Lihat lebih banyak

Mantan Eksekutif SoftBank Garap Proyek Stablecoin di Uni Emirat Arab

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Akshay Naheta, mantan eksekutif di perusahaan investasi SoftBank, meluncurkan sebuah perusahaan baru yang berfokus pada teknologi stablecoin di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).
  • Perusahaan baru bernama Distributed Technologies Research (DTR) itu nantinya akan bermitra dengan DRAM Trust yang berbasis di Hong Kong
  • Naheta sendiri menilai proyek stablecoin yang digarap oleh pihaknya akan memiliki daya tarik khusus di UEA.
  • promo

Akshay Naheta, mantan eksekutif di perusahaan investasi SoftBank, meluncurkan perusahaan baru yang berfokus pada teknologi stablecoin di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA).

Sosok itu mendirikan Distributed Technologies Research (DTR) di zona bebas keuangan internasional UEA. Perusahaan ini akan bermitra dengan DRAM Trust yang berbasis di Hong Kong, yang memiliki hubungan dengan beberapa individu berpenghasilan tinggi.

“Saya dengan senang hati mengumumkan perusahaan baru saya, DTR! Kami telah beroperasi secara sembunyi-sembunyi selama 10 bulan terakhir. Saya menantikan untuk membagikan rilis produk kami dalam waktu dekat,” kata Akshay Naheta.

Mereka ingin memanfaatkan market stablecoin yang diperkirakan oleh analis Bernstein akan tumbuh lebih dari 20 kali lipat menjadi US$2,8 triliun dalam 5 tahun.

Tidak seperti kebanyakan stablecoin yang terkait dengan dolar Amerika Serikat (USD), stablecoin DRAM akan didukung oleh dirham UEA.

Sebagai pengingat, stablecoin yang dipatok ke mata uang fiat dolar AS menawarkan stabilitas yang lebih besar bagi individu di negara-negara dengan inflasi tinggi seperti di Turki, Argentina, Lebanon, dan berbagai negara lainnya. Selain itu, stablecoin juga memberikan alternatif yang lebih cepat terhadap sistem pembayaran lintas batas SWIFT.

Berdasarkan laporan Bloomberg pada hari Senin (2/10), Akshay Naheta mengatakan bahwa fokus utama pihaknya adalah bagi mereka yang tidak memiliki rekening bank dan tidak mempunyai rekening bank di sejumlah negara.

“Jika Anda ingin mendiversifikasi risiko dan menggunakan mata uang yang setara dengan dolar, ada banyak uang yang bisa digunakan untuk hal ini,” kata Naheta.

Menangkap Potensi Pertumbuhan Market Stablecoin

Sebagai mantan trader di Deutsche Bank, Akshay Naheta berperan penting dalam beberapa kesepakatan terbesar SoftBank selama masa jabatannya sebagai Managing Partner.

Misalnya, dia memimpin investasi SoftBank senilai US$4 miliar di Nvidia pada tahun 2017. Investasi SoftBank di perusahaan produsen GPU (Graphics Processing Units) itu menghasilkan laba US$3 miliar.

Sejak meninggalkan SoftBank tahun lalu, Akshay Naheta telah mengerjakan berbagai proyek financial technology (fintech), dengan menggunakan UEA sebagai basis.

Adapun stablecoin telah ada selama hampir satu dekade. Namun, sebagian besar digunakan oleh trader untuk memindahkan aset kripto antar crypto exchange dan baru bisa memberikan akses terbatas dalam pembayaran konsumen.

Market cap atau kapitalisasi pasar stablecoin saat ini baru mencapai sekitar US$123,29 miliar, berdasarkan data dari CoinGecko.

Banyak pihak melihat stablecoin sebagai cara terbaik untuk melakukan transfer uang serta pembayaran yang murah dan instan. Namun, mata uang digital bank sentral (CBDC) dapat menjadi penantang bagi stablecoin yang digarap oleh perusahaan swasta.

Mengawinkan Potensi Uni Emirat Arab dan Peluang Stablecoin

Stablecoin DRAM akan tersedia di decentralized exchange (DEX); termasuk Uniswap, SushiSwap, dan PancakeSwap. Menurut Akshay Naheta, stablecoin DRAM juga berniat untuk listing di sejumlah centralized exchange (CEX) dalam waktu dekat.

Dia menilai proyek stablecoin yang pihaknya garap akan memiliki daya tarik khusus di UEA, yang memiliki populasi ekspatriat yang besar dan berada di dekat sejumlah negara dengan inflasi tinggi di Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Selain itu, Dubai dan Abu Dhabi di UEA dinilai sebagai salah satu crypto hub menarik di dunia.

Meski uang kertas UEA masih memainkan peran kecil dalam perekonomian global saat ini, baru-baru ini uang kertas tersebut muncul sebagai petro-currency yang lebih populer. Istilah petro-currency umum disematkan pada mata uang fiat dari negara produsen minyak.

“Kita sudah beralih ke sistem keuangan yang benar-benar baru dan sudah diatur ulang ketika dirham akan menjadi pemain besar. Saya sangat optimis terhadap UEA. Ini adalah Swiss yang baru, netral secara geopolitik, pusat transportasi hebat, dan tujuan wisata utama,” kata Akshay Naheta.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram dan Twitter BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Desember 2023

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

userpic_14-1.jpg
Ahmad Rifai
Ahmad Rifai adalah seorang jurnalis yang meliput sektor startup, khususnya di Asia Tenggara, dan penggila open source intelligence (OSINT). Dia bersemangat mengikuti berbagai cerita tentang perang, tetapi percaya bahwa medan pertempuran saat ini adalah di dunia kripto.
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori