Lihat lebih banyak

Terancam Delisting dari NASDAQ, Ada Apa dengan Perusahaan Mining Bitcoin Digihost?

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Nasdaq mengancam akan melakukan delisting terhadap Digihost Technology, bila harga sahamnya terus memberikan kinerja buruk.
  • Harga saham DGHI selama 30 hari kerja terakhir berturut-turut telah ditutup di bawah minimum persyaratan listing di bursa saham, yaitu US$1 per lembar.
  • Digihost telah diberikan periode awal 180 hari kerja, atau hingga 10 April 2023, untuk bisa mengikuti kembali ketentuan yang telah ditetapkan.
  • promo

Nasdaq mengancam akan melakukan delisting terhadap Digihost Technology, bila harga sahamnya terus memberikan kinerja buruk (berada di bawah US$1 per lembar). Entitas ini menjadi perusahaan penambang Bitcoin terbaru yang tergelincir ke zona berbahaya untuk tetap bisa mempertahankan tempatnya di bursa saham utama Amerika Serikat (AS).

Dalam dokumen yang diajukan kepada Komisi Sekuritas & Bursa (SEC) AS, Digihost mengakui bahwa pada 10 Oktober lalu mereka telah menerima pemberitahuan tertulis dari Nasdaq yang menunjukkan harga saham DGHI selama 30 hari kerja terakhir berturut-turut telah ditutup di bawah minimum persyaratan listing di bursa saham, yaitu US$1 per lembar.

Sesuai dengan aturan listing Nasdaq, Digihost telah diberikan periode awal 180 hari kerja, atau hingga 10 April 2023, untuk bisa mengikuti kembali ketentuan yang telah ditetapkan. Pihak Nasdaq akan memberikan pemberitahuan tertulis kepada Digihost ketika telah memenuhi ketentuan peraturan, yaitu jika sewaktu-waktu, sebelum 10 April 2023, harga saham Digihost ditutup pada level US$1 per saham atau lebih selama minimal 10 hari kerja berturut-turut.

Terkait adanya surat ini, Digihost mengatakan bahwa operasi bisnis mereka tidak berpengaruh langsung terhadap pencatatan atau perdagangan saham DGHI.

Ancaman Delisting Tidak Hanya Dihadapi Digihost

Digihost merupakan perusahaan mining Bitcoin terbaru yang melihat harga sahamnya dalam bahaya. Di bulan Agustus lalu, dua penambang publik lainnya, yaitu BIT Mining dan Mawson Infrastructure Group, juga menghadapi ancaman delisting. Maka dari itu, mereka membutuhkan kinerja saham yang lebih baik untuk mempertahankan listing mereka, yang masing-masing terdaftar di New York Stock Exchange (NYSE) dan Nasdaq.

BIT Mining telah berusaha meyakinkan para investornya dengan menyatakan bahwa kinerja merah sahamnya akan pulih.

“Meskipun kondisi market yang bergejolak, yakinlah bahwa harga saham saat ini tidak akan berdampak pada operasi bisnis normal perusahaan dan kemampuan kami untuk menciptakan nilai bagi investor kami di masa depan,” jelas Bo Yu, selaku Chairman BIT Mining.

Sementara itu, jajaran kepemimpinan Mawson Infrastructure Group yang berbasis di Australia memproyeksikan kepercayaan dalam mempertahankan tempat mereka di Nasdaq.

“Jika kita berdagang di atas US$1 selama 10 hari, masalahnya sudah teratasi, atau kita bisa melakukan ‘pemecahan saham terbalik’ (reverse stock split) untuk menyembuhkan [kondisi ini]. Jadi, kita tidak khawatir tentang itu,” helas Nick Hughes-Jones, selaku Chief Commercial Officer Mawson Infrastructure Group.

CEO Mawson, James Manning, mengatakan bahwa pihaknya sudah menjual salah satu fasilitasnya di Georgia untuk menyaingi CleanSpark. Mereka mengaku akan fokus pada situs penambangan di Pennsylvania dan Texas, AS, yang melihat kesempatan untuk pengembalian modal yang menarik.

Semua Saham Perusahaan Penambang Publik Memerah

Setidaknya dalam sepekan terakhir, sejumlah saham penambang Bitcoin; seperti Digihost, Mawson, BIT Mining, Bitfarms (AS), Cipher Mining, dan Stronghold Digital Mining jatuh di bawah ambang US$1. Sementara beberapa lainnya diperdagangkan hanya sedikit di atas level itu.

Harga saham untuk perusahaan-perusahaan penambang Bitcoin yang terpantau turun secara signifikan selama seminggu terakhir. Hal ini tentu berpotensi dapat membuat lebih banyak bahaya delisting yang akan muncul, jika harga saham mereka tidak pulih ke level lebih dari US$1 per saham.

Kinerja saham penambang publik dalam sepekan | Sumber: Yahoo Finance

Ada berbagai faktor yang dinilai berkontribusi terhadap tren negatif dalam industri penambangan Bitcoin. Saham para perusahaan penambang Bitcoin dinilai cenderung mengikuti harga Bitcoin (BTC), yang telah jatuh sekitar 70% sejak mencapai harga tertinggi sepanjang masa sekitar US$67.550 pada November 2022 dan jatuh sekitar 50% dalam 6 bulan terakhir.

Penurunan harga Bticoin dikombinasikan dengan kenaikan biaya listrik, yang telah menekan keuntungan bagi penambang Bitcoin, yang juga harus menghadapi kesulitan penambangan (mining difficulty) yang melonjak sekitar 13,55% pada minggu lalu ke level tertinggi sepanjang masa.

Bagaimana pendapat Anda tentang ancaman delisting yang dihadapi oleh Digihost? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori