Inflasi harga makanan meningkat lebih cepat bulan lalu, dan beberapa data saat ini menunjukkan tren ini bisa berlanjut hingga tahun depan. Inflasi perusahaan makanan dan minuman di Amerika Serikat melonjak 7,9% secara tahunan pada bulan Maret, menjadi kenaikan terbesar setidaknya dalam 12 bulan terakhir.
The Kobeissi Letter menyoroti kalau kenaikan di bulan Maret itu dipicu terutama oleh naiknya harga bahan bakar. Dampak penuh dari kenaikan harga pupuk dan plastik sendiri belum sepenuhnya terasa di rak toko.
Mengapa Biaya Makanan Terus Naik
Tomat mencatat kenaikan paling tajam yaitu 102% secara tahunan, sementara harga sayuran naik 90% dan solar melonjak 88%. Secara keseluruhan, kenaikan utama bertambah 373 basis poin dari 4,2% di bulan Februari.
Pupuk sekarang menjadi perhatian utama. Urea, pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan, harganya hampir dua kali lipat sejak Februari menjadi sekitar US$900 per metrik ton. Secara historis, urea belum pernah menyentuh harga setinggi ini sejak 2022.
“70% responden mengatakan pupuk sangat mahal sehingga mereka tidak dapat membeli semua pupuk yang dibutuhkan,” ungkap survei American Farm Bureau Federation tersebut.
Petani sebenarnya sudah mengalami tekanan bahkan sebelum gejolak ini. Jumlah pengajuan kebangkrutan Bab 12 naik 46% menjadi 315 kasus pada 2025, menurut American Farm Bureau Federation. Ini merupakan kenaikan tahunan ketiga secara berturut-turut.
“Kerugian signifikan diperkirakan kembali terjadi di berbagai sektor tanaman selama satu tahun ke depan, dan banyak sektor peternakan juga mengalami pengetatan margin,” tulis Ekonom Samantha Ayoub. “Penurunan pemasukan pertanian yang diperkirakan terjadi selama empat tahun berturut-turut akan terus menambah tekanan bagi sektor pertanian, sehingga makin bergantung pada opsi kredit yang kini makin terbatas.”
Gangguan di Hormuz Membawa Dampak Global
Di sisi lain, guncangan harga pupuk berasal dari gangguan di Selat Hormuz, yaitu jalur pengiriman utama bagi eksportir besar. Tidak hanya Amerika Serikat, India dan negara ekonomi agrikultur lainnya juga menghadapi risiko langsung, sementara kelangkaan turut mempengaruhi keputusan tanam di musim kharif yang sangat penting.
Ikuti kami di X untuk mendapatkan kabar terbaru secara real-time
Perusahaan jasa migas Baker Hughes memperkirakan Selat Hormuz belum akan terbuka sepenuhnya sebelum semester kedua 2026. CFO Ahmed Moghal memberi tahu investor bahwa perusahaan beroperasi dengan asumsi konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan berlangsung setidaknya sampai bulan Juni.
Dalam survei The Fed Dallas, hampir 80% dari sekitar 100 eksekutif energi memperkirakan Selat Hormuz akan tetap tertutup hingga Agustus atau bahkan lebih lama lagi. Jadi, pandangan bersama ini menunjukkan gangguan akan berlangsung lama.
Harga pupuk terus naik. Jumlah kebangkrutan petani makin bertambah untuk tahun ketiga. Dengan jalur pengiriman utama masih kemungkinan terus terbatas, faktor-faktor ini berpotensi mendorong harga bahan makanan melewati level di bulan Maret.
Langganan kanal YouTube kami untuk menyaksikan para pemimpin dan jurnalis membagikan wawasan ahli





