Bitcoin btc
$ usd

Penggunaan Stablecoin di Rusia Terus Meningkat sejak Lakukan Operasi Militer di Ukraina

3 mins
13 Oktober 2022, 14:17 WIB
Diperbarui oleh Lynn Wang
13 Oktober 2022, 15:38 WIB
Ringkasan
  • Chainalysis melaporkan bahwa penggunaan stablecoin meningkat di Rusia setelah menerima berbagai sanksi dari Barat karena melakukan operasi militer ke Ukraina.
  • Volume transaksi stablecoin pada sejumlah layanan utama di Rusia meningkat dari 42% (Januari 2022) menjadi 67% (Maret 2022).
  • Stablecoin cenderung menjadi media pertukaran yang disukai, karena stabilitas harga yang diberikan.

Perusahaan analitik blockchain Chainalysis melaporkan bahwa penggunaan stablecoin meningkat di Rusia setelah menerima berbagai sanksi dari barat karena melakukan operasi militer ke Ukraina.

Dalam laporan yang dirilis pada hari Rabu (12/10), terungkap bahwa volume transaksi stablecoin pada sejumlah layanan utama di Rusia meningkat dari 42% (Januari 2022) menjadi 67% (Maret 2022), setelah operasi militer dilangsungkan. Sejak bulan itu, volume transaksi stablecoin di Rusia pun terus meningkat.

Volume transaksi kripto di Rusia berdasarkan jenis aset dari Juli 2021 hingga Agustus 2022 | Sumber: Chainalysis

Berbicara kepada Chainalysis, sumber anonim yang ahli terkait pencucian uang regional mengatakan bahwa memblokir Rusia dari SWIFT justru membuat kripto digunakan sebagai pengganti transaksi lintas batas.

Adapun stablecoin cenderung menjadi media pertukaran yang disukai, karena stabilitas harga yang diberikan.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa beberapa lonjakan penggunaan stablecoin kemungkinan disebabkan oleh warga Rusia biasa yang memperdagangkan Rubel untuk stablecoin. Hal ini dilakukan dalam rangka melindungi nilai aset mereka di tengah tingkat inflasi yang tinggi sejak eskalasi konflik Rusia-Ukraina terus meningkat.

“Beberapa di antaranya mungkin karena sejumlah perusahaan menggunakan kripto untuk transaksi internasional. Ada juga kemungkinan beberapa peningkatan disebabkan oleh warga Rusia biasa yang berdagang stablecoin untuk melindungi nilai aset mereka, seperti yang telah kami diskusikan sebelumnya,” urai laporan Chainalysis tersebut.

Aktivitas berisiko & Kegiatan Terlarang Terkait Kripto Bisa Meningkat

Rincian aktivitas kripto yang berisiko & terlarang di berbagai wilayah dari Juli 2021 hingga Juni 2022 | Chainalysis

Sementara itu, Chainalysis juga mencatat dalam temuan mereka bahwa Eropa Timur memiliki pangsa aktivitas kripto berisiko tertinggi dibandingkan dengan wilayah lain di seluruh dunia dalam setahun terakhir.

Setidaknya, terdapat 18,2% aktivitas kripto di wilayah Eropa yang ‘berisiko’ atau ‘terlarang’. Pada posisi tertinggi berikutnya, disusul Asia yang mencapai 15%. Selanjutnya, urutan ketiga, diisi oleh Afrika Sub Sahara, yang sejauh ini dinilai memiliki bagian terbesar dari aktivitas terlarang yang melibatkan kripto. Perkembangan terbaru dari aktivitas berisiko dan kegiatan terlarang yang berhubungan dengan kripto mungkin saja dapat semakin meningkatkan persentase ini.

Sebagai informasi, Chainalysis mendefinisikan ‘aktivitas berisiko’ sebagai transaksi apa pun yang melibatkan alamat crypto wallet yang terkait dengan entitas berisiko, seperti crypto exchange dengan persyaratan know your customer (KYC) yang rendah atau tidak sama sekali. Sementara itu, ‘kegiatan terlarang’ didefinisikan sebagai transaksi yang terkait dengan entitas kriminal yang diketahui.

Efektivitas Sanksi Terkait Kripto untuk Rusia Dipertanyakan

Pada 6 Oktober kemarin, Komisi Eropa, yang merupakan badan eksekutif Uni Eropa, melayangkan sanksi terbaru kepada Rusia. Sanksi terbaru itu mencakup pelarangan untuk melayani semua crypto wallet yang dimiliki oleh warga Rusia.

“Larangan yang ada pada aset kripto telah diperketat dengan melarang semua crypto wallet, akun, atau layanan penyimpanan, terlepas dari jumlah isi crypto wallet tersebut,” demikian bunyi pernyataan yang dirilis oleh Komisi Eropa.

Jika sebelumnya larangan hanya berlaku untuk orang Rusia yang menyimpan kripto senilai lebih dari 10.000 euro (sekitar Rp150,54 juta), maka sekarang pembatasan berlaku untuk semua warga Rusia. Pembatasan tidak hanya berlaku bagi crypto wallet. Namun, sekarang juga diterapkan untuk akun yang dimiliki warga Rusia di crypto exchange.

Kendati demikian, hal ini justru dinilai akan mendorong semakin lebih banyak pengguna dari Rusia untuk mencari crypto exchange yang kurang dikenal dan tidak memiliki persyaratan KYC untuk menghindari sanksi.

Terkait hal ini, laporan Chainalysis mencatat bahwa kripto bisa digunakan untuk mengatasi sanksi. Artinya, perlu ada lebih banyak diskusi untuk meningkatkan efektivitas. Meski demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa kripto sebenarnya juga memiliki peran positif dalam memfasilitasi sumbangan untuk Ukraina.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.