Bitcoin btc
$ usd

Startup Indonesia Assemblr Luncurkan Metaverse Hub Sosial

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Assemblr meluncurkan proyek bernama Assemblr Metaverse sebagai wadah bagi pengguna untuk bertemu, bekerja, dan aktivitas virtual lainnya.
  • Mereka percaya diri bahwa melalui pengembangan yang dilakukannya, mampu menjadikan Assemblr Metaverse sebagai one-stop metaverse platform.
  • Meskipun layanan ini berbasis web, pengguna tetap bisa mengaksesnya menggunakan ponsel, laptop ataupun headset VR bagi yang sudah memiliki.

Assemblr, startup berbasis augmented reality (AR) asal Indonesia, hari ini meluncurkan metaverse perdananya. Proyek virtual yang akan menjadi hub sosial itu dinamakan sebagai Assemblr Metaverse dan akan menjadi wadah bagi pengguna untuk bertemu, bekerja, dan melakukan aktivitas bersama lainnya secara virtual.

Langkah Assemblr itu akan menambah panjang deret pengembangan ruang virtual di tanah air. Sebelumnya, Wir Group sudah lebih dulu menggarap proyek metaverse di Indonesia untuk beragam kebutuhan, mulai dari bisnis, layanan publik, penjualan retail, kegiatan komunitas dan masih banyak lagi.

Meskipun begitu, proyek metaverse Assemblr bukanlah proyek baru. Perusahaan sudah merintisnya sejak lama dan merilis versi beta pada September tahun lalu. Mereka percaya diri bahwa melalui pengembangan yang dilakukannya, mampu menjadikan Assemblr Metaverse sebagai one-stop metaverse platform.

Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Assemblr, Hasbi Asyadiq, mengungkapkan setiap pengguna dapat mengakses metaverse melalui browser web. Dengan kemudahan seperti itu, pengguna bisa menggunakan fitur suara untuk berdiskusi dan bertransaksi di platform.

“Pengguna tidak perlu meng-install aplikasi apapun atau menggunakan headset virtual reality (VR) untuk mengeksplorasi dunia maya,“ jelasnya. 

Lebih lanjut, Hasbi menjelaskan bahwa dalam platform tersebut terdapat beberapa fitur yang bisa dimanfaatkan. Mulai dari kustomisasi avatar secara gratis dan ekslusif, hingga kepemilikan ruang virtual yang bisa disesuaikan dengan profil dan keinginan.

Meskipun layanan ini berbasis web, pengguna tetap bisa mengaksesnya menggunakan ponsel, laptop ataupun headset VR bagi yang sudah memiliki. Hadirnya layanan ini dipercaya bisa menjadi jembatan bagi masyarakat Indonesia untuk lebih mudah mengakses Web3.

Baca Juga: Bank Indonesia Sebut Rupiah Digital Bisa Digunakan di Metaverse

Kerja Sama dengan Tekotok

Untuk memperkuat konten, Assemblr juga sudah memiliki segudang rencana. Perusahaan mengaku sudah menjalin kolaborasi dengan 15 intellectual property (IP) dan merek. Beberapa di antaranya merupakan kreator yang terkenal di jagat maya, seperti Tekotok dan Vernalta.

Tekotok sendiri merupakan konten animasi yang memiliki 3,03 juta subscriber di kanal YouTube. Konten yang disajikan Tekotok selama ini kerap membahas isu sosial yang terjadi di masyarakat. Dengan adanya sinergitas tersebut pengguna bisa menjelalah ruang virtual masing-masing kreator untuk melihat dan bertemu dengan karakter yang ada.

Selain itu, setiap kreator juga akan menyediakan avatar 3 dimensi yang bisa didapatkan secara ekslusif oleh pengguna.

Untuk dipahami, aturan terkait metaverse maupun non-fungible-token (NFT) belum terbentuk secara jelas di Indonesia. Regulator masih berkutat dalam aturan kripto dan pemanfaatan blockchain.

Baca Juga: Garap Metaverse dan Web3, Huawei Cloud Bentuk Aliansi Strategis

Metaverse Banyak Digunakan untuk Bermain Game

Ilustrasi game web3 | BeInCrypto

Pemanfaatan metaverse sejauh ini kerap digunakan oleh para peritel untuk masuk dan memasarkan produknya. Namun, berdasarkan data PricewaterhouseCopper (PwC), ternyata adopsi dunia virtual ini sebagai salah satu channel untuk berbelanja masih dalam tahap awal.

Sebanyak 26% responden dari survei PwC mengaku menggunakan platform virtual tersebut untuk hiburan, mendapatkan pengalaman virtual, dan membeli produk. Sementara mereka yang menggunakan metaverse untuk mendapatkan kepuasan dalam VR, yakni dengan bermain game ataupun menonton film, mencapai 10%.

“Penggunaan metaverse untuk membeli produk digital, seperti NFT, hanya mencapai 9%,“ tulis PwC dalam riset.

Global Metaverse Leader dan Chief Innovation Officer PwC AS, Roberto Hernandez, menambahkan bahwa metaverse mampu menghadirkan peluang signifikan untuk transformasi bisnis. Layanan tersebut bisa menjadi salah satu cara untuk memperluas pengalaman berbelanja, serta meningkatkan keterlibatan dengan generasi muda.

“Dalam 6 bulan terakhir, satu dari empat konsumen sudah menggunakan metaverse. Hal itu menunjukkan bahwa teknologi menjadi bagan yang lebih menonjol dar pengalaman konsumen,“ tutup Hernandez.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa...
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori