Saat ini, kebanyakan agen AI masih berada di kotak aman. Mereka meringkas dokumen, menulis kode, mencari database, dan membantu tim customer support bekerja lebih cepat.
Di bidang keuangan, AI sudah mulai masuk ke deteksi penipuan, kepatuhan, riset, dan proses-proses back-office. Cambridge Judge Business School menemukan tahun ini bahwa 52% perusahaan keuangan sudah aktif mengadopsi AI agentic, dengan 23% di antaranya telah melakukan scaling atau transformasi dengan AI tersebut.
Bond Labs, sebuah jaringan superapp blockchain, bertaruh pada langkah berikutnya. Mereka ingin AI agent bisa melakukan trading, meminjam, meminjamkan, memindahkan dana, bahkan membelanjakan uang di ekosistem aset kripto dan sistem pembayaran tradisional.
Perusahaan ini sudah meluncur di 0G, jaringan blockchain khusus AI, lewat platform DeFi yang dirancang untuk manusia maupun agen AI otonom.
Bond menyatakan platformnya memadukan
- Decentralized exchange spot,
- Perpetuals exchange
- Pasar lending dan borrowing,
Serta rencana menambah lapisan neobank dengan fitur deposit/withdraw fiat, transfer global, akses IBAN on-chain, kartu debit Visa, dan akun yang bisa menghasilkan imbal hasil.
Itu semua adalah janji besar. Apalagi, semua hadir di saat industri keuangan sedang mencari tahu seberapa jauh otonomi yang aman untuk diberikan kepada software yang bisa berpikir, merencanakan, dan bertindak sendiri.
Agen Butuh Wallet
Konsep di balik Bond sebenarnya cukup sederhana. Kalau AI agent akan menjadi pelaku ekonomi, maka mereka butuh infrastruktur keuangan.
Sebuah chatbot bisa memberi saran pada pengguna cara menyeimbangkan kembali portofolio. Sedangkan agent, secara teori, bisa langsung melakukannya. Agent bisa memindahkan dana menganggur ke akun imbal hasil, meminjam dengan jaminan, melakukan hedging, atau memindahkan uang lintas chain dan sistem pembayaran.
Perubahan ini butuh lebih dari sekedar jendela prompt. Agen memerlukan likuiditas, tempat eksekusi transaksi, pasar kredit, verifikasi identitas, akses pembayaran, serta pengendalian risiko.
Bond berusaha menyatukan semua kebutuhan itu dalam satu ekosistem.
Lapisan DeFi mereka mencakup DEX spot yang mengadopsi market-making otomatis ala Uniswap V3, DEX perpetuals dengan model central limit order book, serta pasar lending dengan suku bunga dinamis.
Perusahaan juga berencana menambahkan lapisan neobank dalam tiga bulan ke depan, termasuk akses fiat, transfer global, kartu Visa, dan akun yang terhubung ke 0G Chain.
Bond juga menyebut akan membangun divisi real-world asset, supaya pengguna ataupun agent dapat eksposur ke aset yang ditokenisasi untuk trading, settlement, dan investasi.
Sederhananya, Bond ingin menjadi sistem operasi keuangan untuk AI agent.
Pendanaan Mengalir Sesuai Konsepnya
Peluncuran ini mendapat dukungan langsung dari ekosistem 0G Labs.
Bond didukung oleh program insentif senilai US$10 juta dari 0G Labs, investasi langsung US$3,5 juta, serta target total value locked sebesar US$50 juta. Program insentif ini akan berjalan selama 12 bulan serta dapat dipantau on-chain. Bond menyatakan bahwa aktivitas trading oleh AI agent masuk dalam struktur reward-nya.
Tujuannya adalah likuiditas. Tanpa likuiditas, platform keuangan yang menghadirkan AI agent hanya akan jadi antarmuka biasa saja. Sedangkan dengan likuiditas, agent dapat benar-benar eksekusi trading, mengakses pasar lending, dan memindahkan nilai tanpa menunggu persetujuan manual dari manusia di setiap langkahnya.
“Visi AI agent untuk mengelola keuangan seseorang selama ini terhambat oleh infrastruktur yang terpecah-pecah,” ujar CEO Bond Labs Taweh Beysolow. “Bond menyajikan lapisan DeFi primitive yang hilang dan neobank di mana agen dapat trading, meminjam, membelanjakan, dan menghasilkan pendapatan—semua dalam satu platform.”
Michael Heinrich, CEO 0G Labs, memposisikan Bond sebagai bagian dari ekonomi AI yang lebih luas.
“0G sedang membangun infrastruktur dasar untuk ekonomi yang native AI, dan inti dari visi itu adalah memberi agen otonom kemampuan transaksi, mengelola aset, serta mengakses layanan keuangan semudah manusia mana pun,” terang Heinrich. “Bond adalah platform pertama yang betul-betul mewujudkan visi itu, menggabungkan DeFi bertaraf institusional dengan neobank yang ramah pengguna, di blockchain yang memang dirancang khusus bagi AI agent.”
Pipa Infrastruktur di Balik Platform
Bond juga telah menggandeng mitra infrastruktur dan likuiditas.
Perusahaan mengatakan Turtle akan mendukung pasokan likuiditas dan distribusi insentif, Re7 akan bertindak sebagai kurator vault DeFi, Midas menyiapkan infrastruktur vault, dan Wormhole mendukung interoperabilitas lintas chain.
Mereka juga menunjuk Cicada Capital, Diffuse, GSR, dan Flow Traders sebagai penyedia likuiditas.
Nama-nama di atas penting karena keuangan AI agent tidak bisa berjalan tanpa pasar yang dalam. Agent yang mengelola modal butuh eksekusi berkualitas, settlement yang andal, dan likuiditas cukup supaya tidak kena harga buruk.
Essi, CEO Turtle Club, menyebut kampanye pre-deposit harus relevan untuk berbagai jenis peserta.
“Bond menghadirkan superapp untuk audiens retail hingga institusi. Kampanye pre-deposit butuh LP DeFi-native yang bisa meng-cover kedua sisi sekaligus. Kami menyusun program ini bersama tim Bond sampai ekonomi di dalamnya sehat tanpa mengorbankan komitmen Bond kepada pengguna. Bangga bisa berkolaborasi dengan mereka.”
Risiko Kini Bukan Sekadar Teori
Survei AI perusahaan tahun 2026 dari Deloitte menemukan bahwa 74% perusahaan berharap bisa menggunakan AI agent setidaknya secara moderat pada tahun 2027. Di sektor keuangan, riset dari Cambridge menemukan adopsi agentic AI sudah lebih maju di kalangan fintech dibanding lembaga tradisional.
Regulator juga sedang memantau tren yang sama. Financial Stability Board telah memperingatkan bahwa AI kini merambah ke AML, KYC, deteksi penipuan, risiko kredit, keamanan siber, manajemen portofolio, dan kepatuhan.
Bank of England bahkan melangkah lebih jauh, mengingatkan bahwa autonomous agent pada akhirnya bisa melakukan transaksi untuk konsumen, mengeksekusi strategi trading, dan memperbesar volatilitas pasar jika banyak sistem bertindak dengan cara yang serupa.
Inilah alasan keamanan jadi poin penting dalam penawaran Bond. Perusahaan itu menyatakan telah menerapkan pendekatan keamanan sebagai prioritas utama, termasuk melakukan audit smart contract oleh Hashlock. Hal ini penting karena platform DeFi tetap rentan terhadap eksploitasi, kegagalan oracle, risiko bridge, guncangan likuiditas, serta desain insentif yang buruk.
Pertanyaan yang lebih sulit adalah soal tata kelola. Jika AI agent melakukan trading, menyetujui pembayaran, atau meminjam dengan jaminan, sistem harus punya aturan jelas tentang persetujuan, batasan, tanggung jawab, dan prosedur darurat untuk penghentian.
Peluncuran Bond menjadi ujian awal apakah AI agent bisa beralih dari sekadar asisten menjadi pelaku keuangan. Infrastruktur untuk itu mulai bermunculan.
Tapi sekarang, pasar harus bisa membuktikan bahwa autonomous finance dapat berjalan tanpa membuat kecepatan menjadi titik kelemahan.









