Lihat lebih banyak

Sanksi Ekonomi Diperpanjang, Rusia Genjot Uji Coba Rubel Digital di Q1/2023

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Rusia menargetkan pada kuartal pertama tahun ini, pengembangan penyelesaian transaksi lintas batas bakal rampung.
  • Bank Sentral Rusia juga mengembangkan 2 pendekatan dalam penyelesaian transaksi lintas batas berbasis rubel digital.
  • Di samping itu, harapannya penerapan CBDC ini dapat membantu menghilangkan ketergantungan terhadap ancaman geopolitik yang mungkin saja terjadi.
  • promo

Saat ini, terdapat lebih dari 20 negara yang tengah memacu pengembangan proyek central bank digital currency (CBDC). Beragam alasan dijadikan pertimbangan untuk memulai proyek mata CBDC yang sejatinya sudah dimulai sejak beberapa tahun ke belakang. Mulai dari untuk mengatasi mahalnya biaya pengiriman uang lintas batas, efisiensi waktu transaksi hingga penghindaran sanksi politik dan ekonomi dari negara lain. Seperti Rusia, misalnya. Negara dengan julukan Negeri Beruang Putih itu tengah menggenjot pengembangan CBDC untuk bisa menghindari sanksi ekonomi yang dijatuhkan negara Barat.

Bank Sentral Rusia menargetkan pada kuartal pertama tahun ini, pengembangan penyelesaian transaksi lintas batas bakal rampung. Lembaga yang bertanggung jawab terhadap moneter dan fiskal Rusia itu bahkan sudah mengembangkan 2 pendekatan dalam penyelesaian transaksi lintas batas berbasis rubel digital.

Seperti diketahui, Rusia mendapatkan sejumlah sanksi dari Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS) atas invasi yang dilakukan ke Ukraina. Salah satu sanksi yang harus diterima Vladimir Putin dan negaranya adalah adanya pembekuan aset milik individu ataupun entitas asal Rusia yang terdaftar di bank yang ada di Uni Eropa. Hal itu dimaksudkan agar tidak ada lagi aliran dana yang mendukung agresi Rusia terhadap Ukraina.

Selain itu, pembatasan impor dan ekspor untuk produk tertentu juga diberlakukan. Sanksi terbaru yang dijatuhkan adalah larangan pembelian, impor ataupun transfer minyak mentah lintas laut dan produk minyak tertentu dari Rusia ke UE terhitung mulai tanggal 5 Desember 2022 sampai 5 Februari 2023. Padahal, mekanisme pengiriman minyak mentah selama ini dilakukan lewat jalur laut. Artinya, hampir 90% impor minyak Rusia ke Eropa tidak bisa dilakukan. Sehingga, pada akhirnya akan mengurangi keuntungan perdagangan Rusia secara signifikan.

Oleh karena itu, Bank Sentral Rusia terus mengebut penyelesaian model dari rubel digital sebagai solusi keuangan di masa depan. Ditambah lagi, pelaku pasar juga percaya bahwa implementasi mata uang digital bukan hanya soal pemanfaatan teknologi untuk penyelesaian transaksi, melainkan juga untuk menghilangkan ketergantungan terhadap ancaman geopolitik yang mungkin saja terjadi.

Integrasi Mata Uang Digital dengan Tiap Negara

Tak Mau Ketinggalan Kereta, Iran Ikut Garap Proyek CBDC

Pendekatan pertama dalam pengembangan rubel digital diasumsikan bahwa masing-masing negara sudah menandatangi perjanjian bilateral secara terpisah terkait integrasi platform CBDC. Nantinya, akan ada kesepakatan yang harus dicapai terlebih dulu demi memastikan proses konversi dan format transfer bisa berjalan seragam dan terstandardisasi.

Ketua Asosiasi Uang Elektronik dan Pelaku Pasar Transfer Uang (AED), Viktor Dostov, mengungkapkan skema tersebut mirip dengan proses korespondensi diantara masing-masing negara, yang mana protokol interaksi disimpulkan antara negara yang terkait.

Sementara itu, Kepala Dewan Asosiasi Inovasi Keuangan (AF), Roman Prokhorov, menuturkan dalam pendekatan pertama model yang dijalankan lebh sederhana namun kurang menjanjikan untuk proses interaksi bilateral antar negara.

“Implementasi penyelesaian transaksi lintas batas menggunakan mata uang digital tidak akan terlalu bergantung pada kesiapan pihak Rusia, tetapi lebih kepada kesiapan mitra negara yang akan melakukan kerja sama,” jelas Prokhorov.

Cina adalah Mitra Terdekat Rusia

Sementara itu, dalam pendekatan kedua, skema penyelesaian yang akan dijalankan adalah dengan menghubungkan negara ke platform integrasi tunggal berdasarkan protokol dan standar umum yang dikembangkan. Sehingga, proses pembayaran antar platform mata uang digital dari berbagai negara akan saling terintegrasi.

Menurut Prokhorov, pendekatan kedua merupakan opsi yang lebih maju, karena artinya sistem pengaturannya berlangsung dengan sistem pembayaran supra-negara. Dostov menambahkan, skema penyelesaian transaksi kedua memungkinkan proses konversi ataupun transfer berjalan secara transparan.

“Saat ini, Cina merupakan mitra terdekat yang mungkin diajak bekerja sama. Hal itu didasarkan pada pertimbangan dalam hal kesiapan teknologi dan juga politik,” tambah Prokhorov.

Cina dalam pengembangan mata uang digitalnya juga didasari pada keinginan untuk melawan hegemoni dolar AS. Salah seorang peneliti Cina bahkan pernah mengusulkan agar negara yang berada di wilayah Asia bersama-sama menerbitkan mata uang digital Asia. Dengan begitu, diharapkan ketergantungan terhadap penggunaan dolar AS bakal terkikis.

Bagaimana pendapat Anda tentang perkembangan terkini rubel digital Rusia? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori