Miliuner kripto dan investor populer, Evan Luthra, mengungkapkan detail mengejutkan dari peristiwa penculikan brutal tahun lalu di Oxford, Inggris. Lima pria bertopeng memaksanya menyerahkan lebih dari US$2.000.000 dalam aset kripto hanya dalam waktu 30 menit.
Pihak kepolisian tidak pernah mengumumkan nama korban ke publik. Dalam wawancara eksklusif, Luthra berbagi bahwa kerugian terbesarnya justru terjadi setelah penculikan. Ia menghabiskan waktu berjam-jam tanpa ponsel sementara dana yang dicuri itu berpindah tangan.
30 Menit Mengerikan
Luthra, seorang investor yang pernah masuk Forbes 30 Under 30, berada di London untuk perayaan Halloween tahun lalu. Perjalanannya juga mencakup penghargaan di House of Lords serta pidato di Universitas Oxford.
Pada 4 November 2025, ia meninggalkan acara di Oxford bersama empat temannya. Seorang sopir pribadi, yang dipesan lewat rekan kenalan, sudah beberapa hari mengantarnya.
Dalam perjalanan kembali ke London, sopir tiba-tiba membawa mobil ke jalan kecil yang sepi dan dipenuhi pepohonan. Lima pria bertopeng masuk ke dalam mobil, memukul Luthra, lalu memberi tahu rombongan bahwa mereka hanya ingin Luthra saja.
“Dalam sepuluh detik pertama, saya sadar ini penculikan. Saya juga sadar akan kehilangan jutaan dolar,” ujar Luthra kepada BeInCrypto.
Ia memilih untuk tidak melawan.
“Ada lima orang saat saya diculik, jadi saya berikan semua yang mereka minta,” tutur dia.
Para penculik pertama-tama mengambil jam tangan edisi khusus Richard Mille milik Luthra, yang dinilai polisi mencapai sekitar £450.000. Mereka juga membuka ponselnya dengan Face ID miliknya.
Dari akun Binance milik Luthra, mereka menarik beberapa aset kripto senilai lebih dari US$1.500.000. Selain itu, mereka juga menguras sekitar US$600.000 dalam Ethereum (ETH) dari akun Gate exchange miliknya. Setelah itu, mereka mencoba mengakses rekening bank Luthra.
Setelah sekitar setengah jam, para pelaku pergi sambil membawa seluruh ponsel milik rombongan. Menurut polisi, kendaraan tersebut ditinggalkan di area Five Mile Drive di Oxford utara.
“Mereka sudah tahu siapa saya. Profil saya cukup terbuka di publik. Promotor yang mengatur sopirnya juga tahu saya, dan saya percaya ia terlibat dalam peristiwa ini,” terang Luthra.
Mengapa Jam-Jam Setelah Penculikan Oxford Justru Paling Merugikan
Tanpa ponsel, kelompok itu berjalan menuju kantor polisi terdekat. Serangan itu terjadi siang hari, namun mereka baru selesai membuat laporan setelah tengah malam.
Selama waktu itu, Luthra sama sekali tidak bisa mengakses internet. Ia tidak bisa memperingatkan siapa pun ataupun mencoba menghentikan transfer dana yang sedang berjalan dari akunnya.
“Kalau diingat lagi, itulah kesalahan terbesar saya. Andai saja saya bisa kembali ke hotel, akses laptop dan hubungi orang-orang yang saya kenal di exchange, saya yakin kami bisa selamatkan jauh lebih banyak uang,” papar Luthra.
Keterlambatan ini sangat krusial karena exchange umumnya hanya bisa membekukan dana selama aset masih ada di platform mereka. Begitu aset kripto berpindah ke wallet pribadi atau layanan lain, upaya pemulihan jauh lebih sulit.
Meski begitu, Luthra mengakui kelompoknya masih beruntung. Ia memang sempat dipukul, namun tak ada yang mengalami luka berat atau permanen.
Pada Januari 2026, mantan bankir Ukraina, Alexandru Adarici, tewas di Milan dalam kasus dugaan penculikan guna memeras €250.000 dalam aset kripto. Di bulan yang sama, penculik di Prancis menyekap seorang pria 74 tahun selama 16 jam, bahkan melukai wajah dan tangan korban saat menuntut €3.000.000 dalam aset kripto dari anaknya.
Sejumlah Crypto Exchange Bantu Luthra
Begitu Luthra mendapat lagi akses ke perangkatnya, ia langsung menghubungi kontak di Binance dan MEXC. Kedua exchange itu berhasil membekukan sebagian dana curian dan membantu proses pengembalian dana.
Binance berhasil mengembalikan sekitar US$370.000. Proses ini mengandalkan perintah pengadilan Inggris berdasarkan Proceeds of Crime Act (POCA), yang memungkinkan pengadilan menyita serta mengembalikan hasil kejahatan.
Luthra mengatakan ini merupakan perintah POCA pertama yang melibatkan Binance. Firma hukum London Cooke, Young & Keidan menangani proses pengadilan dan pemulihan dana tersebut.
MEXC juga memblokir dana dan berbagi data terkait aliran dana sisa, yang membantu pelacakan lebih lanjut.
Secara total, Luthra mengatakan ia sudah berhasil memulihkan hampir US$1.000.000. Ia enggan menyebutkan angka pastinya, dan sebagian besar dana curian masih belum ditemukan.
“Exchange bertindak cepat begitu saya menghubungi mereka.”
Menurutnya, jika kontak dengan exchange berlangsung lebih cepat, lebih banyak dana yang bisa dibekukan sebelum dialihkan ke tempat lain.
Pada akhir bulan lalu, Luthra sempat menyebutkan kasus penculikan ini di X, dengan catatan bahwa sebagian dana curian sudah berhasil dibekukan.
Kasus Ini Tak Akan Disidangkan Sebelum Akhir 2027
Polisi Thames Valley telah menjalankan apa yang disebut Detektif Sersan Stuart McMaster sebagai “penyelidikan kompleks.” Investigasi ini mencakup penelusuran CCTV, kamera plat nomor, hingga penelusuran keuangan dan aset kripto.
“Kami mendukung para korban dan terus memberikan update selama proses investigasi kami yang kompleks,” ujar McMaster dalam imbauan kepolisian pada November 2025.
Polisi menangkap empat pria dari London, Birmingham, dan Kent pada bulan itu, berusia antara 19 dan 37 tahun. Saat itu, semua dilepaskan dengan jaminan.
Pada Desember 2025, polisi menjerat Abdul Malik Cali, 24 tahun, dengan lima tuduhan konspirasi melakukan perampokan. Ia ditangkap di Bandara Heathrow dan saat itu langsung ditahan, menurut laporan setempat.
Luthra mengatakan beberapa penangkapan telah dilakukan dan kasus ini melibatkan banyak terdakwa. Sidangnya rencana digelar bulan ini, namun bergeser ke November 2027.
Menurut Luthra, pengadilan sekarang membutuhkan waktu lima minggu, bukan empat. Belum ada slot jadwal selama itu yang tersedia lebih cepat.
“Saya paham mereka harus menangani ini dengan benar dan memberikan waktu yang cukup pada kasusnya. Tapi rasanya tetap sangat mengecewakan harus menunggu satu tahun lagi.”
Ia menambahkan, polisi memberitahu dirinya bahwa perampokan sebesar ini jarang terjadi di Oxford belakangan ini.
Penculikan Terkait Kripto Meningkat Secara Drastis
Luthra meyakini karena dirinya cukup dikenal, ia jadi target. “Mereka sudah tahu siapa saya. Profil saya cukup terbuka,” tutur dia.
Kasusnya sesuai pola lebih luas dari yang disebut sebagai wrench attacks. Dalam serangan ini, pelaku menggunakan kekerasan fisik untuk memaksa korban menyerahkan aset kripto. Menurut Chainalysis, serangan seperti ini mencapai rekor US$58 juta pada 2025.
Perusahaan analitik blockchain itu juga mencatat ada US$30 juta lagi yang dicuri di paruh pertama 2026. Prancis mengalami lonjakan tertinggi, termasuk insiden perampokan rumah terhadap pekerja kripto dan keluarganya.
Chainalysis juga menyoroti bahwa penyerang yang mencairkan hasil kejahatan lewat exchange meninggalkan jejak paling mudah dilacak. Pemulihan sebagian dana yang dialami Luthra menunjukkan peluang masih ada, namun jendela itu bisa cepat tertutup.
Kenaikan serangan kekerasan ini berarti semakin banyak holder populer menghadapi dilema sama seperti yang dialami Luthra di dalam mobil saat itu.
“Uang selalu bisa dicari lagi. Jam tangan baru bisa dibeli… Tapi nyawa atau kerusakan fisik permanen tidak bisa dikembalikan.”









