Lihat lebih banyak

Rugi Bisnis Metaverse Meta Platforms pada Tahun 2022 Bengkak Jadi Rp204,4 Triliun

3 mins
Diperbarui oleh Ahmad Rifai
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Bisnis Reality Labs yang garap metaverse Meta Platforms telan kerugian operasi US$13,71 miliar atau sekitar Rp204,4 triliun pada tahun 2022.
  • Jumlah itu membengkak 34,57% dibandingkan dengan tahun 2021 yang mencapai US$10,19 miliar.
  • Sepanjang tahun 2022, segmen bisnis metaverse hanya berkontribusi 1,85% dari total pendapatan yang dihasilkan perusahaan Mark Zuckerberg.
  • promo

Meta Platforms, induk perusahaan Facebook, Instagram, hingga Whatsapp, harus rela menerima kenyataan bahwa divisi bisnis metaverse mereka masih belum bisa menyumbangkan keuntungan. Pasalnya, bisnis Reality Labs yang bertanggung jawab terhadap pengembangan metaverse Meta masih harus menanggung kerugian operasi sebesar US$13,71 miliar atau sekitar Rp204,4 triliun pada tahun 2022.

Jumlah itu membengkak 34,57% dibandingkan dengan tahun 2021 yang mencapai US$10,19 miliar. Sampai saat ini, Meta memang masih terus mengembangkan unit bisnis itu dan menggelontorkan dana yang tidak sedikit untuk melanjutkan operasi.

Selain itu, pendapatan yang bersumber dari Reality Labs masih belum terlalu terlihat. Sepanjang tahun 2022 saja, segmen bisnis metaverse Meta hanya menyumbang US$2,15 miliar bagi total pendapatan perusahaan. Jumlah itu hanya berkontribusi 1,85% dari total pendapatan yang dihasilkan Meta pada tahun 2022.

CEO Meta, Mark Zuckerberg, di akun Facebook pribadinya mengakui bahwa tahun 2022 merupakan tahun yang menantang. Sebab, mereka melakukan banyak peningkatan untuk melakukan efisiensi, termasuk yang terjadi di ranah sumber daya manusia mereka. Meskipun masih belum mencatatkan keuntungan, Zuck masih percaya diri bahwa bisnis metaverse yang tengah dibangunnya merupakan proyek jangka panjang dan akan menjadi platform masa depan.

“Ekosistem Mixed Reality (MR) memang masih relatif baru. Namun, saya pikir itu akan tumbuh lebih banyak dalam beberapa tahun ke depan,” jelas Mark Zuckerberg.

Sebagai catatan, Meta sepanjang tahun lalu sudah mengeluarkan belanja modal alias capital expenditure (capex) sebesar US$32,04 miliar dan kurang dari 20% di antaranya dialokasikan untuk pengembangan bisnis metaverse melalui Reality Labs.

AI dan Metaverse Tetap Jadi Fokus

Zuck menegaskan bahwa fokus bisnis Meta pada tahun 2023 akan dititikberatkan pada segmen Artificial Intelligence (AI), periklanan, business messanger, generative AI, dan juga metaverse. AI selama ini dianggap sebagai pondasi dari bisnis iklan dan fitur pencarian yang ada di Instagram maupun Facebook.

Menurutnya, dengan pengembangan AI, Meta bisa menyajikan konten yang lebih relevan dengan kebutuhan pengguna sesuai dengan rekomendasi dari sistem. Untuk itu, mereka akan mendorong penerapan generative AI yang akan menarik banyak aplikasi yang berbeda.

Sementara untuk bisnis metaverse, Zuck menjelaskan bahwa Meta sudah merilis headset Quest Pro pada akhir tahun lalu. Gadget yang diharapkan menjadi perangkat Mixed Reality itu diklaim mampu menjadi standar untuk industri yang saat ini tengah mereka bangun. Oleh karena itu, Meta kembali merilis headshet generasi berikutnya bagi konsumen pada akhir tahun ini, yang juga akan menjadi dasar bagi semua headset ke depannya.

“Di luar MR, ekosistem Virtual Reality (VR) terus tumbuh dan saat ini ada lebih dari 200 aplikasi yang ada di perangkat VR kami. Dari sini, kami sudah berhasil mendapatkan pendapatan lebih dari US$1 juta,” imbuh CEO Meta itu.

Dengan segala rencana ekspansi untuk pengembangan metaverse dan ekosistem, Mark Zuckerberg menekankan bahwa tahun 2023 merupakan tahun efisiensi bagi Meta. Mereka akan terus membuat perusahaan ramping sehingga bisa membangun bisnis yang lebih baik sembari meningkatkan kinerja.

Berdasarkan pantauan di market, harga saham Meta naik 23,28% pada penutupan perdagangan hari Kamis (2/1).

Belanja Modal Lebih Rendah

Mengingat tahun ini adalah tahun efisiensi bagi Meta, mereka mengalokasikan capex yang lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.

Terkait hal ini, Chief Financial Officer (CFO) Meta, Susan Li, mengatakan proyeksi belanja modal pada tahun ini akan berkisar di level US$30 sampai dengan US$33 miliar. Diakuinya, Meta akan beralih ke arsitektur pusat data baru yang lebih hemat biaya dan dapa mendukung beban kerja AI dan non-AI.

“Secara substansial, semua belanja modal perusahaan akan terus mendukung lini bisnis dari Family of Apps di Meta,” imbuh Susan Li.

Sebagai catatan, Family of Apps (FoA) yang ada di bawah Meta terdiri dari Facebook, Instagram, Messenger, Whatsapp, dan sejumlah layanan lainnya. Sepanjang tahun 2022, pendapatan yang berasal dari segmen bisnis itu mencapai US$114,45 miliar, turun tipis dari posisi 2021 yang mencapai US$115,655. Meski begitu, secara kontribusi pendapatan, FoA masih mendominasi dengan menyumbang lebih dari 90% dari total pendapatan Meta.

Dalam raihan laba operasi, FoA pun mampu menahan dalamnya penurunan kerugian Meta. Pasalnya, dalam 12 bulan yang berakhir pada Desember 2022, FoA mampu menghasilkan laba operasi sebesar US$42,66 miliar. Namun, capaian itu turun 25,08% dari periode yang sama pada 2021 yang mencapai US$56,94 miliar.

Menariknya, dalam kondisi yang serba melemah, pengguna harian Facebook pada tahun lalu berhasil menembus angka 2 miliar. Capaian ini meningkat 4% dari periode yang sama pada tahun 2021.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori