Kembali

Mitos Profit Jutaan Bot Trading AI: Mengapa Trader Ritel Sulit Menang?

Pilih kami di Google
author avatar

Ditulis oleh
Oihyun Kim

editor avatar

Diedit oleh
Zummia Fakhriani

17 Maret 2026 12.56 WIB
  • Haseeb Qureshi dari Dragonfly Capital berpendapat bahwa risiko tanggung jawab membuat laboratorium AI frontier enggan melatih model pada perdagangan aset kripto.
  • Perusahaan kuantitatif seperti Jane Street dapat meniru strategi model publik apa pun dalam skala besar, menghapus keunggulan trader ritel dalam semalam.
  • Agen AI tidak memiliki keterampilan atau ide unik untuk mendapatkan penghasilan secara mandiri, sehingga kejahatan menjadi satu-satunya keunggulan komparatif mereka.
Promo

Tidak ada perusahaan AI besar yang mendukung bot trading kripto. Tidak ada laboratorium frontier yang sedang melatih model untuk itu. Tapi, semakin banyak trader yang memakai Claude dari Anthropic untuk membangun bot Polymarket otomatis dan mengklaim profit hingga jutaan. Thread viral di media sosial menyebut siapa pun bisa mencobanya.

Tetapi, para pemenang paling heboh justru memakai strategi yang bisa disalin oleh fund kuantitatif mana pun dalam semalam.

Disponsori
Disponsori

Tiga Asumsi, Tanpa Jaminan

Narasi ini bertumpu pada tiga asumsi. Perusahaan teknologi besar pada akhirnya akan membangun model trading khusus. Trader individu dapat mempertahankan keunggulan melawan institusi. Agen AI otonom bisa menghasilkan uang secara konsisten di pasar terbuka.

Haseeb Qureshi, managing partner di Dragonfly Capital, tidak sepakat pada tiga hal tersebut. Dalam wawancaranya dengan Bankless, ia menyoroti risiko tanggung jawab hukum, struktur pasar, dan sifat AI yang sudah menjadi komoditas. Gabungan dari faktor-faktor ini membuat “gold rush” ini jauh kurang menjanjikan dari yang terlihat.

Perangkap Liability

Qureshi menyatakan bahwa membangun AI untuk tugas di blockchain itu secara teknis hal yang sepele. Sebuah simulator EVM sudah cukup untuk menguji lending berulang atau swap token dengan mudah. Model AI-nya mumpuni. Hanya saja, belum ada yang mengarahkan AI ke kripto.

Alasannya berasal dari sisi institusional, bukan teknis. Pertama, aset kripto membawa stigma reputasi yang enggan dilibatkan oleh laboratorium AI. “Crypto itu agak norak,” ujar Qureshi.

Tetapi penghalang utamanya adalah risiko tanggung jawab hukum. Bayangkan jika Claude melakukan kesalahan trading leverage dan kehilangan US$2.000.000. Atau keliru mengirim US$10.000 ke alamat burner. Tidak ada disclaimer yang cukup keras untuk mencegah kecaman besar-besaran.

“It will 100% happen,” Qureshi said. “Anybody who has a bad experience, it’s going to go super viral.”

Disponsori
Disponsori

Dia membandingkan mengelola wallet kripto pengguna seperti menyuntikkan peptida Cina yang tidak diatur. Potensi kerugiannya jauh lebih besar dibanding peluang pendapatannya. Saran kode yang salah memang memalukan. Wallet terkuras berarti gugatan hukum.

Anthropic sendiri sudah merilis riset terkait hubungan AI dan blockchain. Melalui studi SCONE-bench, mereka menguji seberapa baik model frontier ini mengeksploitasi celah smart contract. Namun, ini masih sebatas riset keamanan siber, bukan roadmap produk.

Titik baliknya akan terjadi karena persaingan. Ketika satu lab menilai volume kripto terlalu strategis untuk diberikan ke pesaing, pelatihan akan dimulai. Sebelum itu, semuanya akan tetap diam.

Masalah Jane Street

Meski tanpa peran perusahaan teknologi besar, narasi trading ini tetap menghadapi dinding struktural. Strategi apa pun yang didasarkan pada model publik, secara definisi, tersedia untuk semua orang—termasuk perusahaan kuantitatif institusi.

Poin Qureshi sederhana saja. Jika bot Claude sederhana bisa menemukan peluang cuan di Polymarket, Jane Street bisa menjalankan 5.000 bot yang sama dalam satu waktu. Mereka punya infrastruktur yang lebih cepat dan modal lebih besar. Mereka sanggup mengikis margin untung hingga habis sebelum trader ritel pun sempat login. “Jika itu ada di model mentahnya, Jane Street pasti sudah melakukannya sekarang,” ujar Qureshi.

Satu-satunya peluang menang bagi bot ritel adalah menemukan sinyal baru yang tidak ada di model dasar. Claude yang hanya terhubung API tidak memungkinkan itu.

Mengapa ‘Go Make Money’ Tidak Berhasil

Qureshi memperluas argumen ini melampaui trading, menuju angan-angan lebih besar tentang agen AI otonom yang menghasilkan pendapatan sendiri.

Pilihan pertama yaitu dipekerjakan — membiarkan agen AI menjual jasanya. Tapi ini mustahil secara ekonomi. Ada jutaan instance Claude yang identik. Tidak ada keunggulan keahlian atau lokasi. Merekrut agen AI tidak berbeda dari membeli layanan komputasi Anthropic dengan beberapa langkah tambahan. Tidak ada pembeli rasional yang mau membayar di atas harga resmi API Anthropic untuk hasil yang sama.

Pilihan kedua, membangun bisnis. Kedengarannya memang lebih menjanjikan, namun Qureshi berargumen opsi ini gagal karena alasan lebih halus. Setiap agen AI mengambil inspirasi dari data pelatihan yang sama. Hasilnya, mereka hanya menghasilkan rencana bisnis generik yang mirip. Tanyakan ide startup ke sepuluh Claude, maka akan keluar sepuluh proposal yang nyaris sama.

Kewirausahaan sejati, tutur Qureshi, butuh apa yang Peter Thiel sebut sebagai “rahasia yang didapatkan”. Ini adalah wawasan yang lahir dari pengalaman spesifik, di tempat tertentu, waktu tertentu. Brand Bankless bisa besar karena para pendirinya punya kombinasi pengalaman di kripto, kemampuan bercerita, dan naluri komunitas yang unik—semua pada momen yang tepat. Claude yang baru diaktifkan tidak punya pengalaman hidup apa-apa. Ia tidak punya “rahasia yang didapatkan”.

Ini berujung pada kesimpulan yang kurang nyaman. Agen AI tidak bisa menang dalam trading. Mereka tidak akan bisa dipekerjakan. Mereka tidak dapat menciptakan ide bisnis orisinal. Jadi, di mana keunggulan asli mereka dibanding manusia? Jawaban Qureshi cukup provokatif: kriminalitas. Ini bukan masa depan yang ia idamkan. Tapi begitulah logikanya jika semua pembatas institusi dihilangkan.

Apa Arti Ini

Para trader yang membangun bot Polymarket memang nyata. Mungkin saja memang ada yang untung — untuk saat ini. Namun, perusahaan kuantitatif institusi akan terus mengambil semua peluang cuan yang ada di model dasar. Perusahaan teknologi besar pun tidak akan melatih AI dengan data kripto kecuali ada tekanan persaingan. Dan bisa jadi model bisnis pertama dari ekonomi agen otonom ini justru akan lahir di luar jangkauan penegak hukum.

Bagi trader biasa yang membaca berita tentang bot AI yang meraup jutaan, kesimpulannya sudah jelas. “Bandar” selalu menang. Dalam dunia trading AI, “bandar” menjalankan 5.000 bot dengan latensi sub-milidetik.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Selain itu, sebagian artikel di situs ini merupakan hasil terjemahan AI dari versi asli BeInCrypto yang berbahasa Inggris.

Disponsori
Disponsori