Lihat lebih banyak

Susul Jepang, Filipina Siap Gelar Pendidikan Khusus Blockchain

3 mins
Diperbarui oleh Lynn Wang
Gabung Komunitas Trading Kami di Telegram

Ringkasan

  • Universitas Ateneo De Manila di Filipina mengikat kerja sama dengan nChain untuk memasukkan pendidikan blockchain dalam kurikulum mereka.
  • Rencananya, Universitas Ateneo De Manila akan menyediakan kursus terkait blockchain di semester dua tahun ini.
  • Selain itu, nChain juga akan mendukung penelitian terkait blockchain yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat PhD dengan memberikan hibah akses IP yang dipatenkan. 
  • promo

Terlepas dari kontroversi akan kehadiran aset kripto, beberapa negara sepertinya sudah sepakat bahwa blockchain, teknologi yang ada di belakang kripto, merupakan aset masa depan yang harus dikembangkan. Baru-baru ini, sebuah lembaga pendidikan yang berbasis di Manila, Filipina mengikat kerja sama dengan platform blockchain untuk memasukkan teknologi baru tersebut dalam kurikulum pendidikannya.

Sinergitas yang terjalin antara Universitas Ateneo De Manila dan platform blockchain nChain sengaja dibangun untuk bisa menjadi penentu kerangka kerja dalam masa depan Filipina. Keduanya sudah menandatangani nota kesepahaman terkait pengembangan yang akan dilakukan. Rencananya, Universitas Ateneo De Manila akan menyediakan kursus terkait blockchain di semester dua tahun ini.

Selain itu, nChain juga akan mendukung penelitian terkait blockchain yang dilakukan oleh mahasiswa tingkat PhD dengan memberikan hibah akses IP yang dipatenkan. 

Kepala Ateneo Blockchain Laboratory, Christian Pulmano, mengungkapkan kolaborasi ini dimaksudkan untuk memperluas program blockchain yang ada di Universitas lewat inisiatif pendidikan, peningkatan kapasitas dan penelitian.

“Teknologi blockchain berpotensi digunakan sebagai alat pemecahan masalah yang banyak dialami oleh masyarakat. Kami ingin melakukan eksplorasi teknologi tersebut dengan tujuan akhir pembangunan bangsa,” jelasnya dalam keterangan resmi (15/3).

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan nChain memberikan bukti empiris tentang penggunaan blockchain dan manfaat sosial terhadap ekonomi serta teknologi. 

Ketua nChain Grup, Stefan Matthews, menambahkan kerja sama yang dilakukan dengan Universitas Ateneo De Manila merupakan inisiatif pertama yang dilakukan perusahaan. Dengan begitu, diharapkan dapat memperluas adopsi blockchain sesuai dengan tujuan pemerintah Filipina.

“Perusahaan bermaksud untuk berfokus pada blockchain dan transisi Filipina ke Web3,” tambahnya.

Bersaing dengan Negara Lain

Langkah yang dilakukan Filipina sudah lebih dulu dilakukan oleh beberapa negara lain. Seperti Jepang, misalnya. Pada pertengahan tahun lalu, University of Tokyo (Todai) meluncurkan program studi khusus metaverse

Bidang studi tersebut akan berjalan seperti kursus. Dalam skema seperti demikian, para peminat metaverse bisa mengikuti kelas khusus untuk memahami definisi, cara kerja, dan pengembangan yang bisa dilakukan dalam metaverse. Program ini tidak hanya ditujukan untuk mahasiswa, namun siswa sekolah menengah pertama hingga karyawan juga bisa mengikuti program tersebut.

Program tersebut akan dilangsungkan di metaverse sendiri. Sehingga setiap pelajar dapat merasakan sensasi belajar di metaverse secara langsung.

Tidak mau kalah, Binus University, lembaga pendidikan asal Indonesia, juga ikut masuk mengembangkan pendidikan Web3, khususnya metaverse. Binus mewujudkan hal tersebut dengan menggandeng entitas pengembang ruang maya asli Indonesia, yakni WIR Group. 

Dalam keterangannya, Binus berniat membawa proses belajar metaverse menggunakan konsep gamification. Chief Executive Officer (CEO) Nusameta, entitas usaha dari WIR Group yang berbasis metaverse, Stephen Ng, menambahkan masuknya Binus ke Web3 menambah panjang deret lembaga di sektor pendidikan, riset, dan penelitian yang memanfaatkan teknologi tersebut.

Dorongan Besar untuk Memasukkan Pendidikan Kripto dan Blockchain

Wemix Abu Dhabi Blockchain

Berbagai inisiatif pendidikan blockchain dan kripto sejalan dengan hasil riset yang dilakukan oleh Study.com. Riset itu mengungkapkan bahwa 68% orang tua yang memiliki kripto ingin pendidikan kripto masuk dalam kurikulum sekolah. Sementara itu, bagi mereka yang berinvestasi di blockchain, sebanyak 39% di antaranya juga berkeinginan untuk memasukkan pemahaman tentang blockchain di pendidikan formal. 

Hal tersebut menunjukkan tingginya korelasi antara instrumen investasi orang tua dan pendidikan dasar yang diharapkan diperoleh anak-anaknya. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa pendidikan kripto setidaknya bisa dimulai pada sekolah menengah.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Platform kripto terbaik di Indonesia | Juni 2024

Trusted

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

BIC_userpic_sb-49-profil.jpg
Adalah seorang penulis dan editor yang pernah berkiprah di banyak media ekonomi dan bisnis. Memiliki pengalaman 7 tahun di bidang konten keuangan, bursa dan startup. Percaya bahwa blockchain dan Web3 akan menjadi peta jalan baru bagi semua sektor kehidupan
READ FULL BIO
Disponsori
Disponsori