Lihat lebih banyak

Setelah Kripto, Inggris Berpotensi Perketat Pengawasan NFT

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Komite Kebudayaan, Media dan Olahraga Inggris merekomendasikan agar pemerintah juga mengawasi industri NFT untuk melindungi konsumen.
  • Pihak komite mengatakan sebagai karya seni, NFT berpotensi melanggar kekayaan intelektual para seniman di pasar online.
  • Desakan itu muncul setelah pada 8 Oktober kemarin, Otoritas Pengawas Keuangan (FCA) Inggris secara resmi mulai menjalankan pengetatan aturan dalam materi promosi kripto.
  • promo

Setelah resmi memulai aturan promosi bagi industri kripto, pemerintah Inggris melangkah lebih jauh untuk mengatur aset turunannya, yaitu non-fungible token (NFT). Laporan dari salah satu komite di parlemen Inggris menyebutkan bahwa pihaknya mendorong pemerintah untuk berkolaborasi dengan pasar NFT agar bisa lebih melindungi konsumen.

Komite Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris mengatakan sebagai karya seni, NFT berpotensi melanggar kekayaan intelektual para seniman di pasar online. Padahal, di sisi lain, NFT juga digunakan untuk memperoleh tambahan pendapatan dari para penggemar. Namun, menurut kacamata komite, hal tersebut bisa menjadi ajang untuk memunculkan iklan NFT yang menyesatkan atau bahkan menipu.

Desakan itu muncul setelah pada 8 Oktober kemarin, Otoritas Pengawas Keuangan (FCA) Inggris secara resmi mulai menjalankan pengetatan aturan dalam materi promosi kripto.

Dalam aturan tersebut, dijelaskan bahwa masing-masing entitas harus melakukan pendaftaran ulang dan memastikan bahwa setiap iklan yang ditampilkan memuat risiko secara menyeluruh dari aktivitas kripto. Tujuannya adalah agar masyarakat mendapatkan pemahaman secara utuh, sehingga setiap pihak yang ingin terlibat di dalamnya sadar terhadap risiko yang melekat.

Nampaknya, pihak Komite Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris menginginkan hal yang sama juga berlaku bagi NFT. Melalui rekomendasinya, komite juga mendorong pemberlakuan kode etik yang mampu melindungi konsumen dan kreator dari materi penipuan.

“Meskipun apa yang diharapkan dari NFT belum terealisasi, tetap terdapat risiko dan potensi kerugian yang nyata bagi kreator dan konsumen saat menggunakannya. Beberapa di antaranya adalah terkait dengan pelanggaran hak cipta, upaya hukum, dan ganti rugi yang terbatas.”

Penjualan NFT Palsu Lebih Cepat dari Penegakan Hukumnya

Berbagai upaya juga sudah dilakukan oleh marketplace NFT untuk meredam hadirnya NFT palsu atau yang mengandung unsur plagiarisme. Beberapa di antaranya adalah dengan menghadirkan alat khusus untuk menegakkan aturan royalti, hingga merilis kebijakan anti pencurian untuk menghadang penjualan NFT ilegal.

Namun, nyatanya hal tersebut tidak bisa dibendung. Komite Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris mengatakan OpenSea, salah satu marketplace NFT terbesar di dunia, sudah menghapus 80% NFT dari platform mereka, karena diduga memiliki kaitan dengan plagiarisme, pemalsuan ataupun penipuan.

“Lebih mudah untuk membuat NFT yang tidak sesuai dengan aturan ketimbang menegakkan hak para seniman. Setiap NFT juga bisa hosted di seluruh pasar, sementara permintaan penghapusan harus dilakukan secara satu per satu di masing-masing marketplace yang membuatnya tidak efektif.”

Larang Penggunaan Fan Token

Sikap kritis terhadap NFT juga bakal menyasar industri olahraga, khususnya sepak bola. Seperti diketahui, keterlibatan aset digital di dalam dunia sepak bola Inggris tidak bisa dipisahkan. Beberapa klub sepak bola papan atas juga ikut meramaikan pasar NFT dengan merilis koleksi digitalnya.

Misalnya, Liverpool FC, yang pada Maret tahun lalu merilis NFT bernama LFC Heroes Club. Selain itu, juga ada Manchester United FC, yang juga ikut meluncurkan koleksi NFT mereka di jaringan Tezos.

Selain NFT, para klub olahraga kini juga mulai memanfaatkan teknologi fan token yang juga berfungsi sebagai token utilitas. Setiap pemilik token dapat mendapatkan imbalan atas dukungannya kepada klub. Imbalan tersebut bisa berbentuk kepemilikan suara di dalam forum atau benefit lainnya.

Namun, ternyata dalam catatan komite, penggunaan fan token tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terdapat beberapa pihak yang tidak memenuhi janjinya pada pelanggan terkait imbalan atas kepemilikan token. Selain itu, mekanisme ini juga disebut membuat posisi penggemar sangat berisiko terhadap volatilitas harga.

“Di sisi lain, klub sepak bola mendapatkan tambahan pendapatan yang tidak berisiko dari penggemar. Oleh karena itu, kami merekomendasikan agar setiap keterlibatan penggemar dalam olahraga, termasuk di aturan sepak bola, secara eksplisit melarang penggunaan fan token,” pungkas Komite Kebudayaan, Media, dan Olahraga Inggris.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Februari 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori