Lihat lebih banyak

Thailand Bebaskan Pajak Kripto Senilai US$1 Miliar, Ingin Bersaing dengan Hong Kong?

3 mins
Oleh David Thomas
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Thailand menawarkan pembebasan pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai bagi berbagai perusahaan yang mengumpulkan dana melalui penawaran koin awal (initial coin offering).
  • Thailand telah menunjukkan potensi menjanjikan dalam sektor kripto, dengan laporan terbaru yang menempatkannya sebagai negara dengan tingkat adopsi kripto tertinggi di dunia.
  • Namun, Thailand harus bersaing dengan program akselerator Web3 terbaru yang Hong Kong luncurkan.
  • promo

Thailand telah memantapkan diri untuk membebaskan pajak kripto bagi perusahaan-perusahaan yang mengumpulkan modal melalui Initial Coin Offering (ICO). Pembebasan pajak ini berlaku untuk pajak penghasilan dan pajak pertambahan nilai. Langkah ini Thailand lakukan dengan tujuan memanfaatkan potensi lonjakan pasar kripto yang nantinya akan dipicu oleh Asia. Hal ini sejalan dengan prediksi Cameron Winklevoss tentang potensi bull run di pasar tersebut.

Rachada Dhnadirek, anggota Komite Eksekutif, mengungkapkan kepada Bangkok Post bahwa para anggota kabinet Thailand telah menetapkan bahwa perusahaan yang mengumpulkan dana melalui “token investasi” juga dapat mengumpulkan dana melalui obligasi.

Relakan US$1 Miliar melalui Pembebasan Pajak

Di bawah peraturan terbarunya, pemerintah Thailand harus merelakan sekitar US$1 miliar dalam pajak dari sekitar US$3,7 miliar yang terkumpul melalui penawaran koin awal (ICO) selama dua tahun ke depan. Belum ada indikasi terkait apakah perusahaan harus menjalani pengungkapan informasi (disclosure) ke Komisi Sekuritas dan Bursa Thailand sebelum menjalankan ICO.

Thailand telah terbukti semakin menarik bagi perusahaan kripto, bersaing langsung dengan kompetitor Asianya, yakni Hong Kong dan Singapura.

Menurut The Bangkok Post, laporan Recap perusahaan software pajak mengungkapkan bahwa Thailand telah memperoleh 57 perusahaan kripto dan memiliki tingkat kepemilikan kripto tertinggi kedua di dunia. Jumlah kepemilikannya tersebut tetap tumbuh meskipun pemerintah telah melarang pembayaran kripto dengan alasan risiko stabilitas keuangan.

Menurut CEO Recap, Daniel Howitt, ketatnya regulasi kripto akan menentukan apakah Thailand dapat menjadi pusat kripto (crypto hub) di Asia.

“Seperti banyak negara [lainnya], Thailand juga sedang memperketat aturan mengenai perdagangan kripto dan periklanan aset digital. Dengan aturan yang lebih ketat, tentunya menarik untuk mengamati apakah ini membantu atau [justru] menghambat posisi Bangkok sebagai pusat kripto dalam beberapa bulan mendatang,” jelasnya kepada The Bangkok Post.

Top 20 Crypto Hub Cities
Hub Crypto Terkemuka di Dunia | Sumber: Recap

Tahun lalu, Komisi Sekuritas dan Bursa berjanji untuk memperkenalkan perlindungan investor yang lebih besar dengan membatasi iklan selebriti setelah keruntuhan FTX. Namun, mereka belum mengumumkan pemimpin barunya. Menurut laporan, dewan tersebut menolak memperpanjang masa jabatan sekretaris jenderal lembaga tersebut yang kontraknya akan berakhir pada akhir April 2023.

Selain itu, Biro Investigasi Kejahatan Siber baru-baru ini memperingatkan warga Thailand tentang penipuan kripto yang dilakukan melalui bursa luar negeri.

Dapatkah Thailand Bersaing dengan Hong Kong?

Sementara itu, Hong Kong memanfaatkan pengetatan regulasi Singapura yang disebabkan oleh kebangkrutan beberapa perusahaan kripto terkenal.

Tahun lalu, Otoritas Moneter Singapura merilis dokumen konsultasi untuk mengusulkan regulasi yang lebih ketat untuk dana pelanggan yang tersimpan di bursa kripto. Konsultasi ini kemungkinan besar akan terealisasi dalam skala besar selama paruh pertama tahun 2023.

Selain itu, pihak berwenang di kota tersebut ingin menerapkan kerangka kerja risiko siber bank pada berbagai platform kripto.

Di sisi lain, otoritas Singapura masih terus mencari Do Kwon, Co-founder Terraform Labs yang berbasis di Singapura. Platform tersebut merupakan perusahaan di balik stablecoin TerraUSD yang bangkrut.

Bursa kripto Singapura, Zipmex dan Vauld, telah mengajukan perlindungan terhadap kreditur pada Juli 2022 setelah terkena imbas dari kehancuran TerraUSD. Sementara itu, Vauld mendapat perpanjangan hingga 24 Maret 2023 untuk menyelesaikan rencana restrukturisasinya.

Di sisi lain, Hong Kong telah merangkul kelas aset tersebut, dan mengurangi risiko investor melalui tes pengetahuan dan batasan yang wajar pada eksposur kripto. Hong Kong juga mendapat dukungan dari sang crypto mogul Justin Sun dan beberapa pejabat Cina.

Jika Thailand ingin bersaing dengan Hong Kong, kemungkinan besar mereka akan membutuhkan investasi yang fantastis. Pemerintah Hong Kong sendiri bahkan telah berkomitmen untuk mengalokasikan dana sebesar US$6,4 juta setiap tahun untuk mendukung perusahaan-perusahaan di industri Web3.

Bagaimana pendapat Anda tentang upaya Thailand ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

Zummia.jpg
Zummia Fakhriani
Zummia adalah seorang penulis, penerjemah, dan jurnalis dengan spesialisasi pada topik blockchain dan kripto. Ia mengawali sepak terjang di industri kripto sebagai trader kasual sejak 2015. Kemudian, mulai berkiprah sebagai penerjemah profesional di industri sejak 2018 sembari mengenyam tahun ketiganya di program studi Sastra Inggris kala itu. Menyukai topik terkait DeFi, koin privasi, dan web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori