Consensus 2026 akan lebih dikenang bukan karena apa yang terjadi di panggung utamanya, melainkan karena apa yang berlangsung setelah acara usai. Pemilihan E11even, sebuah klub strip di Miami, sebagai lokasi resmi pesta penutupan membuat geger Komunitas Kripto di X (Crypto Twitter), hingga memicu perdebatan soal profesionalisme, budaya, serta untuk siapa sebenarnya industri ini dibangun.
Namun, di balik kontroversi tersebut, acara ini justru menyoroti jurang yang makin lebar antara basis ritel kripto dan industri yang kini semakin fokus melayani investor institusi.
Lanyard di Klub Strip
Jess Zhang mendatangi E11even dengan setengah hati. Awalnya, ia ingin memilih agenda lain, namun karena ajakan beberapa rekan, ia akhirnya berubah pikiran di detik-detik terakhir. Ia masuk sekitar tengah malam, saat pesta sedang memuncak.
Hampir seketika, ia merasa seharusnya mengikuti nalurinya semula. Ekspresi wajah para peserta penuh kebingungan, dan suasana terasa sangat canggung.
Zhang, CEO Blockus dan orang yang sudah berkecimpung di dunia kripto sejak masa puncak non-fungible token (NFT), merangkum pengalamannya dengan sederhana:
“Itu benar-benar seperti klub strip kumuh,” ujar dia saat berbincang dengan BeInCrypto. “Orang-orang memakai busana semi-formal, lanyard konferensi masih tergantung, mereka semua tampak sangat kebingungan.”
Bukan hanya Zhang yang merasa demikian. Amanda Wick, mantan jaksa federal yang kini menjadi konsultan kepatuhan kripto dan juga hadir di acara itu, mempertanyakan bagaimana industri yang sedang berupaya mendapatkan legitimasi institusional bisa memilih hiburan seperti ini.
“Kapan industri kripto sadar untuk tidak menggunakan klub strip sebagai hiburan pada acara yang seharusnya profesional?” tulisnya di LinkedIn tak lama setelah acara.
Konteks yang lebih luas juga memperlihatkan bahwa pemilihan lokasi ini malah bertentangan dengan tahapan pasar kripto saat ini.
Setelah banyak kritik terhadap acara ini, “Association for Women in Crypto” mengunggah beberapa surat terbuka kepada para sponsor acara.
Wall Street Mengambil Panggung Utama
Pada hari konferensi, muncul beberapa nama besar yang sebelumnya sama sekali belum pernah terjun ke sektor ini. Dari sekitar 15.000 peserta, nama-nama seperti JPMorgan Chase, Citigroup, dan bank-bank besar lainnya cukup mencolok.
Keesokan paginya setelah afterparty di E11even, Morgan Stanley mengumumkan layanan trading aset kripto di platform E*Trade mereka dengan biaya yang lebih kompetitif dibanding Coinbase.
Tak hanya di Miami, exchange-traded fund (ETF) kripto juga makin populer, dan exchange besar seperti Nasdaq maupun Bursa Saham New York (NYSE) mengumumkan rencana membangun platform sendiri untuk saham yang ditokenisasi.
“Kita sebagai industri harus naik level, jadi tempat seperti ini tidak seharusnya menjadi venue pesta penutupan resmi,” jelas Zhang.
Bagi Zhang, ada kontradiksi lain yang lebih penting muncul dalam afterparty tersebut.
Institusi Untung, Ritel Merana
Meski minat institusi terhadap aset kripto melonjak dalam beberapa bulan terakhir, harga aset secara keseluruhan justru stagnan bahkan turun. Tekanan ekonomi terhadap para pendiri dan pengembang kini makin terasa berat.
Bagi Zhang, fakta itu juga sangat terasa jelas di afterparty tersebut.
“Lantai benar-benar kering, hampir tidak ada uang yang dibelanjakan sama sekali. Orang-orang bahkan tidak memberi tip kepada penari,” tuturnya.
Zhang juga mengenang sebuah video yang beredar di Crypto Twitter tak lama kemudian, memperlihatkan seorang pria yang terlihat mengambil uang kertas dari lantai yang seharusnya untuk para penari.
“Rasanya itu sangat menggambarkan situasi bear market dan institusi yang mengambil dari kami,” paparnya, merujuk pada para builder dan ritel.
Ia membandingkan atmosfer tersebut dengan kunjungannya ke klub yang sama di tahun 2021, saat exchange FTX yang sekarang sudah bangkrut mengadakan acara serupa di tengah reli bull run bersejarah. Waktu itu, suasananya meriah bahkan terasa seperti pertunjukan kabaret. Klub tersebut menerima pembayaran kripto dan punya proyek NFT sendiri.
Kali ini, energi seperti itu benar-benar hilang. Dan suasana tersebut tidak hanya terjadi di Consensus saja.
Mode Bertahan Hidup di Luar Consensus
Selama beberapa acara kripto paling menonjol di tahun 2026, para peserta menyoroti auditorium yang lebih sepi dari biasanya dan suasana gelisah yang sangat terasa.
Owen Healy, seorang perekrut Web3 dan peserta acara rutin, menyaksikan hal ini secara langsung di EthCC di Cannes, Prancis.
Dengan posisinya yang dekat dengan pasar kerja industri ini, ia mengamati bahwa kecemasan menyebar luas dan dirasakan oleh perusahaan-perusahaan yang kelihatannya masih baik-baik saja dari luar. Hanya sedikit orang yang mau mengakuinya secara terbuka, tutur dia, karena takut akan dampak profesional yang bisa terjadi.
“Sejak awal, sudah jelas kita berada di bear market. Jumlah side event lebih sedikit, stan ikut berkurang, tidak banyak pengunjung, bahkan merchandise yang bisa dibawa pulang pun jauh lebih sedikit,” ujar Healy dalam sebuah unggahan di X. “Sebagai perekrut, saya merasa sedih ketika pulang. Cukup mengerikan melihat betapa banyak peserta yang sangat khawatir tentang karier mereka. Banyak peserta yang baru saja kehilangan pekerjaan dan lebih banyak lagi yang merasa itu hanya masalah waktu.”
Paris Blockchain Week menghadirkan suasana berbeda. Pria-pria berjas kini lebih mendominasi dibanding para penggemar kripto biasa, dan suasananya pun jadi lebih ringan—namun hanya bagi mereka yang berada di ruangan yang tepat. Bagi Healy, hal ini semakin menegaskan perpecahan yang sudah lama terbentuk di industri ini.
“Seperti yang terjadi saat ini, kita punya dua industri dalam satu — sektor keuangan efisien berjalan baik, sedangkan sektor keuangan alternatif sedang tidak sebaik itu,” tulisnya.
Bagi banyak perusahaan aset digital, perbedaan itu membuat hadir ke konferensi menjadi sesuatu yang makin sulit untuk dipertimbangkan.
Dari Stan Besar ke Anggaran Ketat
Bagi perusahaan yang membangun mereknya di tengah booming ritel kripto, perubahan ini mendorong mereka untuk benar-benar memikirkan ulang ke mana harus mengalokasikan dana mereka.
Koinly, sebuah platform pajak kripto global, adalah salah satunya. Perusahaan ini dulu menjadi investor awal yang aktif dalam sponsorship konferensi, memanfaatkan acara-acara tersebut sebagai mesin utama pertumbuhan di masa awal mereka.
Menurut CEO Robin Singh, masa-masa itu kini telah berlalu. Ia menggambarkan pergeseran dari sponsorship konferensi skala besar sebagai hasil dari perkembangan industri kripto yang makin mengarah pada institusionalisasi.
“Era stan aktivasi besar, paket sponsorship utama, dan pembagian hadiah besar-besaran kini sudah banyak digantikan dengan pendekatan yang lebih fokus pada alokasi modal,” papar Robin Singh, sambil menambahkan, “Sekarang, ada penekanan jauh lebih besar pada pemanfaatan anggaran akuisisi secara efisien, meningkatkan proses onboarding, menjaga kualitas layanan pelanggan tetap tinggi, serta terus memperluas produk melalui berbagai fitur dan integrasi baru yang kami rilis secara berkala.”
Pergeseran ini menandakan sesuatu yang lebih luas dari sekadar ekonomi konferensi. Industri ini tengah menata ulang dirinya, dan tidak semua bisa bertahan.
Zhang melihat penataan ulang itu secara langsung di acara Consensus. Para VIP berkumpul di acara pribadi di Ritz Carlton sedangkan yang lain digiring ke klub malam.
“Saya melihat ini sebagai tren baru di kripto, dan tren itu cukup buruk,” jelasnya. “Ada pemisahan antara kelompok yang punya dan yang tidak. Institusi, orang-orang berjas, acara VIP yang bahkan tidak terbuka atau dibicarakan publik. Sedangkan yang tidak punya adalah para retailer, dan tidak banyak yang bisa mereka dapatkan.”
Walau industri ini akhirnya mendapat kredibilitas institusional yang sudah lama mereka kejar, orang-orang yang sudah terjun ke kripto jauh sebelum ‘para berjas’ datang masih belum merasakan pengakuan itu berubah menjadi sesuatu yang nyata.









