekonomi maju sedang mencari jalan untuk mengatasi implementasinya.

Kehadiran Kripto Tetap Bertumbuh walau Ada Market Crash

Karena kripto semakin terintegrasi dengan perekonomian global, maka risiko-risiko seperti itu bisa jadi memiliki beberapa justifikasi. Di satu sisi, pasar kripto dianggap sebagai instrumen pelindung nilai yang baik guna melawan risiko dari pasar lainnya. Namun, sepertinya keyakinan itu mulai memudar. Pasar kripto merosot bersama pasar-pasar lainnya selama crash baru-baru ini.

Beberapa negara melakukan segalanya dan menjadikan Bitcoin sebagai legal tender. Hal ini semakin meresahkan bagi lembaga-lembaga global, misalnya Dana Moneter Internasional (IMF) yang mengklaim adopsi seperti demikian dapat menimbulkan risiko.

Sementara itu, negara-negara lain sedang menemukan jalan tengah. Dengan demikian, masih memungkinkan teknologi kripto dan blockchain berfungsi dalam beberapa cara. Namun, tidak melangkah lebih jauh dengan menjadikannya sebagai legal tender.

Saat kripto menuju ke arah adopsi massal, pengawasan pun bakal meningkat, sehingga mengarah pada lebih banyak keterlibatan dari lembaga-lembaga pemerintahan, seperti ECB.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.