Lihat lebih banyak

FDIC Sebut Kegagalan Signature Bank Dipicu oleh Kejatuhan Silvergate Bank dan SVB

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • FDIC menyebut penutupan Signature Bank dipicu oleh likuiditas yang mengering, serta efek dari kegagalan Silvergate Bank dan Silicon Valley Bank (SVB)
  • Di samping itu, FDIC membeberkan bahwa akar masalah di balik kegagalan Signature Bank juga disebabkan karena buruknya manajemen yang ada di dalamnya.
  • Lalu, FDIC turut menjadikan faktor ketergantungan berlebih pada simpanan yang tidak diasuransikan sebagai salah satu penyebab berhenti beroperasinya Signature Bank.
  • promo

Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC), entitas yang ditunjuk untuk mengurus asuransi dalam kegagalan Signature Bank, menyebut penutupan Signature Bank dipicu oleh likuiditas yang mengering, serta efek dari kegagalan Silvergate Bank dan Silicon Valley Bank (SVB). Jatuhnya duo perbankan jumbo tersebut membuat pasar panik yang pada akhirnya mendorong banyak pihak untuk melakukan penarikan dana serentak dalam jumlah besar.

Dalam tinjauan internalnya, FDIC membeberkan bahwa akar masalah di balik kegagalan bank yang masuk dalam jajaran 30 lembaga perbankan terbesar di Amerika Serikat (AS) itu juga disebabkan karena buruknya manajemen yang ada di dalamnya.

Selain itu, Chief Risk Officer FDIC, Marshall Gentry, menuturkan bahwa para direksi dan juga manajemen Signature Bank hanya terpaku pada proses pertumbuhan yang cepat dan tidak terkendali. Sehingga, mereka mengesampingkan praktik dan kontrol manajemen risiko yang sesuai dengan profil risiko perusahaan.

“Manajemen perusahaan tidak menjadikan prioritas praktik tata kelola perusahaan yang baik dan juga tidak mengindahkan rekomendasi pengawasan FDIC,” jelasnya dalam keterangan resmi.

Gentry mengakui untuk bisa menjaga keamanan dan kesehatan bank, dibutuhkan penerimaan dan juga daya tanggap yang baik dari pihak perbankan agar bisa lebih mengukur pertumbuhan bisnis beserta pengawasan yang kuat dari regulator.

Di samping itu, FDIC turut menjadikan faktor ketergantungan berlebih pada simpanan yang tidak diasuransikan sebagai salah satu penyebab berhenti beroperasinya Signature Bank. Kuat dugaan, hal tersebut mengacu pada banyaknya perusahaan kripto yang menaruh dana simpanannya di Signature Bank.

Signature Bank Disebut Gagal Memahami Risiko Kripto

Dalam laporan pengawasannya, FDIC mengatakan pula bahwa Signature Bank gagal memahami risiko yang bisa muncul dari adanya kegagalan industri kripto di tahun 2022 dan 2023. Meski begitu, lembaga regulator ini tidak menampik bahwa ada hal yang tidak biasa dan baru kali ini terjadi, yakni ketika terdapat gelombang penarikan dana besar-besaran pada 10 Maret lalu, sehingga tidak sempat untuk dimitigasi.

Sejak pertama kali membuka diri terhadap aset digital, jumlah dana simpanan Signature Bank melonjak dengan signifikan. Padahal, dana tersebut tergolong sebagai dana yang tidak diasuransikan. Pada sisi inilah yang disebut FDIC sebagai permasalahan Signature Bank.

Di tahun 2019, toal simpanan aset digital perusahaan masih mencapai US$1,7 miliar. Kemudian, jumlahnya naik menjadi US$9 miliar di 2020 dan tumbuh lebih dari 3 kali lipat menjadi US$28,7 miliar di 2021.

Namun, di kuartal empat tahun lalu, arus dana keluar juga sangat deras, yang utamanya berasal dari simpanan aset digital. Naiknya suku bunga acuan membuat pasar kripto mengatur ulang portofolio investasinya.

“Sepanjang 2022, sebanyak US$17,6 miliar dana simpanan keluar, dimana 62% diantaranya berasal dari simpanan aset digital,” jelas FDIC.

Aset Kripto Dianggap Kurang Matang

Pandangan dari FDIC ini berbeda dengan New York Department Financial Services (NYDFS). Pihak NYDFS mengatakan bahwa penutupan Signature tidak berkaitan dengan adanya pelanggan kripto dalam struktur dana pihak ketiga (DPK) perusahaan.

Walau tidak menyalahkan aset kripto sebagai faktor kegagalan Signature Bank, Adrienne Harris, pengawas di NYDFS, sepakat bahwa industri kripto saat ini masih belum matang dan kurang dewasa. Hal itu didasari pada adanya temuan yang memperlihatkan bahwa industri aset kripto tidak memenuhi program kepatuhan yang tepat.

Salah satu bagian dari program kepatuhan adalah memiliki teknologi yang tepat. Padahal, kenyataannya masih banyak perusahaan kripto yang menggunakan aplikasi Microsoft Excel dan lembar kertas. Bagi NYFDS, tindakan seperti itu rentan terhadap prinsip kerahasiaan bank dan anti pencucian uang (AML).

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori