Lihat lebih banyak

Nilai Lira Turki Anjlok, Permintaan Stablecoin USDT Meningkat Tajam

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Permintaan lokal di Turki untuk stablecoin Tether USD (USDT) melonjak menjelang pemilihan presiden pada awal bulan Mei lalu.
  • Salah satu pemicunya adalah nilai tukar lira Turki terhadap dolar AS yang kian melemah, karena bank sentral Turki telah mundur dari intervensi untuk menopang lira Turki setelah pemungutan suara dalam pilpres selesai.
  • Adapun pangsa volume perdagangan USDT di sejumlah market lokal Turki mencapai level tertinggi sejak tahun 2020 pada bulan Mei lalu.
  • promo

Warga Turki beralih ke market kripto sebagai tempat berlindung mereka dari mata uang fiat lira Turki yang ambruk.

Permintaan lokal di Turki untuk Tether USD (USDT), yang merupakan stablecoin dengan market cap atau kapitalisasi pasar terbesar di dunia kripto, melonjak pada awal bulan Mei lalu.

Lonjakan permintaan USDT datang menjelang pemilihan presiden (pilpres) Turki. Permintaan USDT tetap tinggi sejak kemenangan kembali Recep Tayyip Erdogan dalam putaran kedua pilpres Turki pada 28 Mei lalu mengguncang market.

Sebagai catatan, Erdogan menjabat presiden Turki mulai tahun 2014. Sebelumnya, dia menjabat sebagai perdana menteri Turki dari 2003 hingga 2014.

Memang ada tindakan keras di berbagai negara, termasuk yang paling tinggi di Amerika Serikat (AS), terhadap industri kripto, yang juga memicu penurunan harga pada sejumlah aset kripto.

Namun, di tengah penurunan market kripto, mata uang lira Turki bernasib lebih buruk, dengan menembus ‘posisi terendah bersejarah’ dalam beberapa hari terakhir.

Nilai Lira Turki Turun Hampir 30% sejak Awal 2023 

Data historis nilai tukar lira Turki terhadap dolar AS | Sumber: Google Finance
Data historis nilai tukar lira Turki terhadap dolar AS | Sumber: Google Finance

Menurut catatan Bloomberg per hari Sabtu (10/6) kemarin, nilai tukar lira Turki telah turun 11% terhadap dolar AS (USD) dalam sepekan terakhir.

Hal itu terjadi karena bank sentral Turki telah mundur dari intervensi untuk menopang lira Turki setelah pemungutan suara dalam pilpres selesai.

Sejak pilpres sebelumnya yang berlangsung pada Juni 2018, lira Turki telah kehilangan 80% dari nilainya. Sebab, Erdogan disebut mengejar kebijakan ekonomi yang tidak ortodoks, termasuk upaya untuk menjinakkan inflasi setinggi 80% dengan pemotongan suku bunga.

Menurut data Google Finance, sejak awal tahun 2023 hingga hari Senin (12/6) siang, nilai tukar mata uang lira Turki terhadap dolar AS telah turun 20,96%.

Transaksi Lira Turki untuk Beli Stablecoin Meningkat

Dalam dinamika kondisi seperti ini di Turki, aset kripto seperti stablecoin dianggap semakin menarik. Sebab, stablecoin dimaksudkan untuk mempertahankan patokan 1:1 yang konsisten dengan dolar AS.

Menurut data yang disediakan oleh Kaiko, transaksi lira Turki menyumbang 10% dari ‘total volume perdagangan aset kripto di market secara global’ yang mencapai sekitar US$1,1 triliun per hari pada awal Juni ini.

Sebelumnya, transaksi lira Turki sempat memuncak hingga 18% dari total volume perdagangan aset kripto secara global pada bulan Mei.

Persentase yang muncul pada bulan Mei dan awal Juni terlihat tinggi bila dibandingkan dengan transaksi lira Turki yang menyumbang 4% dari total volume perdagangan aset kripto secara global.

Menurut data CoinMarketCap, pangsa volume perdagangan USDT di BTCTurk, salah satu crypto exchange terbesar di Turki, mencapai 20% dibandingkan dengan di Binance yang hanya mencapai 1%. Hal ini menandakan kuatnya permintaan stablecoin di market Turki.

Solusi Pertahankan Nilai Kekayaan dari Inflasi

Ebru Güven, seorang dosen universitas yang berbasis di Istanbul, Turki, dan seorang mantan bankir, mengatakan bahwa peraturan di negara itu telah mempersulit pembelian dolar AS atau emas dengan lira Turki.

“Berinvestasi dalam stablecoin memungkinkan orang-orang untuk menjaga nilai kekayaan mereka. Itu salah satu cara untuk mempertahankan beberapa nilai [kekayaan yang mereka miliki] saat inflasi setinggi ini. Ini adalah satu-satunya motivasi bagi orang untuk membeli stablecoin saat ini,” kata Ebru Güven.

Sebagai catatan, tingkat inflasi tahunan Turki mencapai 39,6% pada Mei 2023. Tingkat inflasi tahunan Turki pada bulan Mei lalu terendah sejak Desember 2021, yang memiliki tingkat inflasi tahunan 36,08%.

Sebelumnya, inflasi tahunan Turki pada bulan Oktober 2022 sempat mencapai 85,51%, atau naik ke level tertinggi baru dalam 24 tahun terakhir.

Batuhan Basoglu, seorang desainer grafis berusia 28 tahun, melakukan trading kripto di Binance dan memasukkan semua tabungannya ke dalam stablecoin dan aset kripto lainnya.

“Tepat sebelum pilpres, saya merasakan dorongan untuk mengubah lira Turki saya menjadi dolar AS karena ketidakpastian seputar masa depan mata uang itu. Untuk melindungi diri dari risiko ini, saya membeli USDT,” jelasnya.

Saat lira Turki merosot lebih jauh, alih-alih mengubah USDT kembali ke mata uang fiat Turki, Batuhan Basoglu all in ke stablecoin tersebut.

Terkait hal ini, analis Kaiko, Dessislava Aubert, mengatakan, “Terlihat bahwa meskipun secara historis volume rendah, permintaan stablecoin di market Turki tetap kuat.”

Adapun pangsa volume perdagangan USDT di sejumlah market lokal Turki mencapai level tertinggi sejak tahun 2020 pada bulan Mei lalu.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024
Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024
Platform kripto terbaik di Indonesia | Juli 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori