Data inflasi AS untuk Mei 2026 sebagian besar sesuai dengan perkiraan, menunjukkan tekanan utama yang tetap tinggi, namun momentum inflasi inti mulai mereda.
Laporan ini hadir di momen yang sangat penting bagi aset berisiko, karena Bitcoin sedang bergerak di dekat level psikologis US$60.000 dan pasar sangat sensitif terhadap ekspektasi kebijakan The Fed.
Data Inflasi: Energi Membuat Inflasi Utama Tetap Tinggi
Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen di AS naik 0,5% secara bulanan, persis seperti yang diperkirakan ekonom, menurut data resmi Bureau of Labor Statistics.
Secara tahunan, inflasi tetap di 4,2%, tidak berubah dari proyeksi konsensus namun masih menjadi salah satu level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Ini membuat inflasi berada lebih dari dua poin persentase penuh di atas target The Fed yang sebesar 2%.
Ikuti kami di X untuk memperoleh kabar terbaru secara langsung
Inflasi utama yang bertahan tinggi masih mencerminkan harga energi yang juga tetap tinggi, karena dipengaruhi ketegangan geopolitik dan volatilitas di pasar minyak dunia belakangan ini.
Meskipun hal ini membuat inflasi secara umum tetap tinggi, pasar sudah banyak mengantisipasi hasil ini sebelum data dirilis.
“Ekspektasi terpenuhi dengan rilis CPI AS bulan Mei yang mencatat +0,5%, sehingga ketidakpastian ekonomi makro langsung pun mereda. Namun, setelah penjualan besar-besaran di pasar kripto sebelum rilis data, analis memperkirakan akan ada relief bounce jangka pendek pada beberapa aset kripto yang sudah oversold dalam beberapa hari ke depan,” ujar Stephen Wundke kepada BeInCrypto.
Wundke adalah Strategy and Revenue Director di Algoz Technologies.
Inflasi Inti Lebih Rendah dari Ekspektasi
Yang lebih penting bagi arah kebijakan The Fed, CPI inti hanya naik 0,2% secara bulanan, di bawah ekspektasi kenaikan 0,3%.
Secara tahunan, inflasi inti tercatat 2,9%, persis seperti yang diprediksi dan menunjukkan akselerasi terbatas dibanding bulan-bulan sebelumnya.
Data inflasi inti yang lebih lembut ini memberikan sinyal bahwa tekanan harga di luar sektor makanan dan energi tidak semakin melebar secara signifikan.
Inflasi di sektor hunian dan jasa memang masih tinggi, namun belum mengalami percepatan lagi sehingga kekhawatiran terjadinya siklus inflasi yang terus-menerus pun mereda.
“John Briggs, kepala strategi suku bunga AS di Natixis North America, mengatakan bahwa data inflasi inti bulanan yang lebih lembut ini bisa menandakan puncak inflasi akibat perang telah berlalu. Ia menambahkan, ini dapat mendukung proyeksi inflasi yang lebih baik ke depannya, namun memperingatkan tren ini sangat bergantung pada harga minyak yang harus tetap stabil agar tidak kembali memicu tekanan inflasi,” terang Walter Bloomberg melalui laporannya.
Bitcoin dan Pasar Kripto Bereaksi Terhadap Sinyal Campuran
Bitcoin tetap bergerak volatil di atas level US$61.600, saat para trader menimbang dampak dari kombinasi inflasi utama yang panas namun inflasi inti yang melunak.
Data ini mengurangi kemungkinan pengetatan kebijakan The Fed dalam waktu dekat, namun belum sepenuhnya membuka peluang untuk pemotongan suku bunga.
Bagi pasar kripto, poin utamanya adalah soal ekspektasi likuiditas. Inflasi inti yang lebih lemah menurunkan kekhawatiran pengetatan agresif sehingga mendukung sentimen risiko.
namun, inflasi utama yang terus bertahan tinggi tetap membuat ketidakpastian ekonomi makro meningkat, sehingga membatasi keyakinan reli yang kuat.
Sementara itu, Iggy Ioppe, CIO Theo, sebelumnya dari Credit Suisse dan Vinik Asset Management, menilai rilis data ini membentuk latar makro penting untuk emas maupun Bitcoin.
“Bagi emas, tekanan tetap ada. Real yield masih jadi variabel kunci, dan tanpa pemotongan suku bunga dalam waktu dekat, biaya peluang memegang aset tanpa yield tetap tinggi. Untuk Bitcoin, hasil data yang sesuai ekspektasi juga tidak akan menjadi pemicu besar, karena ekspektasi likuiditas tetap terbatas dan aset berisiko lebih banyak bergerak berdasarkan posisi pasar daripada sentimen dovish baru,” papar Ioppe kepada BeInCrypto.
Menurut Ioppe, inilah alasan pembahasan mengenai emas mulai beralih dari momentum harga.
“Di kondisi suku bunga tinggi dalam waktu lama seperti saat ini, pertanyaannya apakah investor ingin eksposur pasif sesuai arah harga emas, atau lebih memilih strategi terkait emas yang mampu menghasilkan yield dari aktivitas pasar yang nyata,”
Proyeksi The Fed dan Apa yang Akan Terjadi Berikutnya
The Fed secara luas diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan saat ini dalam waktu dekat, dengan pasar masih memperkirakan lingkungan suku bunga “tinggi lebih lama”.
Dengan pasar kini menimbang apa arti data ini terhadap ekspektasi pemangkasan The Fed, real yield, kondisi likuiditas, dan juga peluang strategi yield berbasis emas, Ioppe menambahkan bahwa:
“CPI yang sesuai ekspektasi hari ini membuat The Fed tetap berhati-hati, bergantung pada data, dan tidak terburu-buru untuk melakukan pemangkasan suku bunga. setelah rilis data payroll yang panas pekan lalu, pasar sudah tidak lagi menganggap bulan Juni sebagai waktu pemangkasan yang aktif, dan hasil hari ini mengonfirmasi repricing itu, bukan membalikkannya,” terang Ioppe.
Data hari ini menegaskan adanya narasi terbelah: inflasi yang didorong energi masih tinggi, sedangkan inflasi inti mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi.
Apa Berikutnya untuk Pasar
Sekarang sorotan beralih ke komunikasi terbaru dari The Fed dan data pasar tenaga kerja yang akan datang.
Bagi Bitcoin, level US$60.000 tetap menjadi pivot psikologis kunci, dan kondisi likuiditas makro kemungkinan besar akan menentukan apakah aset ini akan konsolidasi atau breakout ke tren baru.
“Dengan konflik di Timur Tengah yang masih belum berakhir dan harga energi yang tetap tinggi, tekanan semakin besar pada bank sentral untuk mengambil sikap kebijakan yang lebih ketat. Pengetatan likuiditas di saat yang sama ketika perusahaan teknologi megacap ingin mengumpulkan ratusan miliar dolar membuat kondisi pasar menjadi rapuh dan sangat volatil,” papar Stephen Coltman, Kepala Makro di 21shares.









