Lihat lebih banyak

CEO JPMorgan Kembali Serang Bitcoin, Lebih Tertarik dengan Smart Contract di Blockchain

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, kembali menyatakan ketidaksukaannya pada Bitcoin di sela-sela acara WEC di Davos, Swiss, pada hari Rabu (17/1).
  • Meski begitu, Jamie Dimon dalam pernyataan terbarunya mengungkapkan lebih banyak dukungan untuk blockchain yang memungkinkan hadirnya smart contract.
  • Sebelumnya, Larry Fink, CEO BlackRock, mengatakan bahwa kehadiran exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot hanyalah langkah pertama menuju dunia keuangan baru.
  • promo

Jamie Dimon, CEO dari raksasa keuangan JPMorgan Chase, kembali mencemooh Bitcoin dengan menyatakan ketidaksukaannya di sela-sela acara World Economic Forum (WEC) di Davos, Swiss, pada hari Rabu (17/1).

“Ini terakhir kalinya saya membicarakan hal ini. Jadi, tolonglah saya,” ungkap Jamie Dimon kepada CNBC sebelum memberikan respon saat ditanya tentang pandangan Larry Fink, CEO BlackRock, terhadap Bitcoin.

Dimon lantas menjawab, “Saya tidak peduli. Jadi, tolonglah berhenti membicarakan omong kosong ini.”

Dia melanjutkan dengan mengatakan, “Saya tidak tahu apa yang akan dikatakannya [Larry Fink] tentang blockchain versus mata uang yang melakukan sesuatu versus Bitcoin yang tidak melakukan apa pun. Saya menyebutnya batu peliharaan.”

Sebelumnya pada Desember 2023, Jamie Dimon mengatakan kepada sejumlah anggota parlemen Amerika Serikat (AS) bahwa jika dirinya memiliki wewenang di pemerintahan, dia akan mencoba menutup dunia kripto.

“Saya selalu sangat menentang Bitcoin, kripto, dan lain-lain. Kalau saya jadi pemerintah, saya akan menutupnya [dunia kripto],” kata Jamie Dimon.

CEO JPMorgan Lebih Tertarik dengan Blockchain yang Punya Smart Contract

Sementara dia cenderung mengecam Bitcoin, Jamie Dimon dalam pernyataan terbarunya mengungkapkan lebih banyak dukungan untuk blockchain yang memungkinkan hadirnya smart contract.

Sebagai informasi, blockchain Bitcoin saat ini belum memungkinkan kehadiran smart contract. Sejumlah pihak menyebut karena kebutuhan dari Bitcoin hanya untuk menjadi store of value atau berfokus sebagai mata uang.

Di sisi lain, ada pihak lain yang mendorong kehadiran smart contract di blockchain Bitcoin agar bisa menjangkau berbagai utilitas lainnya. Meski masih menuai kontroversi, saat ini telah ada Ordinal protocol hingga standar BRC-20 yang memungkinkan hadirnya inisiatif non-fungible token (NFT) sampai fungible token, seperti stablecoin hingga meme coin, di jaringan Bitcoin.

Kembali ke pernyataan Jamie Dimon, dia memberi contoh tokenisasi aset, yang merupakan potensi untuk turut digarap oleh para pelaku keuangan tradisional (TradFi).

Blockchain itu nyata. Ini adalah sebuah teknologi. Kami menggunakannya. Ini akan menggerakkan uang, itu akan menggerakkan data. Ini efisien. Kami juga sudah membicarakannya selama 12 tahun, dan jumlahnya sangat kecil.”

Jamie Dimon, CEO JPMorgan

Terkait blockchain yang memungkinkan penggunaan smart contract, Jamie Dimon menerangkan, “Ada cryptocurrency yang mungkin benar-benar melakukan sesuatu. Anda dapat menggunakannya untuk membeli dan menjual real estate dan memindahkan data, tokenisasi pada hal-hal yang Anda gunakan untuk melakukan sesuatu.”

Sebaliknya, dia menyoroti bahwa kasus penggunaan nyata Bitcoin adalah termasuk untuk penipuan, penghindaran pajak, dan perdagangan seks.

“Saya tidak ingin memberi tahu Anda apa yang harus dilakukan. Jadi, saran pribadi saya adalah jangan terlibat [pada Bitcoin]. Namun, ini adalah negara bebas,” tambahnya.

Dia turut mengatakan bahwa ada peluang bahwa Satoshi Nakamoto, kreator Bitcoin, suatu saat dapat meningkatkan suplai Bitcoin. Kontras dengan pernyataan ini, komunitas kripto dan sebagian kalangan TradFi percaya bahwa hal itu tidak bisa dilakukan.

CEO BlackRock Juga Tertarik dengan Tokenisasi Aset

Pada 12 Januari lalu, Larry Fink mengatakan bahwa kehadiran exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot hanyalah langkah pertama menuju dunia keuangan baru.

Larry Fink berpandangan, nilai penyedia teknologi blockchain lebih dari sekadar Bitcoin. ETF Bitcoin spot hanyalah pendahulu dari tokenisasi aset yang lebih luas.

“ETF adalah langkah pertama dalam revolusi teknologi di market keuangan. Langkah kedua adalah tokenisasi setiap aset keuangan,” kata CEO manajer aset terbesar di dunia itu.

Fink menilai bahwa saat ini telah ada teknologi untuk melakukan tokenisasi aset.

“Jika Anda memiliki sebuah tokenisasi sekuritas [efek], saat Anda membeli atau menjual suatu instrumen, diketahui bahwa instrumen itu ada di buku besar yang semuanya dibuat bersama. Ini menghilangkan semua korupsi, dengan memiliki sebuah sistem tokenisasi.”

Larry Fink, CEO BlackRock

Bagaimana pendapat Anda tentang pendapat CEO JPMorgan terhadap Bitcoin? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori