Lihat lebih banyak

Belum Genap 90 Hari, Balaji Srinivasan Resmi Akhiri Taruhan Harga Bitcoin (BTC) Bakal Sentuh US$1 Juta

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Balaji Srinivasan memutuskan untuk mengakhiri taruhannya terhadap harga Bitcoin (BTC) lebih awal dari tenggat waktu yang sudah ditetapkan.
  • Ia mengaku bahwa dirinya mendonasikan US$1 juta kepada 2 pihak, termasuk memberikan US$500.000 kepada Chaincode Labs.
  • Melalui sebuah video pendek dan cuitan di Twitter, ia menegaskan alasan membuat taruhan tersebut adalah untuk menunjukkan bahwa mata uang fiat sedang dalam masalah, yang pada akhirnya akan mendorong harga Bitcoin naik.
  • promo

Belum genap 90 hari sejak mengeluarkan taruhan bahwa harga Bitcoin akan menembus US$1 juta, Balaji Srinivasan, mantan Chief Technology Officer (CTO) di crypto exchange Coinbase, pada hari Selasa (2/5) memutuskan menutup taruhannya lebih awal.

Balaji mengaku bahwa dia mendonasikan US$1 juta kepada 2 pihak, termasuk memberikan US$500.000 kepada Chaincode Labs, kelompok peneliti dan pengembangan untuk Bitcoin dan teknologi terkait. Pihak ini berterima kasih kepada Balaji atas kontribusinya.

Kemudian, Balaji membayar US$500.000 kepada James Medlock yang memenangkan taruhan apakah harga Bitcoin dapat melesat secara dramatis dalam waktu singkat.

“Jadi, saya menyelesaikan taruhan sebelumnya dan menyumbang lebih banyak dari yang telah saya lakukan. US$1,5 juta [yang dikeluarkan saat ini] VS US$1 juta [yang dipertaruhkan sebelumnya],” tegas Balaji.

Kronologi Taruhan Bitcoin Akan Tembus US$1 Juta dalam 90 Hari

Mundur pada 16 Maret lalu, James Medlock membuat cuitan, “Saya berani bertaruh kepada siapa pun US$1 juta dolar bahwa AS tidak memasuki hiperinflasi.”

Memasuki 17 Maret lalu, Balaji merespon dengan mengatakan, “Saya akan menerima taruhan itu.”

Balaji meminta James Medlock untuk membeli 1 bitcoin. Dia berjanji untuk mengirim US$1 juta, jika dia kalah setelah 90 hari.

Saat taruhan itu dibuat, masyarakat tengah dikhawatirkan dengan krisi bank di Amerika Serikat (AS). Hal itu termasuk terjadinya likuidasi sukarela bank ramah kripto Silvergate Bank; penutupan Silicon Valley Bank (SVB) yang banyak digunakan para startup; dan regulator AS yang menutup Signature Bank yang juga ramah kripto.

Setelah kini akhirnya memenangkan taruhan itu, James Medlock mengatakan, “Itu adalah salah satu cuitan yang baru saja muncul di kepala saya, dan saya mengirimkannya dalam 10 detik tanpa memikirkannya. Liar memikirkan betapa berbedanya hidup saya jika saya tidak pernah mengklik tweet itu.”

Bitcoin (BTC), pada Rabu (3/5) dini hari kemarin, sempat diperdagangkan di sekitar level US$28.710, atau naik sekitar 10% dari saat Balaji Srinivasan mulai menerima taruhan tersebut pada 17 Maret lalu. Artinya, taruhan ini dihentikan saat baru mencapai sekitar 47 hari dari target awal 90 hari.

Alasan Balaji Bertaruh Harga Bitcoin Akan Meroket

Tujuan dari taruhan tersebut ditegaskan kembali oleh Balaji Srinivasan dalam sebuah cuitan di Twitter dan video pendek. Gagasannya adalah untuk menunjukkan bahwa mata uang fiat seperti dolar AS (USD) sedang dalam masalah, dan masalah tersebut akan mendorong harga Bitcoin naik.

“Alasan saya melakukan [taruhan] itu adalah saya ingin memberi tahu Anda dengan cara yang dapat dibuktikan bahwa ada sesuatu yang salah dalam perekonomian dan negara tidak memberi tahu Anda tentang itu,” kata Balaji dalam video tersebut.

Dia menceritakan bagaimana ada masalah dengan bank AS, utang negara Negeri Paman Sam, dan potensi masalah lainnya, termasuk potensi adanya printing money atau mencetak uang baru oleh bank sentral.

“Itulah yang saya lakukan dengan ongkos sendiri, saya meningkatkan kewaspadaan publik,” terang Balaji.

Krisis Bank di AS Berpotensi Belum Berakhir?

Sejak taruhan harga Bitcoin akan tembus US$1 juta dalam 90 hari dimulai, krisis bank tampaknya belum akan berhenti. Setelah 2 hari taruhan tersebut dibuat, Credit Suisse diakuisisi oleh UBS pada 19 Maret lalu untuk mencegah keruntuhan bank yang berbasis di Swiss itu.

Tidak berhenti sampai di sana, First Republic Bank juga terseret dalam krisis bank AS hingga harus ditutup dan dijual ke JPMorgan pada hari Senin (1 Mei) kemarin.

Akun Twitter The Kobeissi Letter memperkirakan bahwa krisis bank di AS belum akan berakhir.

“Kami telah melacak krisis ini sejak hari pertama. Kita membutuhkan tindakan segera dan transparansi [dari regulator] untuk memulihkan kepercayaan pada sistem ini,” tulis The Kobeissi Letter.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori