Makin Tertekan, Amber Group Lanjutkan Perampingan Karyawan yang Ada di Hong Kong

19 Januari 2023, 17:15 WIB
Diperbarui oleh Lynn Wang
19 Januari 2023, 22:39 WIB
Ringkasan
  • Sekitar setengah dari total jumlah karyawan Amber Group yang ada di Hong Kong harus rela mengalami PHK.
  • Hal tersebut diklaim terpaksa dilakukan sebagai salah satu upaya untuk bisa bertahan hidup di tengah kegalauan pasar.
  • Kendati demikian, CEO Amber Group masih percaya diri bahwa mereka akan menjadi salah satu dari sedikit perusahaan layanan kripto besar yang tersisa pasca crypto winter mereda.

Sekitar setengah dari total jumlah karyawan Amber Group yang ada di Hong Kong harus rela mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Hal tersebut diklaim terpaksa dilakukan sebagai salah satu upaya untuk bisa bertahan hidup di tengah kegalauan pasar.

Krisis keuangan yang melanda Amber Group, perusahaan manajer aset digital asal Singapura, masih terus terjadi. Perusahaan dikabarkan melanjutkan aksinya untuk merampingkan struktur pegawainya menjadi 40 pegawai. Kali ini, cabang bisnis Amber Group di Hong Kong yang terkena giliran.

Ini bukanlah kali pertama perusahaan melakukan pemangkasan jumlah tenaga kerja. Sebelumnya, pada akhir tahun lalu, Amber Group juga sudah melakukan berbagai penyesuaian, termasuk memangkas biaya sponsorship dan menghentikan 40% karyawannya.

Perusahaan yang didukung beberapa raksasa investor global, seperti Sequoia Capital China dan Temasek Holdings, itu bahkan sampai membatalkan kesepakatannya dengan salah satu klub bola asal Inggris, yakni Chelsea Football Club, demi bisa menekan biaya operasional.

Menurut pengakuan salah seorang sumber, perampingan yang Amber Group lakukan di Hong Kong juga dibarengi dengan pemangkasan biaya dan juga pekerjaan pendukung. Termasuk di dalamnya lingkup pekerjaan yang berhubungan dengan teknologi informasi (TI), manajemen risiko, serta audit dan kepatuhan.

“Tim kepatuhan yang sedarinya berjumlah 20 orang, kini hanya dihuni oleh 5 orang pegawai. Di samping itu, Amber Group juga merelokasi kantornya yang awalnya berada di distrik pusat kota ke wilayah yang lebih murah di Causeway Bay,” jelas sumber tersebut.

Tekanan keuangan yang dialami Amber Group dikatakan sampai membuat perusahaan menunda pembayaran tagihan pihak ketiga; meliputi pembayaran untuk perusahaan layanan teknologi hingga pembayaran konsultan dan tagihan perekrutan.

Amber Group Sempat Raup Pendanaan Lebih dari Rp4 Triliun

Gagal Bayar Utang Senilai US$3,4 Juta, Blockwater Dinyatakan Default oleh TrueFi Amber Group

Managing Partner Amber Group, Annabelle Huang, pernah mengungkapkan bahwa aksi PHK yang dilakukan perusahaan sudah berlangsung sejak Juni tahun lalu dan hal tersebut merupakan bentuk dari penyesuaian komposisi tim. Namun, ternyata aksi tersebut masih berlangsung sampai berganti tahun. Sumber tersebut juga menyebutkan bahwa Amber Group telah melewati masa kejayaannya di tahun 2021 lalu.

Menariknya, aksi perampingan karyawan tetap terjadi meskipun Amber Group memperoleh pendanaan jumbo. Pada 16 Desember 2022, Amber berhasil menutup putaran pendanaan Seri C dengan perolehan dana segar sebesar US$300 juta atau lebih dari US$4 triliun. Aliran dana yang masuk dipimpin oleh Fenbushi Capital AS, beberapa investor kripto, dan family office.

Meskipun begitu, aksi perampingan tetap tidak terelakkan. Karena ternyata modal tambahan tersebut akan digunakan pada pelanggan yang kehilangan uangnya di Amber Group imbas dari ledakan FTX.

Berusaha Genjot Efisiensi

Chief Executive Officer (CEO) Amber Group, Michael Wu, mengungkapkan total karyawan perusahaannya akan menyusut menjadi 300 orang. Jumlah tersebut setara dengan jumlah karyawan pada akhir tahun 2020 dan awal 2021.

Mereka mengakui bahwa untuk menghadapi dinamika pasar yang menantang, penghematan biaya operasional wajib dilakukan. Selain itu, layanan bisnis juga difokuskan pada klien insitusional dan berpenghasilan tinggi.

Amber Group menjelaskan bahwa berbagai langkah dilakukan untuk mengantisipasi dan mempersiapkan diri terhadap kondisi dengan sangat konservatif. Dalam informasi terbarunya, perusahaan menuturkan bahwa kantor yang ada di wilayah Hong Kong tetap beroperasional seperti biasa dan saat ini memiliki lebih dari 100 karyawan.

Wu percaya diri bahwa mereka akan menjadi salah satu dari sedikit perusahaan layanan kripto besar yang tersisa pasca crypto winter mereda. Hal itu memperlihatkan bahwa Amber Group masih optimistis terhadap prospek jangka panjang perusahaan.

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Yuk, sampaikan pendapat Anda di grup Telegram kami. Jangan lupa follow akun Instagram BeInCrypto Indonesia, agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar dunia kripto!

Penyangkalan

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs kami merupakan tanggung jawab mereka pribadi.