Lihat lebih banyak

Mengamati Siklus Historis Harga Bitcoin (BTC), Akankah Bull Run Terjadi di 2023?

3 mins
Oleh Valdrin Tahiri
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Harga Bitcoin (BTC) sudah naik selama 240 hari setelah menyentuh titik terendah pada siklus pasar kali ini. Sementara pada siklus sebelumnya hanya bertahan selama 180 hari.
  • Meski aksi harga pada time frame harian masih bearish, indikator RSI telah menghasilkan pola bullish divergence, yang memicu dimulainya pemantulan signifikan.
  • Jika harga BTC berhasil breakout dari garis descending resistance, berarti trennya bullish. Jika gagal, hal tersebut akan mengonfirmasi bahwa koreksi masih berlanjut.
  • promo

Harga Bitcoin (BTC) sempat memantul minggu lalu, yang nampaknya menandai akhir dari fase konsolidasi yang telah berjalan selama hampir sebulan.

Meskipun demikian, BTC masih belum berhasil breakout dari garis descending resistance yang krusial. Aksi breakout ini diperlukan untuk mengonfirmasi adanya tren bullish reversal.

Bagaimana Pergerakan Harga Bitcoin Dibandingkan dengan Siklus Sebelumnya?

Penurunan BTC yang sedang berlangsung sejak mencapai rekor tertingginya sepanjang masa (all-time high/ATH) pada November 2021 memiliki kemiripan yang menarik dengan penurunan yang terjadi setelah tercetaknya puncak tertinggi di tahun 2017. Selama berlangsungnya kedua siklus Bitcoin ini, titik bottom dicapai setelah 12 bulan. Selain itu, keduanya mencatatkan penurunan RSI di bawah 50 (lingkaran hijau) untuk sementara waktu sebelum akhirnya naik di atas 50.

RSI adalah indikator momentum yang digunakan oleh para trader untuk menilai apakah pasar berada dalam kondisi overbought (terlalu banyak yang beli) atau oversold (terlalu banyak yang jual). Sehingga, mereka dapat menentukan apakah perlu mengakumulasi atau menjual aset. Angka di atas 50 dan tren yang naik menunjukkan bahwa para bull masih unggul, sementara angka di bawah 50 menunjukkan hal yang sebaliknya.

Pada siklus sebelumnya, harga BTC memulai pergerakan naik sebesar 340% (hijau) yang berlangsung selama 180 hari. Baru kemudian, harganya terkoreksi sebesar 70% selama periode 270 hari sebelum memulai siklus berikutnya. Sebagai catatan, harga penutupan ETH tidak pernah berkisar di bawah support horizontal jangka panjang di level US$6.500.

Sedangkan pada siklus saat ini, harga Bitcoin memulai tren naik yang jauh lebih bertahap. Harganya meningkat 100% dalam periode 240 hari, yang mengarah ke level tertinggi 2023 di US$31.800 pada bulan Juli.

Bitcoin (BTC) Price Movement
Grafik Bulanan BTC/USDT | Sumber: TradingView

Apabila siklus ini mengikuti jalur serupa dengan siklus yang terakhir, harga BTC akan terkoreksi hingga akhir tahun. Terlebih, hal ini juga bisa didukung oleh rencana FTX untuk melikuidasi Bitcoin senilai US$560 juta. Namun, lantaran kenaikannya lebih bertahap, ada kemungkinan hal yang sama juga akan berlaku untuk koreksi harga. Aksi turun ke level support horizontal jangka panjang terdekat akan menyebabkan penurunan sebesar 25% lagi.

Bitcoin Memantul usai Bullish Divergence, Akankah Terjadi Breakout?

Analisis teknikal untuk time frame harian memberikan sinyal yang bertentangan. Hal ini disebabkan oleh aksi harga yang bearish dan RSI yang relatif bullish.

Aksi harga menunjukkan bahwa harga BTC telah turun sejak puncak tahunan US$31.800 pada 13 Juli. Penurunan tersebut telah tertahan di dalam garis descending resistance. Garis tersebut menolak harganya pada 14 Agustus (ikon merah). Kendati BTC memantul setelahnya, pemantulan tersebut gagal mencapai garis resistance (lingkaran merah), sebuah tanda bahwa para bull tidak cukup kuat untuk mempertahankan momentum pemantulan tersebut.

Bila harga BTC berhasil breakout dari garis itu, maka harganya dapat mencapai resistance berikutnya di level US$29.200. Area resistance ini berada 10% di atas harganya saat ini. Di sisi lain, kegagalan untuk mempertahankan kenaikan bisa menyebabkan penurunan 8% ke level support Fibonacci retracement 0,618 di US$24.300.

RSI harian memberikan pembacaan yang mayoritas bullish. Meskipun RSI terpantau belum bergerak di atas 50, angkanya meningkat secara signifikan. Lebih lanjut, indikator ini telah menghasilkan pola bullish divergence. Bullish divergence terjadi ketika kenaikan momentum menyertai penurunan harga. Hal ini kerapkali memicu pergerakan naik yang tajam, seperti yang terjadi pada BTC sejauh ini. Akibatnya, RSI mendukung kemungkinan terjadinya breakout di masa depan.

Bitcoin (BTC) Short-Term Price
Grafik Harian BTC/USDT | Sumber: TradingView

Oleh karena itu, prediksi harga BTC di masa depan kemungkinan besar akan bergantung pada apakah harga akan sukses breakout dari garis resistance atau malah mendapat penolakan. Kenaikan 8% berpotensi terwujud bila aksi breakout tercapai, sementara penurunan 10% juga bisa terjadi andaikata terjadi penolakan.

Bagaimana pendapat Anda tentang prospek harga Bitcoin (BTC) selanjutnya? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Zummia.jpg
Zummia Fakhriani
Zummia adalah seorang penulis, penerjemah, dan jurnalis dengan spesialisasi pada topik blockchain dan kripto. Ia mengawali sepak terjang di industri kripto sebagai trader kasual sejak 2015. Kemudian, mulai berkiprah sebagai penerjemah profesional di industri sejak 2018 sembari mengenyam tahun ketiganya di program studi Sastra Inggris kala itu. Menyukai topik terkait DeFi, koin privasi, dan Web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori