Bitcoin btc
$ usd
Laporan Berita

Kian Populer, Pasar Metaverse Real Estat Diramal Bakal Mencapai US$5,37 Miliar

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang

Ringkasan

  • Data dari Technavio menyebutkan, karena popularitasnya, nilai pasar metaverse real estat dipercaya mampu melesat hingga US$5,327 miliar.
  • Capaian itu akan diperoleh mulai dari tahun 2021 sampai dengan 2026. Namun, momentum pertumbuhan tersebut kemungkinan bakal mengalami perlambatan pada CAGR sebesar 61,74%.
  • Amerika Utara disebut sebagai wilayah yang akan memberikan kontribusi terbesar dalam pertumbuhan nilai pasar.

Konsep metaverse semakin populer di kalangan khalayak arus utama. Banyak sektor industri yang tengah berlomba untuk masuk ke dalam metaverse dan memberikan pengalaman unik pada para penggunanya. Data dari Technavio menyebutkan, karena popularitasnya, nilai pasar metaverse, khususnya metaverse real estat, dipercaya mampu melesat hingga US$5,327 miliar.

Capaian itu akan diperoleh mulai dari tahun 2021 sampai dengan 2026. Namun, momentum pertumbuhan tersebut kemungkinan bakal mengalami perlambatan pada compound annual gross rate (CAGR) sebesar 61,74%.

Sampai dengan akhir tahun ini, nilai pasar metaverse diprediksi bakal meningkat sebanyak 90,74%. Semakin populernya penggunaan mixed reality dan mata uang kripto akan menjadi katalis positif yang pada akhirnya mendorong pasar metaverse ke posisi yang lebih baik lagi.

Membincang metaverse tidak bisa terlepas dari evolusi virtual reality (VR). Maklum, penggunaan headset VR merupakan langkah kunci untuk bisa menikmati apa yang tersaji di dalam metaverse.

“Orang yang mengakses platform metaverse dapat membeli tanah ataupun real estat. Mereka juga bisa menjual atau menyewakannya kepada orang lain,” bunyi laporan tersebut.

Kemudian, penggunaan dan pengembangan mata uang kripto, mulai dari Bitcoin (BTC) ataupun Litecoin (LTC), juga akan ikut mendorong perkembangan industri real estat di metaverse. Di samping itu, turunan dari aset kripto, seperti non-fungible token (NFT), juga dipercaya ikut mendorong popularitas penggunaan metaverse.

Hal itu dapat dipahami. Pasalnya, setiap pengguna yang ingin mendapatkan tanah virtual di metaverse harus menggunakan aset kripto tertentu untuk bisa bertransaksi. Aset kripto semacam itu menawarkan aksesibilitas yang lebih besar ke sektor real estat virtual.

Amerika Utara Bakal Dorong Pertumbuhan Nilai Pasar

Menurut laporan tersebut, wilayah Amerika Utara akan banyak berkontribusi terhadap pertumbuhan nilai pasar metaverse. Sebanyak 41% pengguna metaverse akan berasal dari wilayah tersebut. Beberapa negara yang berada di wilayah Amerika Utara memiliki tingkat adopsi kripto yang baik.

“Pertumbuhan pasar metaverse di kawasan ini akan lebih cepat dari pertumbuhan pasar di Amerika Selatan dan MEA. Meningkatnya adopsi aplikasi berteknologi maju di antara konsumen dan semakin banyak merek besar yang membeli tanah virtual akan memfasilitasi pertumbuhan pasar real estat metaverse di Amerika Utara selama periode 2021 – 2026,” ungkap Technavio dalam laporannya.

Lebih lanjut, laporan tersebut juga menjelaskan perkembangan pasar real estat di metaverse memiliki kaitan erat dengan masuknya merek-merek global; seperti Nike, Facebook, dan Microsoft. Hal itu pada akhirnya mendorong masuk perusahaan lain ke metaverse.

Persaingan Pasar Real Estat di Metaverse Akan Makin Sengit

Kompetisi dari beberapa platform metaverse global akan mewarnai pertumbuhan pasar real estat di metaverse. Mulai dari Axie Infinity yang rencananya bakal merilis Lunacia yang terdiri dari banyak tanah virtual yang bernama Terra; kemudian ada pula Cryptovoxels, Decentraland Foundation, Linden Lab, ShibaLand LLC, Somnium Space LTD, SuperWorld Inc, TandB Media Global Thailand Co. LTD, The Sandbox, The Voxel Agents, Tokens.com, dan Uplandme Inc.

Penjualan properti di metaverse memang tengah naik daun. Data Chainalysis menyebutkan, sejak periode September 2019 sampai dengan Maret tahun ini, harga properti berbasis blockchain melonjak 879%. Bila kita bandingkan dengan kenaikan harga properti riil di dunia nyata yang hanya mencapai 39%, persentase ini sangatlah kontras.

Harga tanah virtual yang berada di masing-masing metaverse pun berbeda-beda. Semuanya bergantung pada jenis blockchain yang digunakan.

Sampai saat ini, harga tertinggi untuk tanah virtual berada di jaringan Ethereum. Sedangkan, harga lahan virtual dalam metaverse di jaringan blockchain Solana memiliki entry level yang jauh lebih rendah.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.