Zilliqa Siap Rilis Konsol Game Web3 Sendiri; Bakal Jadi Saingan Baru Nintendo, PlayStation, dan Xbox?

23 September 2022, 15:26 WIB
Diterjemahkan Zummia Fakhriani
24 September 2022, 02:18 WIB
Ringkasan
  • Zilliqa telah mengumumkan prototipe konsol game Web3 sendiri yang memiliki kemampuan mining.
  • Nantinya, konsol tersebut akan memungkinkan pengguna untuk menambang koin Zilliqa (ZIL).
  • Di samping itu, Zilliqa juga telah menjalin kemitraan strategis dengan berbagai tim esports untuk mendapatkan umpan balik dari para gamer, sebelum peluncuran resmi konsol game tersebut berlangsung.

Baru-baru ini, Zilliqa telah resmi mengumumkan konsol game dan hub miliknya yang berfokus pada Web3 dengan rencana perilisan pada tahun depan.

Menurut jadwal, konsol game ini rencananya akan rilis pada tahun 2023 mendatang. Di samping itu, konsol ini akan mengintegrasikan elemen Web3 yang kompleks. Di dalamnya, Zilliqa bakal menyertakan crypto wallet dan juga fitur penambangan koin ZIL bagi para pemain.

Selain itu, proyek ini juga akan memungkinkan para gamer untuk mendapatkan koin ZIL setiap kali pemain berhasil menyelesaikan misi dalam game tersebut. Pada dasarnya, konsep yang proyek ini usung mirip seperti game yang memberikan reward kepada penggunanya dengan mata uang virtual. Hanya saja, hal yang membedakannya adalah sistem reward yang melibatkan teknologi blockchain.

Dengan produk terbarunya ini, Zilliqa bertujuan untuk terjun ke industri game dan bersaing dengan raksasa industri lainnya; seperti Playstation, Nintendo, dan Xbox. Apalagi, sejauh ini, data menunjukkan bahwa konsol video game telah sukses menghasilkan sekitar US$107,5 miliar pada tahun 2021 saja. Sehubungan dengan itu, Statista bahkan telah memprediksi bahwa industri ini berpotensi untuk tumbuh lebih pesat menjadi US$130,8 miliar pada tahun 2026 mendatang.

Pada konsol prototipe Zilliqa tersebut, terlihat adanya port HDMI, Ethernet, USB-C, dan port USB 3.0. Namun, Zilliqa sendiri masih merahasiakan detail spesifikasi lainnya. Terlepas dari itu, mereka juga sudah menginformasikan secara publik bahwa konsol tersebut memang dirancang untuk menyederhanakan kerumitan Web3. Sehingga, pada akhirnya, hal itu bisa memberikan pengalaman yang lebih menyenangkan dan ramah pengguna bagi para pemain.

Pada saat publikasi, Zilliqa sedang melakukan uji coba pada konsol game tersebut untuk mempersiapkan peluncurannya di kuartal pertama tahun 2023 nanti.

Zilliqa Sudah Rilis Shooter Game di Bulan Lalu

Sebelumnya, tepatnya pada Agustus 2022, Zilliqa telah berhasil meluncurkan shooter game dengan sudut pandang orang pertama (first in-person), yaitu WEB3WAR. Mereka lebih memilih untuk mendesain game tersebut menjadi game skill-to-earn, ketimbang game play-to-earn seperti Axie Infinity. Sebab, perusahaan tersebut yakin bahwa secara ekonomi, game tersebut adalah model yang lebih berkelanjutan. Zilliqa juga menyertakan WEB3WAR sebagai salah satu dari dua judul awal yang akan mereka rilis untuk konsol game tersebut nantinya.

Selain itu, awal tahun ini, Zilliqa telah mengumumkan kemitraannya dengan berbagai tim esports. Kemitraan yang terbaru adalah kolaborasi dengan perusahaan Swiss Xborg. Inisiatif ini mereka ambil khususnya untuk membantu mendorong upayanya di sektor game Web3.

Dalam kemitraan tersebut, Xborg akan memungkinkan basis pemainnya untuk mendapatkan akses ke game yang beroperasi di atas blockchain Zilliqa. Dengan begitu, para pemain dari Xborg nantinya juga bisa memberikan umpan balik mengenai pengalaman mereka. Selain itu, rencananya, Xborg juga akan berkontribusi dalam meningkatkan eksposur game Zilliqa ke komunitas game yang lebih luas lagi.

Dilema Gamer vs. Developer

Tampaknya, strategi Zilliqa kali ini memang sengaja dirancang untuk menarik minat para gamer profesional ketimbang para peminat kripto biasa. Pasalnya, seperti yang kita ketahui, para peminat kripto biasanya tidak begitu keberatan dengan alur cerita dan pengalaman game yang biasa-biasa saja, atau bahkan tidak jarang “amatir”. Terlebih lagi, secara historis, game play-to-earn cenderung selalu mengalami kesulitan dalam menciptakan tokenomics yang berkelanjutan.

Hal ini juga terbukti dengan adanya migrasi Axie Infinity dari play-to-earn ke play-and-earn, setelah munculnya kekhawatiran akan inflasi pada salah satu in-game token miliknya. Sementara itu, game lainnya; seperti Splinterlands, memiliki nasib yang masih jauh lebih baik. Sebab, proyeknya telah meluncurkan upgrade terbaru yang mendorong kepemilikan token dengan menawarkan reward kepada para hodler.

Meskipun demikian, selalu ada ketegangan yang terus-menerus terjadi antara pemain yang ingin menjual in-game token mereka untuk mendapatkan fiat, dengan developer game yang tidak menginginkannya.

Ekosistem yang Terisolasi Bikin Para Gamer Frustrasi

Salah satu keluhan yang kerap kali dihadapi para gamer tradisional adalah mereka tidak memiliki aset dalam game apa pun yang mereka peroleh jika berhasil menyelesaikan misi dan tugas yang ada dalam game. Selain itu, vendor game terkadang juga akan berupaya sebisa mungkin untuk mencegah pemain dalam melakukan pertukaran aset. Dalam kondisi tertentu, pemain yang ingin memperdagangkan aset tersebut pada akhirnya terpaksa harus menjual akun miliknya di dark web.

Untuk mengatasi masalah itu, Valve Steam Community Marketplace akhirnya mempelopori pendekatan berbeda yang memungkinkan para pemain yang datang dari beragam judul game Valve untuk memperdagangkan aset mereka. Alhasil, sekarang Valve sudah mempunyai marketplace peer-to-peer sendiri di mana pemain dapat memperdagangkan asetnya masing-masing dengan menggunakan uang fiat.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.