Mengenal ATM Bitcoin Pertama di Indonesia yang Dukung Lightning Network

Diperbarui oleh Lynn Wang
Ringkasan
  • Lightning ATM (Mainan) adalah ATM Bitcoin virtual pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi Lightning Network.
  • Proyek ini merupakan gagasan dari sosok yang dikenal dengan pseudonim Roaringstars.
  • Saat ini, Lightning ATM (Mainan) masih dalam versi beta. Namun, mereka sudah membuat roadmap untuk rencana pengembangan selama tahun 2022.

Gaung adopsi Bitcoin Lightning Network tidak hanya terdengar samar-samar dari kejauhan Negeri Paman Sam, tapi semangatnya juga dapat dirasakan langsung pada Lightning ATM (Mainan) yang dapat mengonversi rupiah ke satoshi.

Dalam panggung Bitcoin 2022 Conference, Cathie Wood (CEO Ark Invest) sempat mengatakan, “Ikuti para developer. Saya pikir kita akan melihat ledakan dari para developer yang berfokus pada Lightning Network (LN).”

Pernyataan itu ada benarnya karena tren tersebut mulai mengarah ke sana. Kraken, Robinhood, BitPay, hingga Shopify yang bekerja sama dengan Strike, baru-baru ini menyatakan posisi dalam mendukung adopsi Lightning Network di platform mereka masing-masing. 

Lightning Network singkatnya merupakan solusi layer-2 yang berada di atas blockchain Bitcoin (BTC). LN dinilai dapat memecahkan kendala skalabilitas yang ada dan memungkinkan transaksi tingkat global dalam volume yang tinggi, hampir seketika, serta biaya yang rendah dengan mengandalkan keamanan blockchain Bitcoin.

Elizabeth Stark yang merupakan co-founder & CEO Lightning Labs mengatakan bahwa Lightning Network ibarat Visa untuk Bitcoin. Namun, yang menjadi pembeda adalah tidak ada satu perusahaan pun yang mengatur payments protocol ini. 

Dengan hitungan mampu menangani 500 TPS (transaksi per detik) pada tiap-tiap saluran pembayaran, Blockstream memperkirakan Lightning Network dapat menangani 40 juta TPS atau lebih dari 1.000 kali kapasitas Visa. Padahal sebelumnya, Bitcoin diperkirakan hanya memiliki kapasitas pemrosesan transaksi per detik rata-rata antara 3,3 TPS hingg 7 TPS.

Mengenal Lightning ATM (Mainan)

Menariknya, semangat untuk mengadopsi Lightning Network yang dapat digunakan sebagai alat transaksi sehari-hari ternyata juga disadari betul oleh akun Twitter Roaringstars.

Dia mengembangkan sebuah program bernama Lightning ATM (Mainan) yang mengkonversi Rupiah ke Satoshi (nominal terkecil dari Bitcoin, bernilai 1:100.000.000 atau 0,00000001 BTC).

Ini merupakan ATM Bitcoin mendukung Lightning Network yang konon pertama di Indonesia. Hadirnya ATM ini memungkinkan bagi siapa pun untuk mencoba membeli Bitcoin dengan biaya yang minim.

Cukup mulai dari Rp1.500, sudah bisa mulai belajar cara mengelola dompet Bitcoin mereka sendiri (self-custody) dan mengetahui tentang teknologi Lightning Network.

Cara menggunakan ATM Bitcoin Lightning ini cukup sederhana. Pertama buka situs roaringstars.com., kemudian klik ‘Save Config & Reboot’. Lalu tekan tulisan ‘please deposit rupiah’. 

Pilih opsi untuk melakukan deposit antara Rp1.500 atau Rp10.000. Setelah itu, setujui syarat dan ketentuan yang berlaku dengan klik ‘Agree & Deposit’. ATM kemudian akan mulai men-generate kode QRIS. 

Pengguna lantas dapat melakukan pembayaran dengan men-scan kode QRIS tersebut via OVO, GoPay, hingga BCA. Setelah menyelesaikan proses pembayaran, pengguna akan mendapatkan QR code yang digunakan untuk men-transfer Satoshi ke crypto wallet yang mendukung LNURL seperti Muun, BlueWallet, hingga Wallet of Satoshi.

Fee atau biaya yang dikenakan untuk menggunakan layanan ini awalnya 10%, tapi sekarang menjadi 9%. Rinciannya, 2% payment gateway fee dan 7% exchange fee. Roaringstars mengaku berupaya menurunkan fee sampai ke batas termurah secara bertahap.

Adapun Lightning ATM (Mainan) ini dirilis pada awal Februari 2022. Sejauh ini sudah ada total 527 transaksi yang sukses dilakukan.

Cara Membuat Lightning ATM (Mainan)

Lightning ATM (Mainan) | situs web Roaringstars.com
Lightning ATM (Mainan) | situs web Roaringstars.com

Dalam mengembangkan proyek ini, Roaringstars menggunakan API dari LNPay & OpenNode karena kebetulan masih dalam proses belajar untuk running node sendiri. Selain itu, dia juga mengandalkan buku Mastering Lightning Network sebagai bahan referensi.

Dia tidak menutup kemungkinan, bila fasilitas, seperti internet dan hardware, yang memadai sudah ada, akan mencoba untuk running node sendiri.

Sebagai informasi, bila ingin menyediakan layanan Lightning Network, pilihannya ada dua. Running node sendiri atau menggunakan opsi dari pihak ketiga yang menyediakan API.

Roaringstars menjelaskan mengembangkan sendiri proyek ini dan tidak didukung sama sekali oleh investor. “Bahkan ambil profit saja tidak, karena murni untuk edukasi,” ungkapnya kepada Be[IN]Crypto Indonesia.

Pada versi selanjutnya, dia mencoba membuat open-source di bagian front-end, agar orang-orang bisa ikut berkolaborasi membuat ATM ini lebih baik lagi.

Latar Belakang Membuat Lightning ATM (Mainan)

Akun Twitter Roaringstars menjelaskan awal mula mendirikan Lightning ATM (Mainan) sebenarnya berawal dari rasa ingin tahu tentang Bitcoin, terutama Lightning Network.

Sosok yang tidak ingin membocorkan identitas pribadinya ini menilai Lightning Network menarik karena dapat membuat pengguna mengirim uang super cepat dan lewat jaringan super aman Bitcoin. 

Lulusan jurusan komputer yang sekarang sudah bekerja sebagai programmer ini telah cukup lama berkenalan dengan Bitcoin, tetapi mengaku baru mengetahui tentang Lightning Network pada awal 2020.

Berbekal dari rasa keingintahuan yang tinggi untuk mempelajari Lightning Network, dia mulai menggali informasi di Twitter dan berinteraksi dengan orang-orang yang memang gemar membuat eksperimen menggunakan Lightning Network.

Hingga akhirnya pada 3 Januari 2022, dia menemukan sebuah forum diskusi audio live di Twitter Space yang membahas komunitas Bitcoin di seluruh dunia. Adapun acara tersebut diselenggarakan Global Bitcoin Fest (@GlobalBTCFest) dan diorganisir oleh akun Twitter @duczko.

Dalam edisi membahas tentang komunitas Bitcoin di Indonesia, Roaringstars berkesempatan mengikuti jalannya diskusi Twitter Space tersebut. Dia kemudian sadar bahwa ternyata ada beberapa isu di Indonesia terkait Bitcoin.

Poin utamanya adalah, banyak pihak yang belum paham mengenai Bitcoin, apalagi Lightning Network. Hal inilah yang dinilai membuat kebijakan Pemerintah Indonesia juga agak ngawur bila dilihat dari sudut pandang Bitcoin. 

“Dinilai ngawur karena semenjak ada penegasan bahwa Bitcoin dilarang sebagai alat pembayaran seperti Rupiah, masyarakat jadi berpikir bahwa Bitcoin itu hanyalah aset seperti emas (store of value). Padahal, dengan LN jauh lebih dari itu,” kata Roaringstars.

Dia menegaskan bukan posisinya anti-pemerintah, tetapi sayang saja apabila pemanfaatan teknologi yang berguna untuk Indonesia, seperti mimpi mantan Presiden RI ke-3 BJ Habibie, lagi-lagi tidak bisa terealisasi.

Lightning Network Bisa Sangat Bermanfaat

Roaringstars melihat Bitcoin plus Lightning Network sebenarnya bisa sangat bermanfaat untuk negara kepulauan seperti Indonesia. 

“Karena, kita ga perlu lagi mengirim uang jauh-jauh ke pelosok negeri, cukup edukasi saja, toh banyak dari kita sudah punya alat untuk pakai Bitcoin,” katanya.

Agar kebijakan pemerintah dalam memandang Bitcoin dapat dikaji kembali, dia menilai tentunya harus lebih banyak orang Indonesia yang paham terlebih dahulu tentang Bitcoin dan Lightning Network, baik kelebihan dan kekurangannya.

Dia menilai ternyata masih sedikit referensi tentang LN dalam bahasan Indonesia, apalagi alat peraganya. Pada titik inilah dia berpikir bagaimana agar orang Indonesia bisa mencoba Bitcoin sebagai alat pembayaran tanpa perlu keluar uang banyak, cukup Rp1.500 sudah bisa ikut mencoba.

Roaringstars yakin bahwa orang akan cepat belajar lewat self-exploration. Sementara tugasnya sebagai fasilitator adalah mengurangi risiko yaitu kehilangan uang.

Di samping itu, dia secara pribadi juga ingin belajar tentang implementasi terkait Bitcoin. “Kalau belajar sendiri kurang cepat. Kalau kita buat sebuah produk, makin banyak use-case atau masukan dari orang-orang, otomatis aku jadi lebih paham suatu hal, dalam hal ini tentang Bitcoin,” katanya.

Target di Tahun 2022

Ada beberapa target yang ingin dicapai Lightning ATM (Mainan) pada tahun 2022. Misalnya, membuat ATM Bitcoin ini cukup dapat diandalkan, dengan 99% transaksi sukses dan 1% refund, atau bahkan bila bisa 100% sukses.

“Aku juga lagi eksperimen untuk menerima pembelian 1 Satoshi. Saat ini masih riset, karena belum ada API yg bisa menerima pembayaran rupiah sekecil itu,” katanya.

Selain itu, dia berharap dapat berkolaborasi dengan komunitas dalam menyediakan referensi belajar Bitcoin yang lengkap di website Labs Roaringstars.

Tujuannya agar orang-orang yang ingin belajar tentang Bitcoin dapat langsung menuju website tersebut dan mereka yang juga sedang belajar agar dapat saling membantu dan bertukar pikiran.

Daripada mengharapkan dukungan dari investor, Roaringstars lebih memilih untuk mendapat batuan dalam soal legalitas. Pasalnya, regulasi yang berkaitan dengan Lightning ATM (Mainan) untuk edukasi masih berada dalam gray area di Indonesia.

Roaringstars berharap pihak dari Pemerintah Indonesia tertarik untuk menginisiasi eksperimen Bitcoin Lightning Network ini lebih lanjut. Selain itu, semoga juga makin banyak masyarakat yang mencari tahu tentang teknologi ini. 

“Kalau misal belum bisa jadi legal payment atau money di Indonesia, paling enggak orang-orang punya back-up plan seandainya Rupiah fails. Sayang kalau teknologi gratis gini ga dipakai,” pungkasnya.

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.