Lihat lebih banyak

Apa itu Blast Layer-2? Keuntungan dari Native Yield hingga Airdrop

6 mins
Diperbarui oleh Hanum Dewi
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Teknologi blockchain dan cryptocurrency terus berevolusi. Seiring dengan Shanghai Update Ethereum terbaru, muncul solusi layer 2 bernama Blast dengan keunggulan dapat memberikan yield secara native. Proyek ini tidak hanya mengatasi tantangan skalabilitas Ethereum, tetapi juga memberikan para penggunanya peluang meraih penghasilan dari aset staking ETH mereka. Kenali lebih dalam mengenai pengertian, cara kerja hingga airdrop Blast Layer 2 Ethereum di artikel ini.

Apa itu Blast Layer-2?

Blast adalah solusi penskalaan Ethereum Layer 2 yang bertujuan untuk meningkatkan skalabilitas, keamanan, dan efisiensi blockchain Ethereum. Hal ini mungkin terjadi dengan menggunakan teknologi baru yang bernama zk-SNARKs (Zero-knowledge Succinct Non-interactive ARguments of Knowledge). zk-SNARKs memungkinkan Blast memproses transaksi secara off-chain, yang secara signifikan mengurangi beban pada jaringan Ethereum.

Selain manfaat skalabilitasnya, Blast juga menawarkan perolehan native yield (imbal hasil asli). Maksudnya, pengguna dapat memperoleh imbalan atas aset mereka hanya dengan menyimpannya di dompet Blast mereka. Imbalan ini dihasilkan dengan meminjamkan aset kepada pengguna lain atau dengan menyediakan likuiditas ke bursa terdesentralisasi (DEX).

Imbal hasil Blast berasal dari staking ETH dan protokol Real-World Asset (RWA). Hasil dari protokol terdesentralisasi ini diteruskan kembali ke pengguna Blast secara otomatis. Tingkat bunga default pada L2 lainnya adalah 0%. Akan tetapi di Blast, imbal hasilnya mencapai 4% untuk ETH dan 5% untuk stablecoin.

Cara Kerja Layer-2 Blast

Setelah The Merge, Ethereum memberikan yield sekitar 4% untuk staking ETH. Protokol T-Bill on-chain memberikan hasil 5% untuk staking stablecoin. Jika pengguna tidak mendapatkan yield yang setara, nilai uang atau aset mereka berkurang karena adanya inflasi.

Proyek L2 lain saat ini tidak memberikan yield. Nah, untuk menggabungkan hasil ETH dan stablecoin secara asli memerlukan L2 baru yang dirancang dari awal. Blast adalah optimistic rollup dan kompatibel dengan EVM yang meningkatkan hasil dasar tanpa mengubah pengalaman bagi para pengguna dan pengembang crypto.

Imbal hasil yang Blast layer 2 tawarkan terbilang sebagai risk free rate (RFR) alias suku bunga bebas risiko. Sebab, yield tersebut datang dari staking ETH yang sudah terjamin oleh keamanan jaringan Ethereum. Ini seperti halnya obligasi negara Amerika Serikat (Treasury Bill atau T-Bill), yang dijamin oleh Pemerintah sehingga dibilang bebas risiko.

Hasil ini memungkinkan terciptanya model bisnis baru untuk Dapps yang tidak mungkin dilakukan di L2 lainnya. Berikut komponen-komponen yang mendukung cara kerja L2 Blast:

Auto Rebasing

ETH sendiri, bukan WETH, STETH, atau ERC20 lainnya, yang secara native melakukan rebasing pada Layer 2. Saldo ETH untuk EOA secara otomatis melakukan rebasing. Kontrak pintar dapat ikut serta dalam rebasing ini, sehingga memudahkan Dapps yang ada untuk meluncur di Blast tanpa perubahan apa pun.

USDB, stablecoin asli Blast, juga secara otomatis mengalami rebasing. Seperti ETH on Blast, USDB secara otomatis melakukan rebasing untuk EOA. USDB juga secara otomatis melakukan rebasing untuk smart contract. Kontrak pintar dapat memilih untuk tidak ikut serta dalam rebasing ini.

Staking L1

Blast layer 2 hanya mungkin berjalan setelah upgrade Ethereum Shanghai. Yield ETH dari staking L1, awalnya Lido, secara otomatis ditransfer ke pengguna melalui rebasing ETH di L2.

Di masa depan, komunitas Blast akan memiliki kekuatan untuk melengkapi, atau bahkan menggantikan sepenuhnya, solusi asli Lido Blast atau protokol pihak ketiga lainnya.

Auto-rebasing dari staking layer 1 ke layer 2 Blast
Yield dari staking layer 1 ke layer 2 Blast

T-Bill Yield

Pengguna yang menjembatani stablecoin menerima USDB, stablecoin rebasing otomatis Blast. Hasil USDB berasal dari protokol T-Bill on-chain MakerDAO. USDB dapat ditukarkan dengan USDC saat dijembatani kembali ke Ethereum.

Di masa depan, komunitas Blast akan memiliki kekuatan untuk melengkapi, atau bahkan menggantikan sepenuhnya, MakerDAO dengan solusi asli Blast atau protokol pihak ketiga lainnya.

Bagi Hasil Biaya Gas

Layer 2 lain menyimpan pendapatan dari biaya bahan bakar untuk diri mereka sendiri. Blast mengembalikan pendapatan gas bersih ke Dapps secara terprogram. Pengembang Dapps dapat menyimpan pendapatan ini untuk diri mereka sendiri atau menggunakannya untuk mensubsidi biaya bahan bakar bagi pengguna.

Pendiri dan Investor Blast Layer-2

Blast mendapat dukungan dari pendiri marketplace NFT Blur, yaitu Pacman alias Tieshun Roquerre, drop out dari MIT tetapi sempat masuk Y Combinator dapat beasiswa Thiel Fellowship.

Pada November 2023, proyek ini mengumumkan bahwa telah berhasil mengumpulkan pendanaan senilai US$20 juta (Rp308,68 miliar). Kucuran investasi itu berasal dari Paradigm, Standard Crypto, dan sejumlah pihak lainnya.

Pacman pendiri Blur marketplace NFT juga pengembang Blast layer 2
Pacman pendiri Blur marketplace NFT juga pengembang Blast layer 2

Keuntungan Layer 2 Blast: Native Yield hingga Komunitas

Proyek Blast menawarkan sejumlah keuntungan sebagai solusi Layer 2 Ethereum. Pertama-tama, Blast menawarkan cara untuk mendapatkan bunga atas kepemilikan kripto, termasuk ETH dan stablecoin populer seperti USDC, USDT, dan DAI. Bunga ini datang native yield Blast atau rebasing otomatis berdasarkan imbalan staking ETH pada rantai utama Ethereum.

Kemudian, Blast menawarkan hasil seperti T-Bill untuk stablecoin melalui Blast USD (USDB). Tujuannya untuk memberikan pengembalian yang lebih baik daripada akun berbunga tradisional.

Tak hanya itu, Blast memprioritaskan keterlibatan pengguna dan menumbuhkan komunitas yang kuat melalui inisiatif seperti airdrop dan kompetisi pengembang. Secara keseluruhan, Blast bertujuan untuk menjadikan penyimpanan kripto di platform mereka lebih bermanfaat daripada dengan metode tradisional.

Kontroversi Rug Pull

Sebagai proyek yang terbilang baru, terdapat risiko Layer 2 Blast. Kabar peluncuran mainnet Blast datang setelah RiskOnBlast, sebuah platform GambleFi, diduga melakukan rug pull. Peristiwa ini merupakan rug pull pertama dari proyek kripto yang dibangun di L2 Blast.

Rug pull biasanya dilakukan oleh pengembang proyek kripto yang membawa kabur sejumlah dana yang terkumpul untuk proyek tersebut. Tuduhan ini muncul setelah hilangnya dana, situs web, dan media sosial RiskOnBlast.

Menurut penyedia data on-chain Arkham Intelligence, saldo kripto di RiskOnBlast telah menjadi nol setelah dana tersebut tampaknya telah dipindahkan pada 25 Februari 2024.

Airdrop Blast Layer 2

Rencana airdrop Blast pada Mei 2024 bertujuan untuk memberi insentif pada interaksi dan pengembangan komunitas dalam ekosistem Blast. Sebagian besar airdrop memberikan alokasi untuk pengembang yang berpartisipasi dalam Kompetisi Big Bang dan untuk keterlibatan komunitas. Sehingga, dapat mendorong likuiditas dan perluasan basis pengguna.

Big Bang Competition: Insentif Bagi Developer

Terdapat 8 kategori dalam kompetisi Big Bang. Hal itu mencakup decentralized perpetual futures exchange, decentralized token exchange, lending protocol, NFT atau game, SocialFi, GambleFi, infrastruktur, dan aneka ragam lainnya.

​Setiap kategori akan memiliki kumpulan dApps dan pemenangnya sendiri. Proyek tahap akhir dan tahap awal akan dinilai secara terpisah. Proyek-proyek ini akan dievaluasi berdasarkan konsep, pelaksanaan, dan native fitur Blast.

Airdrop Pengguna: Saldo Dompet

Sebanyak 50% dari Blast Airdrop dialokasikan ke Blast Points. Dompet pengguna akan mendapatkan Poin secara otomatis setiap blok berdasarkan saldo ETH/WETH/USDB. Hal ini tercermin secara realtime di dashboard Blast.io Airdrop.

Untuk meningkatkan Poin pengguna perlu menggunakan Blast sebagai jembatan ke berbagai Dapps. Penghasilan Poin akan bertambah seiring waktu dan dengan peningkatan saldo wallet karena native yield Blast (~4% untuk ETH/WETH dan 5% untuk USDB) juga.

Airdrop pengguna Layer-2 Blast ke saldo wallet pengguna dan dApps
Airdrop pengguna Layer-2 Blast ke saldo wallet pengguna dan dApps

Kesimpulan

Blast sebagai solusi layer 2 ethereum berupaya memberikan nilai lebih bagi komunitas dengan memperkenalkan native yield. Fitur-fiturnya termasuk auto-rebasing, imbal hasil asli dari staking ETH, T-Bill yield hingga pembagian gas fee menjadi hal yang menarik bagi penggiat crypto. Apalagi, airdrop dan kompetisi yang berlangsung bertujuan mendorong partisipasi developer dan pengguna.

Akan tetapi, masih ada risiko dari proyek yang terbaru ini, hingga ada dugaan rug pull dari salah satu dApp. Selalu riset dan gunakn uang dingin sebelum memutuskan investasi di dunia crypto.

Pertanyaan yang sering muncul

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi. Prioritas kami adalah menyediakan informasi berkualitas tinggi. Kami meluangkan waktu untuk mengidentifikasi, meriset, dan membuat konten edukasi yang sekiranya dapat bermanfaat bagi para pembaca. Kami menerima komisi dari para mitra kami untuk penempatan produk atau jasa mereka dalam artikel kami, supaya kami bisa tetap menjaga standar mutu dan terus memproduksi konten yang luar biasa. Meski demikian, pemberian komisi ini tidak akan memengaruhi proses kami dalam membuat konten yang tidak bias, jujur, dan bermanfaat.

foto-profil-hanum.png
Hanum Dewi
Hanum Dewi adalah seorang penulis dengan spesialisasi pada topik bisnis, keuangan, dan investasi. Dengan latar belakang pendidikan di bidang komunikasi dan pengalaman 8+ tahun di pasar modal, Hanum juga melakukan riset untuk membuat konten yang menarik dan informatif di berbagai topik. Melengkapi kemampuan menulisnya, dia juga selalu mengikuti tren dan perkembangan terbaru di industri cryptocurrency, DeFi, dan web3.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori